• Card 1 of 30
Pendidikan

Kebanggaan Tukang Ojek Antarkan Putrinya Rengkuh Beasiswa OSC

Husen Miftahudin    •    25 Desember 2017 13:10

Siswanto dan Endang mendampingi putrinya mengikuti seleksi OSC 2017 Metrotvnews.com bersama Avitex Cat Tembok di Mal Kuningan City, Jakarta, Senin, 18 Desember 2017, Medcom.id - Husen Miftahudin Siswanto dan Endang mendampingi putrinya mengikuti seleksi OSC 2017 Metrotvnews.com bersama Avitex Cat Tembok di Mal Kuningan City, Jakarta, Senin, 18 Desember 2017, Medcom.id - Husen Miftahudin

Jakarta: Setiap orang tua pasti mendambakan anaknya sukses. Bagi Siswanto, mendampingi sang buah hati mengikuti tes beasiswa online scholarship competition (OSC) di Jakarta adalah cara dirinya mengantarkan putri bungsu menuju tangga kesuksesan.

Siswanto datang dari Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Anaknya, Maria Puji Lestari, lolos hingga tahap akhir beasiswa OSC. Siswanto pun mendampingi putrinya mengikuti test offline di Kuningan City, Jakarta Selatan, pada Senin, 18 Desember 2017.

Kereta api menjadi moda transportasi yang digunakan Siswanto bersama Maria menuju Jakarta. Itu pun kelas ekonomi. Sebab, kata Siswanto, ia tak memiliki banyak uang untuk menyediakan transportasi 'berkelas' menuju Ibu Kota.

Sehari-hari, Siswanto mengais rezeki sebagai tukang ojek. Penghasilannya tak menentu. Pendapatan rata-rata per bulan Rp800 ribu. Kadang kurang, kadang juga lebih.

Saat mendapat kabar putrinya lulus seleksi OSC 2017 yang diselenggarakan medcom.id bersama Avitex Cat Tembok, pada 28 November, Siswanto bangga bukan main. Ia pun bersemangat mengumpulkan uang untuk menemani putrinya ke Jakarta. Setiap hari, ia menyisihkan sebagian pendapatan sehari setelah pengumuman


(Suasana tes offline OSC di Mal Kuningan City, Jakarta, Senin, 18 Desember 2017, sumber foto Medcom.id)

"Saya ingin Maria sukses. Dia tidak boleh bernasib seperti saya (bekerja dengan penghasilan pas-pasan)," ungkap Siswanto kepada Medcom.id saat ia tengah menunggu putrinya mengikuti tes offline.

Pada Minggu siang, 17 Desember 2017, Siswanto naik kereta dari Ambarawa menuju Jakarta. Ia tak sendiri. Istrinya, Endang Wahyuningsih dan, tentunya, Maria, turut dalam perjalanan itu. Tepat pukul 22.00 WIB, kereta tiba di Stasiun Pasar Senen.

Mereka menginap di rumah kerabat di Cilincing, Jakarta Utara. Betapa senangnya Siswanto saat kerabat memberikan semangat pada putrinya untuk lulus tes.

Pukul 04.00 WIB, Siswanto dan Maria melangkahkan kaki dengan mantap ke Mal Kuningan City. Tujuan mereka hanya satu. Maria mengikuti tes dan berkesempatan mendapatkan beasiswa OSC. 

"Saya berharap Maria diterima di universitas yang ia inginkan. Dengan begitu, ia mengangkat derajat orang tua dan keluarga. Maria mengerti kondisi ekonomi keluarga, makanya dia bilang ingin berusaha semaksimal mungkin (mendapatkan beasiswa OSC)," tutur Siswanto seraya menyeka air matanya.

Selama putrinya berada di ruang tes, Siswanto terus berdoa. Besar harapannya agar si bungsu lulus tes dan meraih beasiswa. Anak sulungnya tak bisa kuliah. Siswanto mengaku tak memiliki banyak uang untuk anak sulung. Kini, si sulung bekerja sebagai karyawan pabrik garmen di Semarang.

Masih terbayang di benak Siswanto saat Maria mengatakan ingin kuliah. Jurusan psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menjadi tujuan siswi Kelas III SMA Sedes Sapientiae Bedono itu.

Siswanto kesal. "Dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk membiayai kuliah putrinya?" pikir Siswanto saat itu.

Tapi, ujar Siswanto, Maria memiliki semangat yang kuat. Maria berusaha mendapatkan informasi soal beasiswa. Dan akhirnya, Maria mendaftar di program OSC. Kekesalan Siswanto mereda. Justru, ia terus menyemangati putrinya.

"Anak saya terus ikuti program itu, dan saya terus mendukung," ungkap Siswanto.

Di mata Siswanto, Maria anak cerdas. Bahkan di Semarang, Maria menempuh pendidikan di SMA swasta favorit di kabupaten tersebut. Siswanto menerangkan aturan pendidikan di SMA tersebut ketat. Bila siswa tak naik kelas, yang bersangkutan harus bersiap untuk keluar dari sekolah.

"Anak saya jurusannya IPA. Di sana sistemnya asrama, tapi anak saya enggak asrama karena kurang mampu. Anak saya dapat subsidi silang di sekolahnya dan hanya membayar uang sekolah sebesar Rp220 ribu per bulan," jelas Siswanto.


(Sebanyak 20 peserta OSC 2017 yang lulus seleksi dan mendapat beasiswa untuk berkuliah di Universitas Katolik Widya Mandala Semarang, Senin, 18 Desember 2017, sumber foto Medcom.id) 

Malam hari, panitia mengumumkan 240 nama peserta OSC yang lulus seleksi. Kebanggaan membuncah di dada Siswanto saat mendengar nama Maria Puji Lestari sukses meraih beasiswa. Dari kejauhan, Siswanto melihat putrinya maju ke panggung. Maria dan 19 peserta lain menerima beasiswa masuk ke UKWMS. Air mata mengalir di pipi Siswanto. Usaha Maria berjalan lancar. Doanya dikabulkan.

"Saya itu berkaca-kaca, karena semangat anak saya besar sekali. Benar mas," pungkas Siswanto dengan kebanggaan di wajahnya.

OSC 2017 medcom.id bersama Avitex Cat Tembok merupakan program beasiswa yang menggandeng 12 perguruan tinggi swasta di Pulau Jawa. Peserta yang lulus seleksi mendapatkan beasiswa berupa bebas uang pangkal (biaya masuk) 100 persen, beasiswa hingga lulus untuk delapan semester berturut-turut, dan mendapat sertifikat pemenang OSC 2017.