• Card 1 of 30
Pilkada

Hate Speech dan Hoax Diprediksi Warnai Pilkada

inten Suhartien    •    22 Februari 2018 03:56

Surat suara [ilustrasi]. (foto: ANTARA/Sigid Kurniawan). Surat suara [ilustrasi]. (foto: ANTARA/Sigid Kurniawan).

Jakarta: Ujaran kebencian atau hate speech diprediksi akan mewarnai penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018. Bahkan, ketika salah satu calon dianggap kuat tak menutup kemungkinan adanya gerakan-gerakan penyebar hoak atau berita bohong untuk menurunkan elektabilitas calon tersebut.

Deputi IV Staff Kepresidenan Eko Sulistyo mengatakan, hate speech atau hoax itu sengaja dilakukan untuk menciptakan suasana tidak aman di masyarakat. Dia mengingatkan, kepada semua pihak khususnya kepada para calon kepala daerah untuk lebih berhati-hati saat melakukan kampanye secara terbuka.

"Sehingga pada pidato, kandidat jangan memberikan pidato yang berpotensi membelah masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, faktor penyebab masih adanya masyarakat yang termakan dengan isu-isu bohong adalah perbedaan pandangan dan pertemanan tanpa melihat fakta di lapangan.

Senada dengan Eko, Humas Polri Kombes Sri Suari menyebut hasil temuan pihaknya hal yang paling mengancam penyelenggaraan Pilkada serentak itu adalah ujaran kebencian dan penyebaran hoax. Hal ini bahkan sudah banyak ditemukan melalui media sosial.

Sehingga, dibutuhkan kecerdasan masyarakat untuk menelaah kembali informasi yang beredar termasuk media sosial. Untuk menekan hate speech itu, Polri pun mengerahkan petugas siber selama 24 jam guna melakukan pemetaan, meredam, dan melakukan penindakan sebagai langkah terakhir.