• Card 23 of 30
Ekonomi

Industri Kapal Tiongkok Lirik Indonesia

24 Oktober 2017 11:12

Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia) Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

INDUSTRI kapal Xiamen, Tiongkok, berharap bisa menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam pembuatan kapal. Terlebih selama ini industri kapal Xiamen sudah terkenal dalam mengekspor kapal hingga ke luar negeri.

"Sejak perusahaan milik BUMD Xinamen itu berdiri pada 1858, setidaknya sudah ada ratusan kapal yang diproduksi untuk diekspor ke Eropa," ungkap Li Zhun, perwakilan industri kapal Xiamen, kepada rombongan jurnalis asal Indonesia termasuk Media Indonesia, di Tiongkok, Senin 23 Oktober 2017.

Kunjungan jurnalis Indonesia ke Tiongkok dilakukan pada 22-29 Oktober dan difasilitasi Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta.

Pada kesempatan itu, para wartawan juga berkesempatan menyaksikan langsung proses pembuatan kapal untuk angkutan mobil berkapasitas 8.500 mobil. Bahan dasar pembuatan kapal ialah baja yang diproduksi di dalam negeri.

Akan tetapi, kata Li, mesin kapal bisa diimpor sesuai dengan keinginan pembeli. Industri kapal Xiamen termasuk yang terbesar di Tiongkok. Perusahaan itu bisa juga membuat kapal untuk keperluan pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di laut.

"Sudah banyak pembangkit listrik yang dibangun dengan kapal buatan kami," ungkap Li.

Selain itu, kata Li, pihaknya mampu membuat kapal roro untuk angkutan penumpang. Industri kapal tersebut mempekerjakan sekitar 17 ribu karyawan. Selain keunggulan teknologi, kata Li, pihaknya mampu bersaing dengan perusahaan sejenis di Eropa karena faktor upah buruh yang relatif murah.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia Eddy Kurniawan menyampaikan saat ini 90 persen proyek pembangunan kapal baru dipesan pemerintah, terutama oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"Kapal Kemenhub masih diselesaikan seperti kapal patroli. Tahun depan kita juga membutuhkan kapal perintis sebanyak 70 unit," tutur Eddy.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan saat ini masih banyak transportasi nasional termasuk dalam program tol laut menggunakan kapal-kapal yang sudah tua sehingga perlu diganti dengan kapal-kapal yang lebih baru. (Media Indonesia)