• Card 1 of 30
Nasional

KPK Minta Fredrich Tuangkan Bantahan di Persidangan

Juven Martua Sitompul    •    09 Februari 2018 20:34

Juru bicara KPK Febri Diansyah/ANT/Sigid Kurniawan Juru bicara KPK Febri Diansyah/ANT/Sigid Kurniawan

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan Fredrich Yunadi tidak banyak berbicara di luar persidangan. Dia meminta, Fredrich menuangkan semua bantahannya dalam nota pembelaan atau eksepsi.
 
"Keberatan itu silakan dituangkan dalam eksepsi. Kalau itu menjadi materi muatan eksepsi atau silakan nanti di argumentasikan pada jadwal-jadwal pembuktian. Ini sangat terbuka, ketika jaksa penuntut umum mengajukan bukti silakan diajukan bukti sebaliknya," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 9 Februari 2018.
 
Menurut Febri, lembaganya tidak khawatir dengan kicauan Fredrich di luar sidang. Apa lagi, kata dia, penyidik memiliki cukup bukti Fredrich ikut terlibat atau otak di balik 'penyelamatan' terdakwa korupsi KTP-el Setya Novanto.
 
"Sudah kita jelaskan, sudah runut di dalam dakwaan tersebut. Secara clear kita sampaikan di sana bahwa sebelum peristiwa kecelakaan tersebut terjadi sudah ada koordinasi dengan pihak dokter dan juga di rumah sakit," ujarnya.

Baca: Fredrich Tuding Jaksa KPK Mengancam Keluarganya
 
Febri meminta tim hukum Fredrich membuktikan bantahannya di persidangan. Dia berharap, tim hukum Fredrich mau mengadu argumennya di dalam sidang bukan di luar sidang.
 
"Rincinya tentu tinggal dilihat di fakta persidangan. Kalau pengacara keberatan silakan saja diajukan di persidangan berikutnya," kata Febri.
 
Fredrich sebelumnya di Pengadilan Tipikor menuding Jaksa KPK telah membuat dakwaan palsu. Menurut Fredrich, Setya Novanto dipaksa penyidik untuk mencabut 12 surat kuasa yang pernah diberikan Novanto kepada dirinya termasuk surat kuasa pelaporan dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Saut Situmorang.
 
Fredrich mengklaim memiliki bukti kuat meskipun di dalam dakwaan banyak poin yang menyebutkan dirinya memalsukan. Menurutnya, justru penyidik KPK yang melakukan rekayasa.
 
Fredrich didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Ancaman pidana bagi Fredrich dalam dakwaannya penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 12 tahun dan atau denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta.