Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI

Ekonomi Politik Harus Stabil Jaga Kepercayaan Investor

Ekonomi investasi Kurs Rupiah Ekonomi Indonesia
Media Indonesia.com • 06 Januari 2021 09:07
Jakarta: Sejak November 2020, nilai tukar rupiah terpantau mulai memasuki tren penguatan yakni di level Rp14.100-14.700 per USD. Bahkan di pekan pertama 2021, penguatan rupiah semakin gesit menembus kisaran Rp13.800-13.900 per USD.
 
Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar B Hirawan menilai investor terutama yang mengincar portofolio sangat memperhatikan bagaimana pemerintah menjaga fundamental ekonomi dan menangani persoalan kesehatan di tengah pandemi.
 
"Semua indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan, khususnya sejak kuartal ketiga tahun lalu. Di kuartal keempat 2020, saya pikir pertumbuhan ekonomi akhirnya positif kembali meskipun secara total pada 2020 negatif," kata Fajar, dilansir dari Mediaindonesia.com, Rabu, 6 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para investor sederhananya melihat proses pemulihan ekonomi di Indonesia terus menunjukkan kinerja positif. Dengan demikian, investor berbondong-bondong untuk berinvestasi di Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
 
"Jadi, kepercayaan investor harus terjaga dengan memastikan stabilitas ekonomi dan politik di dalam negeri," lanjut Fajar.
 
Perdagangan di pasar modal pun secara bertahap mencatat masuknya dana asing. Dalam dua hari perdagangan di awal 2021, nilai beli bersih investor asing menyentuh Rp727 miliar. Pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.137,34 (menguat 0,53 persen). Pergerakan IHSG didorong oleh sektor pertanian dan keuangan.
 
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus menunjukkan sejumlah data yang memperlihatkan pemulihan ekonomi Indonesia. Rilis data Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia Desember 2020 meningkat menjadi 51,3 dari November di 50,6.
 
Indeks ini merupakan indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan para manajer bisnis di sektor manufaktur terhadap pemulihan ekonomi Indonesia. "Artinya, ada ekspansi dan bisa menjadi penggerak bagi industri dalam negeri yang berangsur pulih,” kata Nico.
 
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan ilustrasi sulitnya pengusaha mencari peti kemas merupakan pertanda bahwa ekspor Indonesia sudah mengalami lonjakan. “Ini sinyal positif. Indikator lain ialah naiknya harga komoditas andalan Indonesia seperti kelapa sawit, nikel, tembaga, batu bara, dan emas," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif