Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

RI Bisa Tiru Strategi Israel Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Ekonomi pertanian Kementerian Pertanian israel
Suci Sedya Utami • 08 Maret 2021 21:13
Bandung: Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) mengimbau agar Indonesia tidak kalah dari Israel yang bisa mengekspor komoditas pertanian unggulan. Bahkan, Indonesia bisa mencontoh cara Israel dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
 
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengatakan Israel seperti layaknya negara di Timur Tengah lainnya, tidak didukung oleh lahan pertanian yang subur seperti di Indonesia. Tanah di Israel cenderung tandus dan kurang air. Namun, negara tersebut mampu menghasilkan produk pertanian yang dapat dipasarkan ke mancanegara.
 
Dedi mengatakan rahasia Israel bisa sukses di sektor pertanian yakni karena didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu menciptakan berbagai inovasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ternyata orang-orang, petani-petani Israel mampu mengubah gunung sahara (lahan tandus) menjadi ijo royo-royo. Itu karena teknologi yang sederhana, teknologi itu didapat dari otak SDM Israel yang sangat jenius," kata Dedi di Bandung, Selasa, 8 Maret 2021.
 
Ia mengatakan untuk mengatasi lahan tandus, Israel menggunakan sabut kelapa yang dicincang dan dihaluskan kemudian dicampurkan ke tanah. Untuk irigasi, karena daerah di Israel sulit untuk mendapatkan pasokan air tawar, maka negara tersebut menggunakan air laut yang telah disuling sehingga kadar garamnya berkurang. Kemudian air tersebut dialirkan ke tanah yang telah diberi sabut kelapa.
 
"Tanah tersebut akan menjadi lembab untuk jangka waktu yang lama dan menumbuhkan tanaman apapun," ujar Dedi.
 
Dedi mengatakan kunci utama untuk meningkatkan produktivitas pertanian yakni SDM. Ia bilang SDM berkontribusi sebesar 50 persen sebagai pengungkit produktivitas pertanian, mulai dari petani, penyuluh, dan eksekutor lainnya di sektor tersebut.
 
"Pengungkit terbesar bukan karena pupuk, bukan karena varietas unggul, tapi yang paling besar petani, gapoktan termasuk penyuluh. Ini yang seringkali dilupakan," ujar dia.
 
Dia melanjutkan, negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Australia, New Zealand menjadi negara maju karena dimulai dari sektor pertaniannya yang maju. Berdasarkan studi yang ia lakukan langsung ke negara-negara tersebut, sektor pertanian di sana bisa maju karena kualitas SDM-nya.
 
"Ternyata negara yang maju pertaniannya dimulai dari SDM pertanian yang maju, termasuk petani milenial," tuturnya.
 
Selain SDM, faktor penentu produktivitas pertanian lainnya yakni dukungan sarana dan prasarana teknologi yang memberikan kontribusi 25 persen. Selain itu dukungan kebijakan pemerintah mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kota, hingga level kecamatan. Dukungan peraturan perundang-undangan tersebut memberi kontribusi 25 persen terhadap produktivitas pertanian.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif