Ilustrasi. Foto: MI/Gino
Ilustrasi. Foto: MI/Gino

Kemenperin Usulkan Strategi Hilirisasi Industri Oleokimia

Ekonomi minyak sawit Kementerian Perindustrian Hilirisasi Industri
Husen Miftahudin • 10 September 2021 12:19
Jakarta: Sektor industri oleokimia berbasis pengolahan minyak sawit menghasilkan produk yang sangat diminati konsumen global di masa pandemi. Di antaranya adalah produk oleokimia sabun dan glycerine (bahan baku hand sanitizer) yang dipakai untuk kebersihan dalam rangka memutus rantai penyebaran virus covid-19.
 
Terkait hal tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan strategi hilirisasi bagi industri oleokimia. Hilirisasi dimulai dengan momentum pertama melalui penerbitan PMK Nomor 128 Tahun 2011 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.
 
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan beberapa faktor bisa menjadi penggerak hilirisasi, seperti perubahan tren konsumen global yang lebih memilih produk terbarukan dan ramah lingkungan, kesadaran tinggi akan sanitasi diri pribadi dan lingkungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Serta mengutamakan modernitas produk nabati berkinerja tinggi dengan harga yang terjangkau, sektor industri oleokimia berpeluang mendapatkan momentum kedua yang punya magnitude lebih tinggi bagi pertumbuhannya," ujar Putu dalam siaran persnya, Jumat, 10 September 2021.
 
Untuk itu, Kemenperin mengusulkan tiga strategi hilirisasi industri oleokimia di era pertumbuhan industri yang berkualitas dan berkelanjutan. Pertama, perluasan kapasitas produksi dan efisiensi biaya produksi pasca kelanjutan Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu.
 
Kedua, efisiensi bahan baku minyak sawit untuk industri oleokimia melalui penggunaan minyak nabati industri IVO/ILO (Industrial Vegetable Oil/ Industrial Lauric Oil), menggantikan jenis CPO/CPKO food grade yang tentunya berharga lebih tinggi. Pada 2019, Kemenperin telah memfasilitasi penerbitan standarisasi kualitas produk IVO/ILO melalui SNI No. 8875:2020 minyak nabati industri sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar hijau (green fuel).
 
Selanjutnya yang ketiga, Kemenperin mengusulkan agar para pelaku industri melakukan komersialisasi hasil riset produk hilir oleokimia menjadi skala industri dengan dibantu jasa fasilitas pilot plant industri yang sedang dibangun di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor milik Kemenperin.
 
"Pemangku kepentingan bisa memanfaatkan layanan jasa industri berupa pilot plant tersebut untuk mengangkat Tingkat Kesiapan Teknologi dan Tingkat Kesiapan Manufaktur. Hal ini agar hasil pengembangan teknologi oleokimia tidak terhambat proses antara riset skala laboratorium menuju ke komersialisasi industri, atau yang dikenal sebagai fenomena valley of death," tutur Putu.
 
Adapun pada 2020, total produksi minyak sawit nasional (CPO dan CPKO) mencapai 52,14 juta ton. Sedangkan menurut data Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), volume ekspor oleokimia pada Januari-Mei 2021 tumbuh 10,47 persen menjadi 1.664 juta ton, atau senilai USD1.536 juta, dibandingkan periode yang sama pada 2020.
 
Pengolahan minyak sawit di Indonesia juga berpredikat unggul, bisa dilihat dari pergeseran ratio volume ekspor produk hilir dengan bahan baku/minyak sawit mentah yang saat ini mencapai 85 persen berbanding 15 persen.
 
Sekitar 160 jenis produk hilir telah mampu diproduksi dalam negeri untuk keperluan pangan, fitofarmaka/nutrisi, bahan kimia/oleokimia, hingga bahan bakar terbarukan/Biodiesel FAME.
 
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif