• Card 1 of 30
Nasional

Sistem Ganjil Genap Dorong Warga Pindah Moda Transportasi

Siti Yona Hukmana    •    13 Maret 2018 11:40

Ilustrasi ganjil genap di Gerbang Tol Bekasi Barat - ANT/Widodo S Jusuf. Ilustrasi ganjil genap di Gerbang Tol Bekasi Barat - ANT/Widodo S Jusuf.

Jakarta: Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menilai penerapan ganjil genap di Gerbang Tol Bekasi Barat dan Timur sangat baik untuk mendorong perpindahan moda transportasi. Dia berharap penerapan sistem itu tidak hanya di Bekasi tetapi diterapkan di akses pintu tol lain.

"Pemberlakuan ganjil genap itu bisa berlanjut sehingga nanti masyarakat beralih ke angkutan umum dan bisa menjadi ikon transportasi menghadapi Asian Games lebih baik," kata Djoko kepada Medcom.id, Selasa, 13 Maret 2018.

Ia menegaskan revitalisasi angkutan umum di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) mutlak harus segera dilakukan. Ini supaya kemacetan di perkotaan bisa berkurang, udara semakin nyaman, publik makin senang, dan lalu lintas makin lancar. 

Djoko memahami aturan ini tidak membuat semua warga senang. Sama halnya, kata dia, saat KRL Jabodetabek melakukan pembenahan. 

Bahkan kala itu penumpang kereta demo di beberapa stasiun. Namun, kata dia, dengan berjalannya waktu dan pelayanan semakin bagus, publik akhirnya banyak yang beralih menggunakan KRL. 

"Dengan begitu target tercapai, kualitas layanan terus ditingkatkan. Kata kuncinya, komitmen yang kuat dari regulator untuk berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas angkutan umum," tukas dia. 

(Baca juga: Kebijakan Ganjil Genap Turunkan Kepadatan Kendaraan di Tol Cikampek)

Djoko menambahkan salah satu upaya untuk mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum adalah dengan memperpanjang layanan bus Transjakarta hingga kawasan Bodetabek. Juga memberikan layanan angkutan umum yang tersedia di seluruh kawasan perumahan di Bodetabek.

"Layanan bus hingga seluruh kawasan perumahan bisa dioperasikan pada jam sibuk dan bisa masuk hingga pusat kota Jakarta. Pada jam tidak sibuk cukup singgah di stasiun KRL terdekat," ujar dia. 

Dia bilang kesalahan masa lalu adalah ketika pengembang membangun kawasan perumahan tidak diwajibkan menyediakan rute sarana angkutan umum. Akibatnya penduduk daerah penyangga Jakarta (Bodetabek), rata-rata membawa kendaraan pribadi yang sebagian besar melalui jalan tol.

(Baca juga: Berkapasitas 500 parkir mobil, Stadion Bekasi Penuh Setiap Hari)

Untuk mendorong penumpang beralih ke KRL, Ia mendukung perpanjangan jaringan pelayanan KRL hingga Cikarang.  "Tapi belum bisa maksimal karena jalur dwiganda belum selesai terbangun," ungkap Djoko.

Maka itu, kata Djoko, muncul solusi lain yaitu membangun  LRT Jabodetabek, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta. 

"Inilah upaya untuk meningkatkan pengguna angkutan umum 40 persen sesuai Rencana Induk Transportasi Jabodetabek pada 2019 dan 60 persen pada 2039," pungkas dia. 

(Baca juga: Angkutan Massal Mulai Bergeliat di Bekasi)