Kilang Minyak. Foto : AFP.
Kilang Minyak. Foto : AFP.

Waspada Tekanan Harga Minyak Tinggi

Arif Wicaksono • 07 Juli 2022 17:37
DI TENGAH perang Rusia-Ukraina, salah satu komoditas yang memberikan beban bagi ekonomi global adalah kenaikan harga minyak dunia. Pada awal tahun ini, harga minyak dunia sudah mencapai pada titik tertingginya dalam setahun.
 
Kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan ke daya beli konsumen. Harga barang menjadi mahal karena komponen energi memberikan sumbangan besar bagi aktivitas ekonomi. Tekanan ini juga diikuti dengan gangguan pasokan pangan, sehingga inflasi di negara-negara maju melambung tinggi. Harga pangan seperti gandum naik, diikuti dengan komoditas lain seperti kelapa sawit, gas, batu bara serta kelapa sawit.
 
baca juga: Fitch: Produksi Gas Tiongkok Tumbuh Solid

Kunci untuk menjaga harga minyak dunia adalah dengan menaikkan produksi minyak global per hari. Nah, perang Rusia-Ukraina mengganggu rantai produksi karena Rusia yang memiliki pangsa pasar 11 persen dari cadangan minyak dunia di embargo oleh AS dan sekutunya. Kemudian untuk menutupi gangguan produksi dari Rusia, maka Amerika Serikat (AS), Saudi Arabia, serta UEA dan Sekutunya harus mendorong produksi minyak. Market share sekutu AS itu bisa mencapai 50 persen lebih.
 
AS sudah melepaskan 100 juta barel cadangan minyak dengan mencapai 397 juta barel dari 497 juta barel. AS juga akan melepaskan cadangan minyak 108 juta barel setiap enam bulan. Negara seperti Arab Saudi dan UEA sudah memaksimalkan kapasitas produksi minyaknya. Jika kedua negara ini tak cukup menurunkan harga minyak maka produksi dari perusahaan minyak independen bisa mendorong penurunan harga minyak dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun kapasitas produksi perusahaan minyak independen, seperti kebanyakan Indian Oil Corporation (IOC) serta perusahaan minyak nasional lain memiliki produksi yang lebih rendah.
 
Saat Saudi Aramco, Abu Dhabi National Oil Company  (ADNOC) telah mempertahankan tingkat investasi hulu (dan hilir) mereka selama dekade terakhir (bahkan selama covid-19), produsen OPEC utama lainnya kurang memiliki anggaran untuk investasi kilang minyak.
 
Salah satu alasan mengapa investasi di sektor migas ini terkendala adalah gaya hidup hijau seperti penggunaan mobil listrik, yang mulai dilakukan secara penuh di Uni Eropa pada 2030. Ini yang membuat perusahaan besar saja yang berani berinvestasi kilang minyak.
 
CEO Aramco Amin Nasser mengatakan hal ini juga yang membuat usaha Aramco untuk menaikkan kapasitas produksi menjadi 13 juta barel per hari di 2027 butuh perjuangan keras. Pada saat ini Aramco sudah memproduksi minyak sebanyak 10 juta barel per hari. Almarhum Sekjen OPEC Mohammad Barkindo sempat mengatakan kekurangan pasokan sebagai akibat dari kurangnya investasi.
 
"Sementara negara-negara berusaha untuk membuang bahan bakar fosil dan kapasitas (produksi) turun, permintaan minyak terus tumbuh, mengirim harga minyak mentah semakin tinggi," kata Barkindo dikutip dari Oilprice.com.
 
Kurangnya investasi kilang minyak menjadi salah satu penyebab harga minyak brent diperkirakan rata-rata USD106,82 per barel pada 2022 menurut jajak pendapat bulanan Reuters. Itu adalah perkiraan harga minyak rata-rata tertinggi dalam survei sejauh ini tahun ini.
 
Dalam survei Mei sebelumnya, hampir tiga lusin ekonom dan analis memperkirakan harga minyak mentah brent akan rata-rata USD101,89 per barel pada 2022. Para analis yang disurvei Reuters pada Juni memperkirakan patokan AS, WTI Crude, rata-rata USD102,82 per barel pada 2022, naik dari konsensus USD97,82 per barel dalam jajak pendapat dari Mei.
 
