• Card 1 of 30
Nasional

KPK Periksa Direktur RS Medika Permata Hijau

Juven Martua Sitompul    •    09 Februari 2018 11:53

Juru Bicara KPK Febri Diansyah--Antara/Reno Esnir Juru Bicara KPK Febri Diansyah--Antara/Reno Esnir

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Hafil Budianto Andulgani. Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo.

"Dia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka BST (Bimanesh Sutarjo)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Februari 2018.

Selain memanggil Hafil, penyidik juga mengagendakan pemeriksaan terhadap dokter RS Medika Permata Hijau lainnya yakni Nadia Husein Hamedan. Dia juga diperiksa untuk tersangka yang sama.

Nama Hafil mencuat dalam surat dakwaan Fredrich Yunadi. Dalam surat dakwaan itu, Hafil dihubungi oleh Plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau, dokter Alia, untuk meminta persetujuan rawat inap Novanto.

Baca: Perawat RS Medika Permata Hijau Dipanggil KPK

Sebelum menghubungi Hafil, Alia lebih dulu dihubungi Bimanesh dan meminta Alia menyiapkan ruang VIP untuk rawat inap Novanto yang direncanakan akan masuk dengan diagnosis penyakit hipertensi berat.

Namun, Hafil menyarankan agar dilakukan sesuai prosedur yang ada yakni, melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) terlebih dahulu agar dievaluasi dan baru ditentukan bisa dirujuk ke dokter spesialis oleh dokter yang bertugas di IGD.



Sementara itu, Bimanesh dalam dakwaan Fredrich disebut ikut bersama-sama mengatur agar Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau untuk menghindari proses hukum yang berjalan di KPK. Salah satunya, membantu membuat surat pengantar rawat inap yang sebelumnya diminta oleh Fredrich kepada dokter Michael Chia Cahaya, namun ditolak.

Pada akhirnya, Bimanesh menggunakan form surat pasien baru IGD padahal dirinya bukan dokter jaga IGD. Dalam surat pengantar rawat inap itu, Bimanesh menuliskan diagnosis hipertensi, vertigo, dan diabetes melitus sekaligus membuat catatan harian dokter yang merupakan catatan hasil pemeriksan awal terhadap pasien padahal dia belum pernah memeriksa Novanto.

Atas perbuatannya, Bimanesh dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.