NEWSTICKER
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) MI/Panca
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) MI/Panca

PGN Siap Jalankan Penurunan Harga Gas Industri 1 April

Ekonomi perusahaan gas negara (pgn) kementerian esdm
Suci Sedya Utami • 18 Maret 2020 18:13
Jakarta: PT Perusahaan Gas Negara (PGN) siap menjalankan kebijakan harga gas industri sesuai Pepres 40 Tahun 2016 yang akan mulai diterapkan pada 1 April mendatang.
 
Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama mengatakan saat ini PGN masih menunggu aturan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyesuaikan harga gas seperti yang diamanatkan dalam Perpres.
 
Dalam Perpres tersebut, harga gas ditetapkan maksimal sebesar USD6 per MMBTU. Saat ini harga jual gas industri di lapangan mencapai USD8-USD9 per MMBTU atau melebihi harga yang ditetapkan pemerintah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami masih menunggu formal assignment dari kementerian teknis untuk adjustment terkait komersial dan proses administrasi, baik pada pemasok dan pelanggan," kata Rachmat dalam keterangan resmi, Rabu, 18 Maret 2020.
 
Rachmat mengatakan sebagai subholding gas, PGN mendukung kebijakan yang telah diputuskan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo tersebut. Ia mengatakan penurunan harga gas diharapkan bisa menjadi stimulus bagi dunia industri untuk meningkatkan ekonomi nasional yang berdaya saing.
 
"Penerima insentif harga gas industri harus mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia," jelas Rachmat.
 
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pemerintah menambahkan satu sektor yang juga bisa mendapatkan harga gas sebesar USD6 per MMBTU, yakni kelistrikan. Sebelumnya hanya ada tujuh industri dalam Perpres 40 yang berhak menerima harga tersebut di antaranya industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik kaca, dan sarung tangan karet.
 
Arifin mengatakan penurunan harga gas tersebut juga diterapkan untuk sektor kelistrikan dalam rangka menyediakan listrik yang terjangkau bagi masyrakat dan mendukung pertumbuhan industri. Arifin memastikan penambahan sektor kelistrikan tidak akan berpengaruh signifikan bagi beban keuangan negara.
 
Meskipun ia tidak menampik jika bakal terdapat pengurangan penerimaan pemerintah di hulu migas. Namun, terdapat tambahan pendapatan pemerintah dari pajak dan dan dividen, penghematan subsidi listrik, pupuk dan kompensasi PLN, serta terdapat penghematan karena konversi pembangkit listrik dari diesel ke gas.
 
Selain itu, penurunan pendapatan di sisi transportasi dan distribusi gas akan dikompensasi antara lain dengan jaminan pasokan gas, tambahan pasokan gas, dan efisiensi perusahaan.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif