• Card 1 of 30
Nasional

KPK Mengantongi Nama yang Terlibat Kasus Bank Century

Juven Martua Sitompul    •    23 April 2018 11:05

Ketua KPK Agus Rahardjo - ANT/Wahyu Putro A. Ketua KPK Agus Rahardjo - ANT/Wahyu Putro A.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengantongi peran dari sejumlah pihak yang diduga ikut terlibat dalam kasus dugaan korupsi Bank Century. Bukti keterlibatan pihak-pihak itu didapat setelah penyidik dan penuntut KPK selesai melakukan kajian dan analisis terkait putusan kasasi kasus Century, yang menjerat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya.

"Kita sudah selesai melakukan kajian. Setelah praperadilan itu, kita tugaskan penyidik dan penuntut umum menetapkan siapa saja dan perannya apa juga kita pasti melihat amar putusan dari kasus yang sebelumnya (Budi Mulya)," kata Ketua KPK Agus Rahardjo saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin, 23 April 2018.

Selain putusan perkara Budi Mulya, menurut Agus, tim penyidik dan jaksa penuntut juga melakukan kajian berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Termasuk menelaah berbagai buku dan referensi lain terkait skandal Century.

"Kemudian menggali informasi dari berbagai tempat, anak-anak (penyidik) saya suruh baca buku-buku pak Kwik Kian Gie, suruh baca itu banyak yang menulis itu (Century)," ujar dia. 

Agus menyatakan, tim penyidik dan jaksa penuntut sudah siap memaparkan hasil kajian dan analisis tersebut. Namun, hal itu akan dilakukan setelah kelima pimpinan berkumpul.

"Sebetulnya masukan dari mereka sudah siap, saya belum baca karena masukan mereka dipaparkan di depan pimpinan, kami masih nunggu kapan pimpinan kumpul," ucap dia.

(Baca juga: KPK Siapkan Strategi Ungkap Kasus Century)

Agus bahkan tak membantah bakal membuka penyidikan termasuk menetapkan tersangka baru dalam kasus Bank Century ini. Oleh karenanya, dia meminta semua pihak bersabar dan menunggu sampai kelima pimpinan benar-benar siap melakukan gelar perkara.

"Mohon bersabar sebentar bahwa kemungkinan dibuka penyidikan baru, bahkan mungkin dari fakta yang ada langsung kemudian ditersangkakan sangat mungkin kita akan bicarakan minggu depan kalau pimpinan lengkap kumpul berlima," tukas dia. 

"Jadi mohon bersabar saja, janji kami KPK tidak akan menghkhianati bangsa ini kalau alat bukti cukup indikasi sangat kuat pasti kita akan tindak lanjuti," ucap Agus menambahkan.

Budi Mulya sendiri dihukum majelis hakim Mahkamah Agung selama 15 tahun penjara. Sementara dalam dakwaan Jaksa KPK di tingkat pertama Budi Mulya selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang IV Pengelolaan Moneter dan Devisa didakwa memperkaya diri sebesar Rp1 miliar dari pemberian FPJP Bank Century dan atas penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Budi Mulya juga didakwa memperkaya pemegang saham Bank Century, Hesham Talaat Mohamed Besheer Alwarraq, dan Rafat Ali Rizvi, sebesar Rp3,115 miliar. Perbuatan Budi Mulya dinilai telah memperkaya PT Bank Centurysebesar Rp1,581 miliar dan Komisaris PT Bank Century Robert Tantular sebesar Rp2,753 miliar.

(Baca juga: KPK Dalami 10 Nama di Kasus Century)

Dia juga diduga menyalahgunakan wewenang secara bersama-sama dengan pejabat Bank Indonesia. ‎Dalam dugaan korupsi pemberian FPJP Century, Budi Mulya didakwa bersama-sama dengan Boediono selaku Gubernur BI, Miranda S Goeltom selaku Deputi Senior BI, Siti Fadjriah selaku Deputi Gubernur Bidang VI, Budi Rochadi selaku Deputi Gubernur Bidang VII, Robert Tantular, dan Harmanus H Muslim.

Tak hanya itu, Budi Mulya juga didakwa bersama-sama dengan Boediono, Miranda, Siti, Budi Rochadi, Muliaman D Hadad selaku Deputi Gubernur Bidang V, Hartadi A Sarwono selaku Deputi Gubernur Bidang III, Ardhayadi M selaku Deputi Gubernur Bidang VIII, dan Raden Pardede selaku Sekretaris KSSK.

Namun pada proses perjalanan kasusnya, KPK hanya menjebloskan Budi Mulya ke bui. KPK belum menjerat pihak lain padahal nama-nama besar yang diduga terlibat pada kasus korupsi pemberian FPJP Bank Century dan penetapan Bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik itu kerap disebut dalam persidangan.

(Baca juga: Jabatan Firli Tak Hambat Pengusutan Keterlibatan Boediono)