Analis mewaspadai perlambatan ekonomi tak dapat meredam lonjakan harga minyak karena pasokan yang ketat melebihi kekhawatiran permintaan migas. Aktivitas warga juga sudah lebih aktif ketimbang 2021. Harga minyak akan tetap tinggi ditopang permintaan minyak global yang tumbuh tahun ini, dengan respons mulai dari pertumbuhan 2,3 juta barel per hari hingga lima juta barel per hari pada 2022 dibandingkan dengan 2021.
 
Banyak analis juga menunjukkan OPEC+ tidak mungkin untuk mulai mencapai target produksi karena beberapa produsen, terutama anggota OPEC dari Afrika, memiliki anggaran terbatas untuk investasi kilang minyak dan membutuhkan pendanaan ketika Eropa sedang berusaha memperjuangkan gerakan ramah lingkungan di masa depan.
 
Apalagi, kelompok negara kaya G7 bersumpah membatasi harga minyak Rusia, setelah sepakat tak membeli minyak murah dari Rusia, sebagai bagian dari sanksi baru untuk memukul keuangan Moskow. Meskipun hal ini tampak sulit.
 
"Saya pikir jika mereka menerapkan batasan harga pada penjualan dan pembelian minyak Rusia, sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana ini akan diterapkan, terutama ketika Tiongkok dan India telah menjadi pelanggan terbesar Rusia," kata Konsultan Minyak Andrew Lipow yang berbasis di Houston.
 
Usaha AS dan sekutunya memblokade minyak Rusia bisa menghalangi pasokan minyak. Pertanyaannya apakah produksi minyak dunia melebihi permintaan atau dibawah  permintaan global? Konsumsi minyak dunia sebagian besar dari AS dan Tiongkok dengan market share mencapai 34 persen. Kedua negara diramalkan pertumbuhan ekonominya tak setinggi tahun lalu.
 
Ekonomi Tiongkok diprediksi hanya tumbuh sebesar 4,3 persen pada tahun ini. AS bahkan diramalkan hanya tumbuh 2,5 persen. Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen di 2022.
 
Kemudian yang bisa menghambat lonjakan harga minyak adalah munculnya kendaraan yang lebih hemat minyak seperti kendaraan hibrida dan kendaraan listrik. Selain itu, fleksibilitas dalam perjalanan, dengan lebih banyak orang memilih untuk bekerja secara remote juga mengurangi konsumsi bahan bakar.
 
Namun sampai saat ini penjualan kendaraan berbahan bakar listrik, masih sangat kecil, belum bisa menggantikan peran kendaraan berbahan bakar fosil. Selain itu, seluruh maskapai penerbangan juga memakai bahan bakar fosil. Akibatnya pemulihan aktivitas ekonomi kerap mendorong aktivitas perjalanan menyebabkan harga tiket penerbangan menjadi mahal.
 
Harga minyak yang di atas USD100 per barel menunjukkan permintaan tetap kuat karena efek kembalinya aktivitas ekonomi menuju pasca pandemi covid-19. Harga minyak juga terkendala pasokan dari gangguan penangguhan pengiriman minyak mentah Libya dari dua pelabuhan timur. Ditambah produksi minyak mentah  Ekuador yang turun karena adanya aksi demonstrasi.
 
Di Norwegia, 74 pekerja minyak lepas pantai di platform Equinor's Gudrun, Oseberg South dan Oseberg East akan lakukan aksi mogok mulai 5 Juli 2022. Serikat pekerja Lederne mengatakan akan menutup sekitar empat  persen dari produksi minyak Norwegia.
 
Masa depan harga minyak tak hanya bergantung kepada peningkatan produksi anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak yang dikenal sebagai OPEC+. Usaha mereka untuk mempercepat peningkatan produksi minyak pada Agustus 2022 masih menjadi tantangan besar apalagi jika gangguan pasokan terjadi karena persoalan ekonomi politik. 
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif