• Card 1 of 30
Pendidikan

Kecakapan Sosial Kunci Menangkan Persaingan 4.0

Intan Yunelia    •    31 Agustus 2018 15:48

Kuliah umum dengan tema Skill Shift (Pergeseran Keahlian) di Era Ekonomi Digital, di kampus UKWMS, dokumentasi Humas UKWMS. Kuliah umum dengan tema Skill Shift (Pergeseran Keahlian) di Era Ekonomi Digital, di kampus UKWMS, dokumentasi Humas UKWMS.

Jakarta:  Berkiprah di era revolusi industri 4.0 tidak cukup hanya bermodalkan penguasaan keterampilan akademik, namun juga kecakapan sosial. 

Majalah The Economists edisi 14 Januari 2017 menampilkan, laporan khusus yang menggambarkan pentingnya kecakapan sosial (social skills) dalam bekerja. Pola perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa sejak 1980 yang dibutuhkan adalah mereka dengan kecakapan sosial yang tinggi, meskipun keterampilan akademiknya rendah.

"Mereka dengan keterampilan matematika yang tinggi, tetapi kecakapan sosial rendah tidak dibutuhkan di era revolusi industri 4.0," kata Dekan Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Lodovicus Lasdi dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018.

Menanggapi fenomena tersebut, Fakultas Bisnis bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), menggelar kuliah umum dengan tema Skill Shift (Pergeseran Keahlian) di Era Ekonomi Digital. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Yanuar Nugroho Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis.

“Diikuti 400 mahasiswa, dari Fakultas Bisnis, dan Ilmu Komunikasi.  Melalui kuliah umum ini, mahasiswa sebagai generasi milenial dituntut untuk menyadari, dan menyiapkan diri dalam menghadapi era revolusi industri 4,0,” tutur Lodovicus.

Materi yang disampaikan Yanuar berangkat dari tanda-tanda zaman, ketika digital mulai masuk dalam kehidupan manusia. Pengguna internet di seluruh dunia yang terus bertambah, hingga percepatan pertumbuhan pengguna teknologi.

Beberapa hal penanda revolusi industri 4.0 di antaranya, menyatunya dunia fisik, digital dan biologis secara daring.  "Di mana perangkat telepon selular pintar sudah mampu menghitung berapa langkah kita berjalan, kalori yang masuk dalam tubuh, kemudian penyimpanan memori, atau data yang tidak perlu menggunakan hard drive, melainkan bisa menggunakan sistem cloud," papar Yanuar.

Yanuar dalam paparannya menjelaskan, pergeseran keahlian sebenarnya bukan persoalan utama.  Namun tantangan bagi generasi muda yang ada, untuk menjadi lebih kreatif, dan mampu meningkatkan kemampuan dirinya.

"Karena jika kita tidak mau beradaptasi, dengan mudahnya hal-hal yang bisa kita lakukan akan digantikan oleh robot," jelas Yanuar.

Baca: Komitmen Penerima Beasiswa OSC Dipuji, Semua On The Track

Hal ini juga, kata Yanuar, merupakan salah satu dampak dari revolusi industri 4.0.  Ketika jutaan pekerjaan akan berkurang digantikan oleh mesin, robot, kecerdasan buatan, dan perangkat komputasi.  Kecanggihan teknologi justru harus menjadi kekuatan untuk mencari peluang di masa depan.

“Mudahnya saja usaha seperti airbnb bisa mempunyai keuntungan yang berlimpah, padahal mereka tidak mendirikan hotel namun hanya menjadi perantara antara pemilik hotel dan pelanggan," sebut Yanuar.

Contoh lain juga terjadi di dunia perbankan, jumlah orang yang menggunakan online banking lebih banyak daripada yang datang ke bank secara langsung,” ujar Yanuar.

Menurutnya, masyarakat terutama dunia pendidikan harus menjadi lebih peka dalam melihat kebutuhan pekerjaan, keterampilan apakah yang lebih dibutuhkan dan tinggalkan yang bisa dikerjakan oleh robot. “Universitas pun harus mempertimbangkan kembali kurikulum yang akan digunakan agar relevan dengan era digital ini, atau mungkin membuka program studi baru yang membantu mahasiswa menghadapi tantangan digital,” tutur Yanuar .