Ilustrasi wabah pandemi covid-19. Foto : Medcom.
Ilustrasi wabah pandemi covid-19. Foto : Medcom.

Cerita UMKM Bertahan di Tengah Pandemi

Ekonomi covid-19
Eko Nordiansyah • 17 Mei 2020 11:53
Jakarta: Sektor usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) menjadi salah satu yang terdampak imbas pandemi virus korona (covid-19). Mereka harus memutar otak untuk mempertahankan bisnisnya demi menjaga berputarnya roda perekonomian.
 
Pedagang telur di Denpasar Wayan Bagiana menceritakan pembatasan sosial di masyarakat membuatnya harus berpikir strategi bisnis yang tepat. Apalagi Wayan merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kini harus banting setir berjualan telur.
 
"Awalnya saya kerja di advertising sebelum pandemi ini, tiga bulan lalu dirumahkan tanpa gaji. Saya juga bingung saat itu mau berusaha apa? Bagaimana? Tapi untuk kelangsungan keluarga saya, saya berusaha dengan berjualan telur," kata dia dalam bincang UMKM BRInovasi #DariRumah di Jakarta, Sabtu malam, 16 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan modal awal 20 krat telur hasil meminjam rekannya, Wayan kini berjualan telur dengan metode pesan antar. Tal disangka kini dirinya bisa menjual sekitar 500 krat telur dengan dibantu permodalan dan pemasarannya oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
 
"Dengan dibantu teman lewat media sosial dan WhatsApp untuk penjualan. Sementara distribusi dan pencari peternak itu dibantu oleh BRI. Dari nasabah BRI yang memiliki peternak ayam saya dihubungkan dengan beberapa peternak sehingga tidak kesulitan lagi sekarang untuk pasokannya," jelas dia.
 
Sama seperti Wayan, pedagang telur di Palu Kasman Malik juga mendapat bantuan berjualan secara online dari BRI. Dengam omzet yang turun hampir 50 persen akibat covid-19 ini, dirinya merasa terbantu sehingga bisa meningatkan penjualannya kembali.
 
"Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi BRI yang begitu jeli melihat pasar yang ada untuk membantu rantai pasok kami yang terputus. Membantu secara online. Ini sangat membantu proses penjualan yang tadinya turun dan sekarang mulai stabil lagi," ungkapnya.
 
Sementara itu, pengusaha pangkas rambut Ronald Simangunsong yang tak bisa membuka lapaknya mengaku kini harus menawarkan jasanya dari rumah ke rumah. Dengan dibantu promosi di sosial media oleh BRI, dirinya juga mendapat bantuan berupa alat perlindungan diri (APD) untuk mendukung pekerjaanya.
 
"Kalau kita bersentuhan langsung dengan konsumen, makanya pakai APD, pakai sarung tangan dan masker. Memang sekarang ada perubahan yang semula di tempat, sekarang menerima panggilan ke rumah. Tapi dengan ini kami sudah mampu memanfaatkan peluang yang ada," pungkas Ronald.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif