Ilustrasi. Foto: Antara/Khairizal
Ilustrasi. Foto: Antara/Khairizal

Pebisnis Jangan Gegabah saat Pandemi Covid-19

Ekonomi bisnis virus corona
Ilham wibowo • 20 Mei 2020 14:08
Jakarta: Pandemi Covid-19 yang terjadi di Tanah Air diprediksi bakal berujung pada krisis yang tak pernah disangka-sangka oleh mayoritas pemimpin bisnis. Menavigasi bisnis dengan sangat hati-hati melewati krisis multidimensi pun bisa jadi pilihan terakhir.
 
CEO Daya Qarsa Consultant Apung Sumengkar memaparkan kondisi krisis yang sangat kompleks saat ini membuat banyak pebisnis kehilangan fokus, bahkan melakukan tindakan gegabah dalam menakhodai kapalnya. Beberapa sikap buruk pemimpin yang biasanya muncul di era krisis seperti sekarang adalah sikap panik.
 
"Kepanikan ini menyebabkan pemimpin bisnis mengambil keputusan hanya berdasarkan jangka pendek tanpa mengindahkan kepentingan jangka panjang," kata Apung melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 20 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apung mencontohkan kepanikan pemimpin perusahaan tersebut dilakukan dengan langsung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) saat awal-awal terdampak covid-19. Beragam stimulus pemeritah bisa dimanfaatkan setidaknya bertahan selama pandemi.
 
"Langkah-langkah strategis lainnya yang sebenarnya bisa membantu perusahaan, seperti menghemat biaya operasional, menjual aset, mempercepat tenor pembayaran dari konsumen, dan sebagainya,” ungkapnya.
 
Apung menyarankan para pemimpin untuk mengutamakan sikap 5C yaitu calm, confident, clear, care, and consistent. Hal ini mengingat pentingnya unsur kepemimpinan dalam menavigasi sebuah bisnis agar selamat melalui krisis,
 
Apung menerangkan, calm atau sikap ketenangan wajib ditunjukkan seorang pemimpin ketika krisis menerpa. Sikap ini juga menjadi poin penting yang harus diperlihatkan seorang pemimpin di bawah tekanan seberat apapun.
 
"Dengan bersikap tenang, seorang pemimpin akan dapat memberikan jaminan kepada seluruh anggota timnya, bahwa mereka memiliki sosok yang tepat untuk memandu mereka dalam era yang akan dipenuhi turbulensi tersebut," papar Apung.
 
Selanjutnya confidence atau sikap keyakinan yang harus diusung dalam setiap tindakan, ucapan dan keputusan seorang pemimpin. Keyakinan ini harus diiringi dengan perumusan contingency plan alias rencana darurat yang terperinci sebagai panduan dalam kondisi mendesak.
 
Berikutnya adalah clarity atau kejelasan. Cara seorang pemimpin memancarkan kejelasan adalah dengan membagikan action plan yang spesifik, seraya menghindari segala hal yang normatif, umum dan berdasarkan asumsi demi menghilangkan keraguan dari para anggota organisasinya.
 
Ia menuturkan bahwa betapapun beratnya sebuah krisis pebisnis perlu menerapkan kepedulian (care). Bisnis adalah tentang mengelola manusia yang memiliki pikiran dan hati. Karena itu, tidak ada momen yang lebih mendesak bagi pemimpin untuk menunjukkan kepeduliannya dibandingkan masa-masa krisis.
 
"Dengan kepedulian, seorang pemimpin bisnis akan dapat menjaga kestabilan emosi karyawan dan orang-orang di lingkungan sekitar perusahaan, sebuah faktor yang sangat diperlukan dalam melanjutkan bisnis di tengah kepungan ketidakpastian masa krisis," urai Apung.
 
Terakhir, yakni consistency. Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki pendirian yang konsisten, yang akan menjadi mercusuar pemandu seluruh lapisan organisasi dalam bertindak, sekaligus menghapus keraguan mengenai arah tujuan perusahaan saat krisis maupun di masa mendatang.
 
"Dengan melakukan sikap 5C ini, niscaya pebisnis akan dapat mengambil keputusan bisnis yang bijak, menenangkan pemangku kepentingan terkait, bisa mengeksekusi strategi bisnis dengan baik dan pada akhirnya akan bisa bertahan dan menang melewati badai krisis covid-19," pungkasnya.

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif