Ilustrasi petani lada. Foto: dok MI/Eva Pardiana.
Ilustrasi petani lada. Foto: dok MI/Eva Pardiana.

Harga Komoditas Turun, Masyarakat Bisa Cari Produk Substitusi Pangan

Ekonomi pangan ketahanan pangan komoditas
Ade Hapsari Lestarini • 17 November 2020 12:50
Jakarta: Dampak terjadinya pandemi covid-19 berpotensi memunculkan krisis pangan yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan suatu negara.
 
Namun demikian, Anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar DPR-RI Panggah Susanto belum melihat adanya krisis pangan. Akan tetapi dia tidak menampik terjadinya penurunan tajam terhadap sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah di Indonesia.
 
"Ada beberapa produk pangan yang harganya turun tajam di sejumlah daerah di Indonesia, di Jawa Tengah seperti di Pekalongan, Temanggung, Pemalang, sampai Purworejo, seperti harga singkong (ketela), dan juga kopi mengalami penurunan. Namun kami tidak melihat kondisi tersebut berdampak pada terjadinya krisis pangan, karena masyarakat masih dapat mencari produk substitusi pangan," kata dia, dalam keterangan resminya, Selasa, 17 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menduga turunnya harga komoditi ini berkorelasi dengan daya beli masyarakat yang turun. Sebab apabila daya beli konsumen mengalami penurunan, maka akan berdampak secara luas.
 
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah ini menyoroti masalah pendapatan masyarakat yang turun, atau banyak yang kehilangan mata pencaharian di masa pandemi covid-19. Dirinya pun mendukung pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam bentuk bantuan sosial dan bantuan tunai.
 
"Tujuannya untuk mengatasi ketahanan pangan di dalam negeri. Namun perlu dimonitor juga untuk mengetahui, apakah bantuan pemerintah tersebut sudah optimal, demikian juga menyangkut efektivitas bantuannya," kata dia.

Kehadiran pemerintah

Secara terpisah anggota Komisi IV Fraksi Partai Gerindra DPR-RI Endang Setyawati Thohari berharap pemerintah hadir di masa pandemi saat ini, khususnya dalam menyerap kelebihan produksi para petani, yang tidak mampu terserap oleh pasar. Baik akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ataupun sebagai dampak langsung karena pandemi, sehingga hampir semua sektor usaha terkena dampaknya.
 
"Melihat kondisi ini sebaiknya pemerintah segera bertindak cepat, sebab di masa pandemi ini, para petani yang tidak pernah mengenal masa libur berproduksi, saat ini termasuk salah satu pihak yang dirugikan karena sayur-sayuran seperti tomat, daun kemangi, dan pokcoy tidak terserap oleh pasar," tambahnya.
 
Menurut dia seharusnya pemerintah memberlakukan refocusing anggaran dalam sistem produksi tanaman pangan, penerapan teknologi pascapanen, khususnya saat pemasaran terhambat saat ini. Akibat tidak adanya lagi acara perhelatan, sejumlah produk sayuran, termasuk juga aneka bunga potong untuk hiasan mengalami kerugian, akibat produksi mereka tidak terserap pasar.
 
"Kami dari anggota dewan meminta pemerintah, perlu mengubah realokasi anggaran, dari anggaran rutin yang mungkin tidak optimal, diubah alokasinya kepada subsidi angkutan produk-produk pertanian sebagai solusi. Misalnya untuk menampung bunga-bunga hiasan yang tidak terdistribusi di dalam negeri, menjadi berorientasi ekspor," jelas dia.
 
Hal ini, tambahnya,agar produk pertanian dapat dipasarkan sesuai peruntukannya. Jika tidak tersalur, pemerintah diharapkan mampu bertindak cepat menjadikannya sebagai lembaga penyangga, mengingat banyak produk pertanian yang sifatnya cepat rusak.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif