Ilustrasi energi terbarukan. Foto: Antara/Idhad Zakaria
Ilustrasi energi terbarukan. Foto: Antara/Idhad Zakaria

Menteri ESDM Beberkan Tantangan Pengembangan Pembangkit EBT

Ekonomi pembangkit listrik Kementerian ESDM Energi Terbarukan
Suci Sedya Utami • 23 September 2020 12:04
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan penambahan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028 sebesar 16,7 gigawatt (GW).
 
Arifin mengatakan hingga saat ini kapasitas pembangkit EBT terpasang baru sebesar 10,43 GW per Juni 2020. Dirinya pun membeberkan beberapa tantangan spesifik dalam pengembangan pembagkit EBT di Tanah Air.
 
Pertama, harga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit EBT relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit konvensional yakni Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan bahan baku batu bara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harga EBT masih relatif cukup tinggi dibandingkan dengan pembangkit konvensional," kata Arifin dalam acara PLN International Conference 2020 secara daring, Rabu, 23 September 2020.
 
Selain itu, pembangkit EBT yang bersifat intermittent Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) memerlukan kesiapan sistem untuk dapat menerima masuknya pembangkit tersebut. Artinya, perlu adanya pembangkit pendamping di sistem yang berfungsi sebagai cadangan putar atau spinning reserve untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik.
 
Tantangan lainnya, kata Arifin, pembangkit EBT yang least cost dan capacity factor-nya bagus seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) umumnya terletak pada daerah-daerah yang jauh dari pusat beban. Sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama dalam pembangunan.
 
"Akibat terkendala antara lain menyangkut perizinan, kendala geografis dan keadaan yang kritis," ujar Arifin.
 
Tantangan selanjutnya, lanjut mantan Dubes Indonesia untuk Jepang ini, yakni bagi pengembangan pembangkit biomassa maupun biogas memerlukan jaminan pasokan feedstock selama masa operasi.
 
Bauran EBT
 
Sementara itu, untuk mencapai target bauran energi yang ditetapkan dalam UU APBN 2020, pemerintah merencanakan penambahan smart grid. Pemasangan smart grid telah diamanatkan dalam Perpres 18 Tahun 2020 dan merupakan salah satu solusi yang harus diterapkan.
 
Manfaat pengembangan smart grid antara lain penyaluran tenaga listrik lebih efisien, pemulihan gangguan lebih cepat, penurunan biaya operasi dan pengelolaan bagi perusahaan listrik yang pada akhirnya akan dapat menurunkan tarif listrik, mengendalikan beban puncak yang dapat membantu menurunkan tarif listrik, peningkatan integrasi energi terbarukan skala yang besar, dan peningkatan keamanan sistem tenaga listrik.
 
Pengembangan smart grid telah dilakukan di Pulau Jawa dan di luar seperti telah di Selayar, Tahuna, Medang, Semau, Bali eco smart grid-Lora, smart micro grid-Sumba Green Island.
 
"Tentu saja seluruh program ini akan terus berkelanjutan sehingga Indonesia bisa menghasilkan target elekrifikasi yang sempurna yang dapat dinikmati masyarakat," jelas Arifin.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif