Cabang BNI. Foto : MI.
Cabang BNI. Foto : MI.

BNI Perkirakan Ekonomi Indonesia Tumbuh 1,5% di 2020

Ekonomi ekonomi indonesia covid-19
Angga Bratadharma • 18 Mei 2020 21:04
Jakarta: Chief Economist BNI Ryan Kiryanto memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang 2020 berada di kisaran 0,5-1,5 persen. Adapun proyeksi itu masih lebih baik dibandingkan dengan Bank Dunia yang memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh minus 3,51 persen di tahun ini.
 
"Hampir semua lembaga dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 buruk. Paling buruk minus 3,51 persen itu dari Bank Dunia. Paling baik IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 0,5 persen dan ADB memprediksi 2,5 persen," kata Ryan, dalam sebuah diskusi, Senin, 18 Mei 2020.
 
Sedangkan BNI, lanjut Ryan, lebih memilih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini dengan kisaran 0,5 hingga 1,5 persen. Ryan mengungkapkan pihaknya memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menetapkan satu titik guna memprediksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air di 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenapa tidak dititik 0,5 atau 1,5 persen? Karena kita tidak tahu dinamika enam bulan atau sembilan bulan ke depan apakah covid-19 selesai di tahun ini atau berkepanjangan. Tidak ada orang yang tahu maka kami perkirakan di kisaran itu," tukasnya.
 
Sedangkan dari sisi perbankan, Ryan meyakini, Indonesia akan memasuki new normal. Kondisi itu berupa transaksi perbankan secara mayoritas akan menggunakan perangkat elektronik atau digital banking. Tidak ditampik, Work From Home (WFH) menciptakan aktivitas bisnis baru dengan menggunakan jalur virtual.
 
"Dan nyaman di sana (menggunakan jalur virtual). Kenyamanan ini akan berlanjut ke ddepan, terutama untuk populasi atau konsumen di bawah usia 45 tahun. Tidak harus lagi datang secara ke fisik ke bank, termasuk multifinance ataupun lembaga jasa keuangan lainnya," tuturnya.
 
Meski demikian, Ryan berpandangan, pandemi covid-19 yang sedang terjadi sekarang ini tidak ditampik memicu perlambatan pertumbuhan kredit, melemahnya Loan to Deposit Ratio (LDR), tertekannya Net Interest Margin (NIM), dan Non Performing Loan (NPL) cenderung mengalami kenaikan. Hal itu lantaran covid-19 masih belum bisa dihentikan penyebarannya.
 
"Ini yang pemerintah, OJK, BI, dan LPS merilis kebijakan relaksasi. Setidaknya ini membantu kesehata bank agar tidak semakin jatuh. Bank jadi punya daya tahan. Kredit melemah dan bank dipaksa menjaga kualitas aset dan kredit. Salah satunya memanfaatkan restrukturisasi mengacu pada POJK Nomor 11. Jangan lupa digitalisasi akan jadi gaya hidup kita," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif