• Card 1 of 30
Nasional

Politikus PKS Tulis Surat Terbuka buat Anies

Nur Azizah    •    12 Juli 2018 14:05

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfudz Siddiq - MI/Agung Wibowo. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfudz Siddiq - MI/Agung Wibowo.

Jakarta: Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfudz Siddiq, mengirimkan surat terbuka buat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia gelisah lantaran Anies disebut-sebut bakal maju dalam Pilpres 2019. 

Dalam suratnya, Siddiq mengawali dengan mengutip sumpah Anies dan Sandiaga Salahuddin Uno ketika dilantik menjadi Gubernur dan Wagub DKI Jakarta. Anies-Sandi dilantik pada Senin, 16 Oktober 2018.

“Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya," kutip Siddiq. 

Siddiq kemudian memperkenalkan diri sebagai warga asli Jakarta. Dia sudah tinggal di Ibu Kota sejak 52 tahun silam. Selama itu, dia baru merasakan pilkada yang sepanas dan seheboh Pilkada DKI 2017.

Siddiq lega karena Anies-Sandi akhirnya menang di Jakarta. Tapi, kini dia gelisah. Apalagi, setelah kencang berembus Anies akan diusung menjadi cawapres. 

(Baca juga: Anies Melanggar Kontrak Sosial jika Maju Pilpres 2019)

Otomatis, Anies harus meninggalkan jabatan yang belum satu tahun diemban. Padahal, kata dia, seluruh janji Anies-Sandi belum lunas. 

Dia menyebut satu tahun pertama kepemimpinan Anies-Sandi baru tahap perkenalan. "Setidaknya ada lima masalah utama yang sering dikeluhkan warga bisa diselesaikan dengan baik dan tuntas, yaitu kemacetan, banjir, sampah, korupsi dan pengangguran," tulis Mahfudz. 

Siddiq meminta agar Anies-Sandi membuktikan janji kampanye itu. Dia siap mendukung dan berkontribusi untuk membantu.

"Sembilan bulan memimpin masih fase ta'aruf. Mungkin baru mulai tahun kedua dan seterusnya bapak bisa benar-benar menjalankan  program pembangunan secara tepat dan cepat," tutur dia.

Dia berharap Anies tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta. Menyelesaikan janji-janji yang pernah diumbar.

"Sehingga tuntas pertanggungjawaban amal di hadapan masyarakat Jakarta dan di hadapan Sang Pemilik dan Pemberi Kekuasaan," pungkas dia.