Ilustrasi.  Tempurung kelapa sedang dibersihkan sebelum dibakar dijadikan arang. (Foto: Antara/Syifa Yulinnas)
Ilustrasi. Tempurung kelapa sedang dibersihkan sebelum dibakar dijadikan arang. (Foto: Antara/Syifa Yulinnas)

Kementan Fokus Genjot Ekspor Coconut Charcoal

Ekonomi berita kementan
Gervin Nathaniel Purba • 10 April 2020 15:14
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) tetap konsisten dan terus menggenjot produksi dan ekspor komoditas perkebunan meskipun sedang menghadapi pandemi virus korona (covid-19). Salah satu komoditas perkebunan yang sedang difokuskan ialah produk turunan kelapa utamanya coconut charcoal. Upaya ini sejalan dalam akselerasi Gerakan Peningkatan Ekspor tiga kali lipat (Gratieks) hingga 2024.
 
Coconut charcoal banyak dimanfaatkan selain untuk bahan obat dan farmasi, juga digunakan sebagai bahan bakar shisha/hookah atau rokok Arab di Kawasan timur tengah. Sedangkan di Kawasan Eropa digunakan sebagai bahan bakar BBQ/barbaque,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2020.
 
Potensi kelapa Indonesia sebagai produsen nomor satu di dunia perlu dimanfaatkan dengan memperkuat hilirisasi dalam menghasilkan produk-produk turunan kelapa yang dapat memberikan nilai tambah langsung ke petani, serta memperluas akses pasarnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam data BPS yang diolah Ditjen Perkebunan 2019, menunjukkan ekspor arang kelapa Indonesia, termasuk di dalamnya coconut charcoal sebesar 188,05 ribu ton, dengan nilai ekspor mencapai USD145,09 juta.
 
“Produk arang kelapa Indonesia paling banyak diekspor ke Tiongkok, Brasil, Jerman, Lebanon, Malaysia, Belanda, Rusia, Arab Saudi, Srilanka, dan Vietnam,” kata Kasdi.
 
Salah satu pelaku usaha atau industri pengolahan coconut charcoal, PT Tom Cococha Indonesia yang berlokasi di Tujurhalang, Bogor, pada Maret hingga April 2020 tetap berproduksi untuk memenuhi permintaan pasar Eropa dan Timur Tengah.
 
Menurut Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia Asep Jembar Mulyana, saat ini, supply bahan baku masih lancar dan sebagian besar didapat dari petani kelapa di daerah Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
 
“Bahan baku terus dikirim dengan jumlah dua hingga tiga truk per hari, untuk memenuhi order ekspor beberapa bulan ke depan. Sejauh ini, volume ekspor mencapai 500 ton per bulan dan akan ditingkatkan menjadi 1.000 ton per bulan”, kata Asep.
 
Selanjutnya, pada 6 April 2020 dilakukan stuffing container ekspor ke Belgia dengan volume 18 ton, lalu pada 7 April 2020 dilakukan stuffing untuk pasar ekspor Irak, dan sejumlah negara di Eropa dengan volume sebesar 45 ton. Sedangkan pada 8 April 2020 dilakukan stuffing container ekspor ke Valencia, Spanyol sebesar 18 ton.
 
“Kebutuhan arang kelapa atau briket sangat prospektif dan berpotensi dilakukan perluasan pasar, karena sampai saat ini produk briket dunia terutama BBQ masih dikuasai arang kayu. Negara-negara maju yang merupakan konsumen terbesar akan produk ini sadar betul berapa besar kerusakan hutan atau pohon-pohon yang ditebang untuk keperluan arang briket. Sehingga ke depan, potensi coconut charcoal ini dapat menjadi produk substitusi dari arang kayu yang tidak merusak alam dan aman lingkungan,” kata Kasdi.
 
Kasdi menyatakan bahwa perlunya memperluas akses pasar untuk ekspor arang kelapa dan produk turunan kelapa lainnya dengan nilai tambah yang tinggi tetapi belum banyak di kembangkan di Indonesia seperti VCO, dessicated coconut, sabut kelapa, asap cair, isotonic water, CCO, dan minyak goreng kelapa. Hal ini disebabkan selama ini Indonesia lebih banyak mengekspor mentah atau setengah jadi seperti kopra, kemudian proses nilai tambah dilakukan negara lain.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif