• Card 1 of 30
Nasional

Raih Akreditasi A, UKDW Bertransformasi dengan Berbagai Program Andalan

Pelangi Karismakristi    •    14 Mei 2018 11:11

Salah satu sudut di kampus UKDW Yogyakarta. Foto: MI/ Furqon U Himawan Salah satu sudut di kampus UKDW Yogyakarta. Foto: MI/ Furqon U Himawan

Yogyakarta: Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta selalu berupaya meningkatkan mutu dan kualitas. Tak heran pada 12 September 2017, kampus ini berhasil meraih predikat Akreditasi A.

Rektor UKDW Henry Feriadi mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, predikat ini merupakan hasil dari proses branchmarking seberapa jauh upaya UKDW dalam meningkatkan mutunya.

"Ini bermula dari sistem penjaminan mutu yang makin lama kami perbaiki, dan kami dorong upaya itu untuk meningkatkan suasana atau atmosfer akademik yang baik. Tentu saja melibatkan mahasiswa dan dosen dalam hal pendidikan dan penelitian. Kami juga terus upayakan jejaring dengan partner internasional kami di luar negeri," tutur Henry yang ditemui di Kampus UKDW, Jalan Doktor Wahidin Sudirohusodo No. 5 – 25, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Bagi Rektor UKDW, akreditasi A bukan tujuan akhir. Melainkan justru titik awal sebagai motivasi meningkatkan diri. 

"Tak cukup hanya dengan mempertahankan, namun juga mengidentifikasi kekuatan seperti apa yang dimiliki, apa yang bisa dikembangkan dan sumbangkan untuk pengetahuan pengembangan iptek terutama yang bermanfaat bagi Indonesia," lanjutnya.


Rektor UKDW Henry Feriadi. Foto: Medcom.id/ Pelangi K

Sebagai wujud dari upaya perbaikan ini, UKDW membentuk satu unit kegiatan untuk mengembangkan enterpreneurship dan inovasi melalui penelitian, yakni Centre of Enterpreneurship and Innovation (Centrino). Ini adalah salah satu wadah untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi Revolusi Industri 4.0.

"Menghadapi Revolusi Industi 4.0 tak hanya cukup menguasai digital information, tapi juga soft skill. Percuma kita punya inovasi dan iptek, tapi lupa softskill atau karakter. Kami ingin keduanya imbang, kami terus olah pendidikan karakter dan dibuat relevan dengan keadaan yang sekarang ini," paparnya.

Selain itu, UKDW juga masih mempertahankan program International Service Learning yang telah menjadi kegiatan unggulan selama sepuluh tahun. Program ini akan mengajak mahasiswa UKDW dan mahasiswa dari beberapa negara lain melakukan tindakan nyata di sejumlah desa. 

"Mereka akan live in selama sebulan untuk hidup bersama masyarakat dan mencoba mengerti (kondisi desa) serta membantu meningkatkan kesejahteraan hidup di sana. Ada mahasiswa dari Korea, Taiwan, Australia, Hongkong dan  tahun ini akan lebih banyak lagi kami libatkan mahasiswa asing. Supaya mereka mengerti dan merasakan bagaimana karakter masyarakat, peduli dan memberikan perhatian pada mereka," jelas Henry.

Tak hanya itu saja, UKDW kini juga menghidupkan kembali radio kampus yang vakum selama satu tahun karena dalam masa pembenahan. Dirinya ingin radio ini menjadi jembtan untuk menginformasikan hal baru soal UKDW dan juga tantangan yang akan dihadapi masyarakat saat ini maupun yang akan datang.

"Dari radio, mahasiswa kami juga bisa belajar mengelola radio yang puny keunikan sendiri. Radio menjadi media yang bisa menjangkau masyarakat luas, kita ingin menggunakannya sebagai media untuk menyebarkan kabar baik perdamaian dan transformasi yang sesuai dengan value universitas yang kami junjung tinggi," ucap pria yang mengenyam pendidikan S3 nya di National University of Singapore.

Ke depan Henry berharap UKDW tak hanya punya reputasi di level nasional saja, melainkan juga internasional. Maka dari itu, kini UKDW juga terus menggodok program Visitting Professor yang akan hadir dari Amerika, Thailand dan Australia.

"Para profesor itu nantinya akan memberi kuliah umum dan melakukan riset bersama UKDW. Hal itu karena kami tak hanya ingin dikenal di level nasional, tapi ingin juga dikenal pada level internasional, mulai dari region Asia dan seluruh dunia," kata dia.