Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

Stimulus Inklusi Keuangan untuk Pemulihan Ekonomi

Ekonomi OJK Virus Korona Analisis Ekonomi Ekonomi Indonesia Pemulihan Ekonomi Nasional
Angga Bratadharma • 28 Oktober 2020 14:25
PEMULIHAN menjadi perhatian utama pemerintah dan pihak-pihak terkait usai perekonomian dihantam pandemi. Berbagai macam stimulus dan strategi diimplementasikan guna menjaga roda ekonomi bergerak di jalur yang sudah ditentukan. Di antara yang digenjot adalah peningkatan inklusi keuangan di Tanah Air oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
 
Mengutip OJK, Rabu, 28 Oktober 2020, Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan OJK pada 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan 76,19 persen. Angka itu meningkat ketimbang hasil survei OJK di 2016 yaitu indeks literasi keuangan 29,7 persen dan indeks inklusi keuangan 67,8 persen.
 
Berdasarkan strata wilayah, untuk perkotaan indeks literasi keuangan mencapai 41,41 persen dan inklusi keuangan masyarakat perkotaan sebesar 83,60 persen. Sementara indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat pedesaan adalah 34,53 persen dan 68,49 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Upaya OJK meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan bukan tanpa sebab karena ada kaitan erat antara tingginya literasi dan inklusi keuangan dengan tingkat kesejahteraan. Dengan literasi dan inklusi keuangan yang tinggi maka masyarakat akan mengakses lembaga jasa keuangan guna mengakselerasi tingkat ekonomi keluarga.
 
Hal itu juga penting mengingat perekonomian Indonesia hingga ke level paling bawah terhantam covid-19. Stimulus yang diberikan OJK kepada industri jasa keuangan dan meningkatnya literasi dan inklusi keuangan diharapkan menjadi kombinasi tepat agar pemulihan ekonomi bisa bergerak lebih cepat.
 
Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara menjelaskan inklusi keuangan memiliki peranan penting dan strategis sehingga diharapkan dapat menjadi solusi jitu untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi covid-19
 
"Kami meyakini, dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang lebih baik mengenai produk dan layanan keuangan diiringi kemampuan pengelolaan keuangan yang memadai akan dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka dalam beraktivitas ekonomi," kata Tirta.
 
Sudut pandang itu yang membuat OJK menggelar Bulan Inklusi Keuangan 2020. Bulan Inklusi Keuangan 2020 menjadi upaya OJK mendorong berbagai program untuk meningkatkan inklusi keuangan masyarakat yang diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat dan sejalan dengan upaya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dijalankan pemerintah.
 
Terkait Bulan Inklusi Keuangan 2020, OJK menggandeng kementerian/lembaga, regulator keuangan, dan industri jasa keuangan untuk menyiapkan berbagai program sesuai SNKI seperti meningkatkan jumlah penabung di masyarakat dengan meluncurkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
 
Inklusi keuangan capai 90% di 2024
 
Ada tiga alasan pentingnya inklusi keuangan. Pertama inklusi keuangan berkolerasi dengan pertumbuhan ekonomi. Meluasnya akses keuangan dapat mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat. Pada 2019, tingkat inklusi keuangan nasional capai 76,19 persen atau melewati target awal yaitu 75 persen.
 
Berangkat dari kesuksesan itu, Presiden Jokowi menetapkan pencapaian target inklusi keuangan sebesar 90 persen pada 2024

 
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif