• Card 1 of 30
Jawa Timur

Perhiasan Istri Digadai, Cara Nelayan Bertahan Hidup

Rahmatullah    •    21 Maret 2018 12:22

Seorang nelayan di Bangkalan mengarahkan perahu ke laut, Medcom.id - Rahmat Seorang nelayan di Bangkalan mengarahkan perahu ke laut, Medcom.id - Rahmat

Bangkalan: Nelayan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, tak berani melaut lantaran cuaca tak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, beberapa nelayan terpaksa menggadaikan barang berharga mereka.

Biasanya, saat sore, kesibukan tampak di pinggir laut di Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Bangkalan. Nelayan sibuk dengan perahu dan menyiapkan jaring. Beberapa lain membawa rantang nasi dan lauk untuk bekal melaut.


(Nelayan di Bangkalan tengah memperbaiki kapal, Medcom.id - Rahmatullah)

Tapi, kata Hamim, nelayan di Kelurahan Pangeranan, cuaca tak menentu terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Malah, ujar Hamim, ia sudah tak melaut sejak dua bulan lalu. Ia pun terpaksa menyandarkan perahu dan menyimpan alat tangkap.

"Anginnya kencang, gelombangnya juga tinggi. Sangat berisiko untuk melaut," kata Hamim kepada Medcom.id, Rabu, 21 Maret 2018.

Sementara ia harus memenuhi kebutuhan hidup dirinya bersama istri dan empat anaknya. Apalagi, anak-anaknya membutuhkan uang untuk sekolah.

Biasanya, Hamim melaut bersama para nelayan lainnya di perairan laut Bangkalan dan sekitarnya. Dari hasil tangkapan, ia dan rekan-rekannya mendapat kurang lebih satu ton ikan. Biasanya, Hamim mendapat Rp400 ribu sampai Rp500 ribu dari hasil tangkapan tersebut.

Hamim mengaku nelayan di Bangkalan nyaris tak beraktivitas. Banyak nelayan yang banting setir menjadi kuli bangunan dan menarik becak. Tapi hasil tangkapan menjadi lebih sedikit.

"Di antara nelayan juga terpaksa menggadaikan barang berharga untuk memenuhi kebutuhan," ungkap Hamim.

Hamim juga menggadaikan barang-barang berharga. Di antaranya, perhiasan istri.

Senada juga disampaikan Abullah, nelayan asal warga Dusun Bandaran, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan. Bapak empat anak itu mengatakan kondisi laut yang tak menentu juga mengakibatkan pendapatannya menurun. Biasanya antara Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk satu kali melaut, tapi kali ini hanya berkisar Rp50 ribu sampai Rp 100 ribu.

"Karena kami melaut itu menunggu cuaca di laut baik, terkadang kami harus balik arah karena cuaca buruk itu datang tiba-tiba," ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan Bangkalan, Abdul Rasjid, menyatakan selalu menyampaikan informasi jika ada potensi cuara buruk. Itu berdasarkan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) Tanjung Perak, Surabaya.

"Ini semata-mata kami sampaikan agar mereka selamat dan tidak terjadi kecelakaan laut," singkatnya.

Total jumlah nelayan di Bangkalan sebanyak 10.423 orang. Mereka tersebar di 10 kecamatan, yakni Tanjung Bumi, Sepulu, Klampis, Arosbaya, Socah, Kamal, Labang, Kwanyar, Blega, dan Modung.