the fed
30cards

the fed

Updated 14 Oktober 2018 12:54
  1. Trump: The Fed Sudah "Gila"
  2. Bos Fed Puji Kebijakan BI Selamatkan Rupiah
  3. Normalisasi Moneter AS Masuki Tahap Akhir
  4. Negara Berkembang Perlu Antisipasi Penaikan Suku Bunga AS
  5. Pernyataan Powell Bebani Pasar Saham USD1,5 Triliun
  6. Fed Kembali Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga
  7. Fed: Pertumbuhan Ekonomi Global di Bawah Tekanan
  8. The Fed Dinilai Kurang Agresif Dukung Perekonomian AS
  9. Fed Beri Sinyal Lebih Banyak Naikkan Suku Bunga
  10. Trump Tidak Senang dengan Keputusan Kenaikan Suku Bunga
  11. Pemerintah Lakukan Penyesuaian dengan Kebijakan Moneter AS
  12. Komentar Sri Mulyani soal Penaikan Suku Bunga The Fed
  13. Fed Akui Perubahan Kebijakan Buat Ekonomi Negara Berkembang Tertekan
  14. The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan
  15. Rupiah Bisa Dikendalikan Walau Suku Bunga The Fed Naik
  16. Ekonom Nilai Fed Perlu Perlambat Kenaikan Suku Bunga
  17. The Fed Dinilai Mulai Melihat Perubahan Tren Inflasi
  18. Trump Tidak Menyesal Tunjuk Powell sebagai Ketua Fed
  19. Rupiah Anjlok Akibat Sentimen Rencana Kenaikan Suku Bunga The Fed
  20. The Fed akan Tetap Bertahap Naikkan Suku Bunga
  21. Rupiah Melemah Jelang Risalah The Fed
  22. Perang Dagang Berpeluang Perlambat Laju Kenaikan Suku Bunga AS
  23. Federal Reserve Pertahankan Suku Bunga Acuan
  24. Kritik Trump terhadap The Fed Dinilai Tanda Bahaya
  25. Ketua Fed Sebut Cryptocurrency Beri Risiko Besar bagi Investor
  26. Trump Tidak Senang The Fed Naikkan Suku Bunga
  27. Fed: Manufaktur Soroti Kekhawatiran Tarif Trump
  28. Ketua Fed: Kenaikan Suku Bunga Bertahap Jalur Terbaik Saat Ini
  29. Fed Sebut Tarif Trump Bisa Ubah Kondisi Ekonomi AS
  30. Penaikan Suku Bunga Belum Dapat Mengimbangi The Fed
  • Card 1 of 30
Ekonomi

Goldman Sachs Perkirakan Suku Bunga AS Bisa Naik Signifikan

Angga Bratadharma    •    15 Mei 2018 11:05

Ilustrasi (AFP/Chris Hondros) Ilustrasi (AFP/Chris Hondros)

New York: Defisit anggaran dan tingkat pengangguran Amerika Serikat (AS) sedang menuju ke arah yang berlawanan. Kondisi itu sesuatu yang tidak pernah terjadi selama masa damai usai Perang Dunia II dan dapat menyebabkan lonjakan suku bunga acuan secara signifikan.

Mengutip CNBC, Selasa, 15 Mei 2018, Goldman Sachs, misalnya, memperkirakan imbal hasil treasury AS 10 tahun bisa mencapai 3,6 persen pada 2019. Tentu kenaikan imbal hasil ini bisa memberikan efek terhadap pergerakan ekonomi di AS termasuk keputusan the Fed untuk mengubah suku bunga acuan.

Kenaikan defisit juga akan datang karena rentetan stimulus fiskal baru-baru ini yang datang dari Kongres, termasuk pemotongan pajak USD1,5 triliun yang disetujui pada Desember 2017 dan RUU pengeluaran USD1,3 triliun yang bertujuan untuk menjaga pemerintah beroperasi sampai akhir tahun fiskal.

Biasanya pergerakan seperti itu akan datang pada tahap awal pemulihan ekonomi. Meski demikian, ekonomi AS berada di tahun kedelapan dari ekspansi keuangannya usai krisis dan ekspansi tersebut lumayan besar seperti sebelumnya.



Tingkat pengangguran sekarang di posisi 3,9 persen dan terus jatuh, sementara defisit anggaran berada di USD668 miliar pada 2017. Kantor Kongres Anggaran memperkirakan defisit tersebut bisa mencapai USD1 triliun pada 2020. Ekonom Goldman Sachs menilai kondisi tersebut merupakan fenomena ganda yang sangat tidak biasa di AS.

Untuk memenuhi kemampuan membayar peningkatan beban utang, AS harus menerbitkan lebih banyak obligasi pada saat Federal Reserve tidak lagi menjadi pemain di pasar. Semakin banyak pasokan dan semakin sedikit pembeli berarti pemerintah harus membayar lebih banyak ke investor untuk membeli utang AS dan itu akan berarti suku bunga yang lebih tinggi.

Goldman Sachs secara khusus memproyeksikan imbal hasil treasury AS mencapai 3,6 persen pada akhir 2019, naik dari level tiga persen pada perdagangan sekarang ini dan pada titik di mana imbal hasil surat utang AS tersebut bisa mulai menerapkan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Dorongan permintaan yang cukup besar oleh pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran pada saat ekonomi sudah agak di luar pekerjaan penuh adalah keberangkatan yang mencolok dari norma-norma historis yang kemungkinan akan berkontribusi memanaskan ekonomi di tahun ini dan berikutnya," tegas Ekonom Goldman Daan Struyven dan David Mericle.

 

the fed
30cards

the fed

Updated 14 Oktober 2018 12:54
  1. Trump: The Fed Sudah "Gila"
  2. Bos Fed Puji Kebijakan BI Selamatkan Rupiah
  3. Normalisasi Moneter AS Masuki Tahap Akhir
  4. Negara Berkembang Perlu Antisipasi Penaikan Suku Bunga AS
  5. Pernyataan Powell Bebani Pasar Saham USD1,5 Triliun
  6. Fed Kembali Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga
  7. Fed: Pertumbuhan Ekonomi Global di Bawah Tekanan
  8. The Fed Dinilai Kurang Agresif Dukung Perekonomian AS
  9. Fed Beri Sinyal Lebih Banyak Naikkan Suku Bunga
  10. Trump Tidak Senang dengan Keputusan Kenaikan Suku Bunga
  11. Pemerintah Lakukan Penyesuaian dengan Kebijakan Moneter AS
  12. Komentar Sri Mulyani soal Penaikan Suku Bunga The Fed
  13. Fed Akui Perubahan Kebijakan Buat Ekonomi Negara Berkembang Tertekan
  14. The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan
  15. Rupiah Bisa Dikendalikan Walau Suku Bunga The Fed Naik
  16. Ekonom Nilai Fed Perlu Perlambat Kenaikan Suku Bunga
  17. The Fed Dinilai Mulai Melihat Perubahan Tren Inflasi
  18. Trump Tidak Menyesal Tunjuk Powell sebagai Ketua Fed
  19. Rupiah Anjlok Akibat Sentimen Rencana Kenaikan Suku Bunga The Fed
  20. The Fed akan Tetap Bertahap Naikkan Suku Bunga
  21. Rupiah Melemah Jelang Risalah The Fed
  22. Perang Dagang Berpeluang Perlambat Laju Kenaikan Suku Bunga AS
  23. Federal Reserve Pertahankan Suku Bunga Acuan
  24. Kritik Trump terhadap The Fed Dinilai Tanda Bahaya
  25. Ketua Fed Sebut Cryptocurrency Beri Risiko Besar bagi Investor
  26. Trump Tidak Senang The Fed Naikkan Suku Bunga
  27. Fed: Manufaktur Soroti Kekhawatiran Tarif Trump
  28. Ketua Fed: Kenaikan Suku Bunga Bertahap Jalur Terbaik Saat Ini
  29. Fed Sebut Tarif Trump Bisa Ubah Kondisi Ekonomi AS
  30. Penaikan Suku Bunga Belum Dapat Mengimbangi The Fed