Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo. Foto: dok MI/Panca Syurkani.

Percaya dan Rasa Aman

Ekonomi Analisis Ekonomi
Media Indonesia • 11 Agustus 2020 11:22
SALAH satu yang menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal II lalu ialah turun tajamnya konsumsi masyarakat.
 
Pada kuartal I saja penurunan konsumsi masyarakat hampir mencapai 50 persen dari biasanya, padahal kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir mencapai 60 persen.
 
Tentu pertanyaannya, mengapa penurunan konsumsi masyarakat begitu tajam? Pertama, tentunya karena memang ada pembatasan kegiatan untuk menekan tingkat penularan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ini berdampak nyata pada pendapatan kelompok pekerja informal dan keluarga miskin. Oleh karena itu, jawaban yang diambil pemerintah ialah memberikan bantuan langsung tunai. Faktor kedua, kelompok menengah-atas menahan belanja mereka.
 
Selain faktor ketidakpastian yang mengharuskan kelompok ini menahan pengeluaran, ada juga faktor kekhawatiran tertular covid-19. Ketidakpercayaan kepada cara penanganan covid-19 menurunkan rasa aman untuk kembali beraktivitas.
 
Baca: Kuartal II-2020, Ekonomi RI Minus 5,32%
 
Kedua hal terakhir inilah yang perlu ditangani apabila kita tidak ingin mengalami resesi. Masyarakat harus bisa diyakinkan bahwa keadaan sudah terkendali, sehingga mempunyai rasa aman. Kalau kelompok menengah-atas mulai berani melakukan aktivitas dan mendorong kembali konsumsinya, perekonomian ini akan cepat bisa menggeliat.
 
Pekerjaan inilah yang sekarang dilakukan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Dokter-dokter dilibatkan langsung dalam organisasi untuk menangani bidang pelayanan kesehatan, perubahan perilaku, dan bahkan komunikasi publik.
 
Langkah penanganan kesehatan dilakukan bersamaan dengan kampanye besar untuk mengajak masyarakat mau menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir sebagai bagian langkah preventif.
 
Sekarang ini jumlah penularan covid-19 kembali meningkat, terutama di DKI Jakarta, karena masyarakat alpa untuk memproteksi diri. Banyak orang yang cuek berkegiatan di luar rumah tanpa menggunakan masker dan menjaga jarak. Bahkan banyak kantor pemerintah dan lembaga yang menjadi klaster baru karena tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan.
 
Sejak memimpin Gugus Tugas, Ketua Satgas Doni Monardo selalu mengingatkan, protokol kesehatan adalah harga mati. Kita harus memiliki disiplin diri dan disiplin kolektif untuk setiap saat menggunakan masker, menjaga jarak, dan selalu mencuci tangan sebelum memegang bagian wajah kita, khususnya mulut, hidung, dan mata.
 
Semua itu harus menjadi bagian dari kebiasaan hidup kita. Sama seperti orang yang otomatis memakai helm kalau mengendarai motor atau memakai sabuk keselamatan ketika duduk di dalam mobil.
 
Baca: Menteri Erick: Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit
 
Kalau pemerintah memberi kesempatan kepada masyarakat untuk kembali melakukan kegiatan, bukan berarti faktor kesehatan boleh ditinggalkan. Keseimbangan antara menjaga kesehatan dan ekonomi harus menjadi kesadaran kita bersama.
 
Kita harus pandai menjaga diri jangan sampai kita tertular covid-19, tetapi secara bersamaan jangan sampai terkapar oleh tekanan ekonomi. Kita tidak pernah akan bisa memulihkan ekonomi ini kalau tidak muncul kesadaran bersama untuk menjaga kesehatan masing-masing.
 
Semua harus mau saling melindungi yang lainnya dan satu-satunya jalan untuk bisa melakukan itu ialah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Memang tidak mudah untuk membangun kesadaran apalagi dalam masyarakat yang besar seperti Indonesia.
 
Akan tetapi, belajar dari pengalaman Gerakan Keluarga Berencana di zaman Orde Baru, kita bisa melakukan itu. Kuncinya gerakan itu harus dilakukan secara masif, serentak, dan terus-menerus digaungkan di seluruh Indonesia.
 
Pelibatan semua komponen masyarakat sebagai tokoh perubahan penting dilakukan. Di setiap daerah pasti ada tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama yang didengar suaranya. Merekalah yang harus kita gunakan untuk mengubah kebiasaan masyarakat.
 
Penggunaan bahasa lokal akan membuat masyarakat lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Tidak terkecuali tentunya pelibatan kelompok perempuan. Ibu-ibu penggerak PKK yang ada di daerah sangat berpengaruh untuk mengingatkan masyarakat agar mau menjaga kesehatan.
 
Mereka harus bisa diajak untuk membuat ibu-ibu anggotanya mau mengingatkan anggota keluarga untuk selalu menggunakan masker, tidak berkerumun, dan selalu mencuci tangan dengan sabun.
 
Sekarang ini semua orang sebenarnya terdampak oleh covid-19. Kalau pun tidak tertular, tetapi ekonomi keluarga pasti terganggu. Banyak orang yang bahkan sudah dirumahkan dan otomatis tidak memiliki pendapatan lagi.
 
Semua orang pasti ingin segera mengakhiri kondisi seperti ini agar kehidupan keluarga tidak semakin terimpit. Untuk itu, semua orang harus mau berkorban. Caranya tidak sulit, yakni sama-sama disiplin menggunakan masker, menjaga jarak, dan sering mencuci tangan dengan sabun.
 
Kalau kita mampu membangun disiplin itu, kepercayaan akan tumbuh, rasa aman pun akan muncul, dan kita pun akan membangun masa depan lebih baik karena orang akan bisa melakukan kegiatan tanpa takut tertular covid-19. (Podium)

Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group


 
(AHL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif