Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kemenperin

Menperin Optimistis Impor Bahan Kimia Berkurang

Ekonomi impor Kementerian Perindustrian
Ilham wibowo • 09 Oktober 2020 09:59
Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa peningkatan kebutuhan bahan baku di Tanah Air perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas industri kimia. Langkah impor diproyeksikan bisa terus berkurang.
 
"Kami mencanangkan agar impor dapat disubstitusi secara bertahap hingga 35 persen pada 2022," kata Agus, melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 9 Oktober 2020.
 
Agus menuturkan industri petrokimia merupakan sektor hulu yang menjadi tumpuan ekonomi nasional sekaligus sebagai pemasok bahan baku utama bagi industri-industri di sektor hilirnya. Industri kimia masuk dalam sektor yang mendapat prioritas pada roadmap Making Indonesia 4.0 lantaran berperan strategis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Agus, hingga kuartal kedua 2020 pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai 8,65 persen. Capaian tersebut jauh di atas pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi. Bersama dengan industri di sektor kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT), sektor tersebut berkontribusi kepada PDB 2019 sebesar Rp265 triliun.
 
"Nilai investasi di sektor industri kimia tercatat cukup signifikan, yaitu Rp6,04 triliun hingga kuartal II-2020. Semua indikator tersebut menunjukkan bahwa bahan kimia merupakan komoditas yang sangat strategis dan menentukan arah kebijakan pemerintah terutama di bidang ekonomi," paparnya.
 
Agus melanjutkan sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), industri kimia merupakan sektor hulu yang menjadi pondasi industri nasional atau sejajar bersama industri agro serta industri logam dasar dan bahan galian non-logam.
 
"Industri kimia merupakan pemasok bahan baku bagi industri intermediate dan hilir untuk memproduksi produk akhir," imbuhnya.
 
Agus menambahkan pada kurun periode 2020-2025 pemerintah mengawal proyek-proyek pembangunan industri kimia raksasa yang total nilai investasinya mencapai USD31 miliar. Pusat produksi yang tengah ditingkatkan yakni pembangunan pabrik petrokimia di Cilegon, Tuban, dan Balongan.
 
"Selain itu ada juga inisiasi investasi gasifikasi batubara untuk pabrik coal to chemical di Tanjung Enim dan Kutai Timur. Dengan segenap usaha investasi tersebut, kita mengharapkan Indonesia dapat kembali memperkuat sendi-sendi perekonomian nasional di sektor industri," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif