• Card 14 of 30
Nasional

Proses Perekrutan Pengemudi Taksi Daring Dikeluhkan

20 April 2018 17:09

Ilustrasi/Medcom.id-Rizal Ilustrasi/Medcom.id-Rizal

Jakarta: Proses perekrutan pengemudi transportasi daring alias online dinilai masih banyak kelemahan. Hal ini dianggap menjadi latar belakang banyaknya kejadian yang merugikan konsumen mulai dari pemerasan, pencabulan, hingga pembunuhan.
 
Peneliti dari lnstitut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang mengatakan verifikasi dalam proses rekrutmen pengemudi transportasi online sangat minim. Akibatnya, siapa saja bisa dengan mudah menjadi pengemudi.
 
"Penyebab kriminalitas juga karena sangat mudahnya menjadi mitra pengemudi transportasi online. Banyak juga kasus memakai mobil yang tak sesuai data di aplikasi. Ini terjadi karena lemahnya verifikasi," katanya melalui keterangan tertulis, Jumat, 20 April 2018.
 
Bahkan, kata dia, hanya dalam hitungan jam, pendaftar bisa langsung menjadi pengemudi transportasi online.
 
"Tak ada tes psikologi dalam rekrutmen. Padahal faktor psikologis sangat penting untuk melihat sejauh mana emosi pengemudi. Tes psikologi sangat penting bagi pengemudi angkutan umum," kata dia saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi tentang transportasi online di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
 
Persoalan-persoalan itu, lanjutnya, terjadi karena penyedia layanan transportasi online masih berbasis perusahaan aplikasi, bukan perusahaan transportasi.
 
Baca: Pemerintah Siapkan Aturan Ojek Online jadi Perusahaan Transportasi
 
Kepala Subdirektorat Angkutan Orang Kementerian Perhubungan, Syafrin Liputo, mengatakan Kementerian Perhubungan juga menyoroti masalah perlindungan konsumen ini. Makanya, Kemenhub saat ini tengah menyiapkan draf mengenai aturan perusahaan aplikasi menjadi perusahaan transportasi, khususnya untuk aplikasi transportasi online.
 
Pada 28 Maret draf aturan itu sudah disepakati Menteri Perhubungan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Koperasi, dan Kepala Staf Kepresidenan.
 
“Perusahaan aplikasi transportasi online wajib menjadi perusahaan transportasi," kata Syafrin.
 
Saat ini pemerintah sedang menyiapkan aturan tersebut agar ke depan perlindungan terhadap konsumen lebih maksimal.
 
Untuk perekrutan pengemudi yang sporadis, Syafrin mengatakan Kemenhub sudah menyurati dan memberi teguran keras ke aplikator.