Ilustrasi. Foto: Antara/Syahrizal
Ilustrasi. Foto: Antara/Syahrizal

Dirut KAI Akui KA Jarak Jauh Masih Kurang Peminat

Ekonomi pt kai Kenormalan Baru
Annisa ayu artanti • 30 Juni 2020 12:45
Jakarta: Masyarakat masih enggan melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan moda transportasi kereta meskipun sudah ada pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
 
Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo karena jumlah penumpang masih cenderung sedikit dibandingkan dengan hari normal.
 
"Kita coba operasi KA jarak jauh, namun karena ada protokol kesehatan itu belum menimbulkan minat bepergian," kata Didiek dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR-RI di Komplek Parlemen, Selasa, 30 Juni 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Protokol kesehatan seperti rapid test dan kewajiban memiliki berkas Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) suatu daerah membuat masyarakat enggan melakukan perjalanan.
 
Biasanya, lanjut Didiek, masyarakat baru akan melakukan perjalanan jika ada urgensi dan kebutuhan mendesak yang terjadi pada keluarganya.
 
"Kalau ada orang tua sakit atau meninggal jadi mereka baru lakukan perjalanan," ujarnya.
 
Berdasarkan data KAI, sejak dioperasikan KA Reguler Jarak Jauh pada 12 Juni 2020 hingga 26 Juni, KAI telah melayani 379.109 penumpang yang terdiri dari 47.924 penumpang KA Jarak Jauh dan 331.185 KA Lokal.
 
Di sisi lain, Didiek juga menyampaikan bahwa pendapatan operasional KAI dari penjualan tiket belum pulih. Pada hari normal pendapatan KAI bisa mencapai Rp23 miliar. Saat ini hanya sekitar Rp300 juta sampai Rp400 juta.
 
"Sekarang sangat minim operasi. Kami hanya tujuh persen. Dalam satu hari Rp23 miliar. Sekarang ini Rp300 juta atau Rp400 juta," tukasnya.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif