Foto: dok MI/Immanuel.
Foto: dok MI/Immanuel.

Indonesia Belum Resesi

Ekonomi Analisis Ekonomi
Angga Bratadharma • 06 Agustus 2020 15:08
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 akhirnya dirilis. Meski terkontraksi cukup dalam, namun pemerintah dan beberapa pihak lainnya sudah memperkirakan perekonomian tidak akan tumbuh positif pada kuartal tersebut sejalan dengan adanya pandemi covid-19 dan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
 
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tumbuh negatif 5,32 persen secara year on year (yoy). Jika dibandingkan kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh negatif 4,19 persen. Sementara secara kumulatif untuk semester I-2020, ekonomi Indonesia tumbuh minus 1,26 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu.
 
Mengutip data BPS, Kamis, 6 Agustus 2020, jika ditelisik lebih lanjut konsumsi rumah tangga jadi sumber kontraksi tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020. Konsumsi rumah tangga tumbuh negatif 2,96 persen atau setara 5,51 persen secara yoy. Kontraksi yang terdalam terjadi pada komponen restoran dan hotel yang kontraksi 16,53 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, diikuti oleh transportasi dan komunikasi yang tumbuh negatif 15,33 persen. Hampir seluruh komponen konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi di kuartal II ini. Meski demikian, komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga mampu tumbuh 2,36 persen serta kesehatan dan pendidikan tumbuh 2,02 persen.
 
Baca: Kuartal II-2020, Ekonomi RI Minus 5,32%
 
Sumber pertumbuhan ekonomi lainnya yang juga mencatatkan pertumbuhan negatif yakni investasi minus 8,61 persen, ekspor minus 11,66 persen, konsumsi pemerintah minus 6,9 persen, konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 7,76 persen, dan impor minus 16,96 persen.
 
Masih menurut data BPS, transportasi dan pergudangan turut menjadi sektor yang paling tertekan selama kuartal II-2020. Sektor transportasi dan pergudangan minus 1,29 persen diikuti oleh industri pengolahan, perdagangan, serta akomodasi dan makanan minuman.
 
Secara yoy, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh negatif hingga 30,84 persen. Bahkan karena penurunan ini kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 3,57 persen. Padahal di kuartal II-2019, kontribusinya mencapai 5,57 persen.

Terendah Sejak 1999

Dalam sebuah video conference, Kepala BPS Suhariyanto menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi di kuartal II-2020 terendah sejak 1999. Adapun 1999 adalah tahun krisis keuangan yang melanda Asia dan berdampak terhadap ekonomi dunia. Sedangkan di kuartal II-2020 terkontraksi akibat tekanan pandemi covid-19.
 
"Ini terendah sejak kuartal I-1999, pada waktu itu ekonomi terkontraksi 6,13 persen," kata Suhariyanto.
 
Meski pertumbuhan ekonomi jatuh cukup dalam, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia dipandang akan lebih baik di kuartal berikutnya. Hal itu sejalan dengan langkah pemerintah yang sudah menyiapkan dan menjalankan berbagai macam stimulus guna mengantisipasi dampak buruk covid-19.
 
Baca: Pertumbuhan Ekonomi Negatif Kuartal II-2020 Terendah Sejak 1999
 
Tidak hanya itu, program pemulihan ekonomi nasional juga digencarkan, baik menyasar dunia usaha, perbankan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor riil, masyarakat maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kesemuanya diharapkan positif mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang kini tengah tertekan cukup dalam.
 
"Mari kita berharap ini hanya satu-satunya yang kontraksi. Kita berharap kuartal III jauh lebih membaik ekonominya dibandingkan dengan kuartal II. Untuk kuartal III ini kita harus bergandeng tangan, optimistis, sehingga geliat ekonomi semakin bergerak. Tentunya salah satu kunci penting adalah penerapan protokol kesehatan. Ini menjadi kunci utama," tegasnya.

Stabilitas Makroekonomi dan Keuangan Terjaga

Mengutip data Bank Indonesia (BI) disebutkan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan pada kuartal II-2020 masih terjaga dan turut mendukung ketahanan ekonomi nasional. Hal itu dilihat berdasarkan pemantauan indikator-indikator makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan dari sisi moneter dan makroprudensial.
 
Adapun indikator yang dipantau bank sentral antara lain tingkat inflasi yang berada pada level rendah dan terkendali sebesar 1,96 persen pada Juni 2020 dan kembali menurun pada Juli 2020 menjadi 1,54 persen secara tahunan yoy.
 
Nilai tukar rupiah juga tetap terkendali sesuai dengan mekanisme pasar dan fundamental. Secara point to point (ptp) pada kuartal II-2020 mata uang Garuda tersebut terapresiasi sebesar 14,42 persen. Hal ini dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020.
 
Lalu, cadangan devisa juga meningkat di mana pada akhir Juni 2020 mencapai USD131,7 miliar. Angka ini setara dengan pembiayaan 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah cadangan devisa tersebut pun berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
 
Baca: Stabilitas Makroekonomi dan Sistem Keuangan Kuartal II-2020 Masih Terjaga
 
Terkait kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dalam kerangka koordinasi dengan pemerintah dan KSSK, bank sentral menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,0 persen. Langkah itu guna menstimulus pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh terlalu dalam.
 
"Demikian juga suku bunga deposit facility turun 25 bps menjadi 3,25 persen dan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 4,75 persen pada Juli 2020," urai Gubernur BI Perry Warjiyo.
 
Adapun level suku bunga kebijakan moneter pada tingkat 4,0 persen saat ini merupakan yang terendah sejak 2016. Keputusan penurunan suku bunga tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah. "Kemudian stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk bersama-sama mendorong pemulihan ekonomi di masa covid-19," kata Perry.

Belum Resesi

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 terkontraksi cukup dalam, namun Indonesia belum mengalami resesi. Melansir Forbes, resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Jika melihat Indonesia maka pertumbuhan minus di tahun ini baru terjadi satu kali.
 
Berangkat dari salah satu asumsi itu yang sepertinya membuat Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yakin bahwa Indonesia belum mengalami resesi meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 terkontraksi 5,32 persen secara yoy.
 
"Sebetulnya kalau dilihat dari year on year belum (resesi), karena ini baru pertama kali kita kontraksi," kata Ani, sapaannya.
 
Ani menegaskan kontraksi ekonomi pada kuartal II ini membuat pemerintah justru akan lebih keras dalam mendorong pemulihan ekonomi. Sebab, Indonesia bisa jatuh ke jurang resesi jika ekonomi kuartal selanjutnya kembali mencatatkan pertumbuhan negatif.
 
Karena itu, peran Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan dunia usaha sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal III. "Kita berharap dunia usaha, masyarakat dan seluruh stakeholder juga ikut bersama-sama memulihkan ekonomi kita yang memang terdampak covid-19," ucapnya.
 
Baca: Sri Mulyani: Indonesia Belum Resesi
 
Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 tidak sedalam negara-negara lain. Airlangga beranggapan pertumbuhan ekonomi RI yang tercatat minus 5,32 persen masih lebih baik ketimbang anjloknya perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Singapura.
 
Adapun ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Sedangkan Singapura mencatat PDB kuartal kedua turun 12,6 persen secara yoy. Angka ini turun 0,3 persen dibandingkan dengan triwulan pertama.
 
"Kalau kita bandingkan dengan negara lain, misalnya, Indonesia di kuartal pertama masih positif 2,97 persen dan di kuartal kedua minus 5,32 persen," kata Airlangga.
 
Tidak hanya itu, Airlangga memiliki data bahwa negara lain seperti di Eropa malah turun lebih dalam ketimbang Indonesia, dari minus tiga persenan di kuartal I-2020 menjadi minus 15 persen di kuartal kedua tahun ini. Demikian pula Meksiko dan Prancis yang pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 ini masing-masing terkontraksi hingga 18,9 persen dan 19 persen.
 
"Artinya, di antara peer country (negara-negara berkembang) ini Indonesia masih relatif tidak sedalam yang lain. Hal ini karena memang pandemi covid-19 ini sesuai dengan apa yang terjadi di berbagai negara, itu dampaknya luas di 213 negara, tidak terkecuali Indonesia," ungkap dia.
 
Meski data menunjukkan Indonesia lebih baik dari negara-negara tersebut, namun Airlangga memastikan Pemerintah Indonesia akan terus berupaya memulihkan perekonomian nasional dari gempuran covid-19. Ia berharap adanya efek perbaikan dari perekonomian global kepada Indonesia melalui negara-negara yang sudah lebih dahulu mengalami pemulihan.
 
Pernyataan ekonomi Indonesia belum mengalami resesi dari pemerintah juga didukung sejumlah pihak. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, misalnya, beranggapan Indonesia belum masuk dalam kategori resesi, meski pertumbuhan ekonomi kuartal kedua mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen.
 
Pasalnya, resesi baru terjadi ketika pertumbuhan ekonomi tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut. Sementara, ekonomi Indonesia kuartal I-2020 masih tumbuh positif 2,97 persen. Namun, Direktur CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan jika kuartal selanjutnya ekonomi masih tumbuh negatif, maka secara resmi Indonesia bisa dinyatakan resesi.
 
"Resesi itu kan hitungannya dua triwulan berturut-turut negatif. Triwulan kedua sudah jelas negatif, kalau satu triwulan lagi ke depan, triwulan ketiga negatif, ya itu resesi," kata Piter.
 
Piter memprediksi kontraksi ekonomi masih terjadi pada kuartal ketiga dan keempat. Sebab, komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) yakni konsumsi domestik masih tertekan. Berangkat dari hal ini tentu pemerintah dan pihak-pihak terkait harus segera mengantisipasinya.
 
Indonesia Belum Resesi
 
Meski demikian, masyarakat diminta tak panik lantaran resesi merupakan sebuah kenormalan baru di tengah dampak pandemi. Apalagi hampir semua negara di dunia mengalami resesi dengan kontraksi yang sangat dalam. Di sisi lain, pemerintah sudah menyiapkan berbagai kebijakan dan stimulus dalam penanganan covid-19 maupun pemulihan ekonomi nasional.
 
"Kita optimistis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan recovery pada 2021," kata dia.
 
Senada dengan Piter, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, resesi baru terjadi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut. Namun perhitungan resesi bagi Indonesia sebaiknya menggunakan pertumbuhan ekonomi tahunan bukan per kuartal.
 
"Untuk data PDB yang sudah dilakukan penyesuaian musiman, maka pada umumnya, resesi teknis didefinisikan sebagai pertumbuhan kuartalan mengalami pertumbuhan yang negatif dua kuartal berturut-turut," ucap Josua.
 
Jika merujuk pada data PDB Indonesia yang masih belum menghilangkan faktor musiman, maka Indonesia secara teknikal belum mengalami resesi. Sedangkan di Amerika Serikat, dan negara maju lainnya, kuartal to kuartal pertumbuhannya sudah cyclically adjusted atau penyesuaian musiman.
 
Josua pun menceritakan Indonesia pernah dua kali mengalami resesi yakni pada 1960 dan 1998. Pada periode itu perekonomian Indonesia dianggap resesi karena ekonomi terkontraksi sepanjang 1962-1963 dan diikuti oleh hyperinflation atau inflasi yang tak terkendali.
 
Kemudian pada 1998, perekonomian Indonesia juga mengalami resesi sejalan dengan kontraksi ekonomi pada kuartal I-1998 hingga kuartal I-1999. Penyebab resesi ini didahului oleh krisis keuangan di Thailand yang kemudian berdampak pada pelemahan rupiah dan mengakibatkan kenaikan utang luar negeri Indonesia.
 
"Tapi karena perilaku konsumsi, investasi dan perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh faktor musiman seperti panen raya, Idulfitri, Natal, tahun ajaran baru sekolah, jadi akan tepat dan objektif kalau kita menggunakan pertumbuhan yoy (tahunan)," pungkas dia.
 
(ABD)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif