• Card 1 of 30
Bola

Kisah Pengalaman Antonio Conte sebagai Pelatih

Kautsar Halim    •    25 Desember 2017 21:30

Antonio Conte. (AFP PHOTO / Paul ELLIS) Antonio Conte. (AFP PHOTO / Paul ELLIS)

London: Pelatih Chelsea, Antonio Conte, mengklaim harus mengambil keputusan yang sulit ketika ada salah satu pemainnya yang melakukan kesalahan. Beruntungnya, tantangan itu masih bisa terkendali  karena ia merasa memiliki pengalaman yang tepat.

Conte tiba di Stamford Bridge pada 2016 dan langsung mempersembahkan gelar juara Liga Primer Inggris ketika mengarung musim pertamanya bersama Chelsea. Namun, prestasi itu tampak sulit terulang pada musim 2017--2018 karena Chelsea sudah kalah empat kali dari 19 laga yang dilakoni.

Tantangan itu dipersulit lagi dengan performa City yang tampil sangat menawan sejak awal musim ini. Pasalnya, mereka belum pernah terkalahkan dan sedang bertengger di puncak klasemen sementara sambil meninggalkan Chelsea di urutan empat dengan jarak 16 poin.


Klik: Dembele Selangkah Lagi Gabung Brighton & Hove Albion


Selain perkara rival yang semakin berat, Chelsea juga dihadapkan dengan permasalahan internal. Salah satunya terkait gesekan antara Conte dengan salah satu beknya, yakni David Luiz. Menanggapi itu, Conte tidak ambil pusing karena ia mengaku sudah punya pengalaman untuk mengatasinya. 

"Saya sangat beruntung bisa bertemu banyak pelatih hebat ketika masih berkarier sebagai pemain. Saya ingat ketika pertama kali gabung ke Lecce ada dua orang yang berpengaruh, yakni Eugenio Fascetti dan Carlo Mazzone. Keduanya sangat penting untuk pertumbuhan saya," kata Conte.

"Saya terinspirasi dari mereka karena telah menggunakan 'wortel' (cara lembut) dan 'tongkat' (cara tegas) ketika memberikan pelatihan. Sejatinya saya lebih senang menggunakan wortel, tapi terkadang tongkat disiplin juga diperlukan agar Anda menjadi lebih kuat," tambahnya.

"Ketika ada seorang pemain yang melakukan kesalahan, saya dituntut mengenali situasi dan mencari solusi terbaik agar terhindar dari kesalahan yang sama di masa mendatang," lanjut Conte.


Klik: Liverpool Sudah Tampil Bertahan saat Ditahan Imbang Arsenal


Pep Guardiola sedang menjadi sorotan karena kontribusinya yang sukses mengawal City agar tampil apik di berbagai kompetisi musim ini. Kemudian, Zinedine Zidane juga tergolong pelatih sukses karena berhasil mempersembahkan sepasang gelar Liga Champions untuk Real Madrid. 

Berkaca dengan pencapaian itu, karier pelatih yang perjalanannya diawali dengan menjadi seorang pemain bintang tampaknya punya peluang keberhasilan yang lebih besar. Namun, Conte malah tidak sependapat  karena tugas menjadi seorang  pelatih punya kesulitan tersendiri yang lebih berat.

Bagi Conte, tugas sebagai pemain dan pelatih adalah dua hal yang sangat berbeda. Jika memilih menjadi pelatih, maka harus lebih banyak bekerja dengan strategi, menganalisa video, mengasah teknik bermain, dan bekerja keras menjaga mental positif para pemainnya. 

"Kebanyakan seorang pemain yang punya karier cerah berpikir bisa menjadi pelatih dengan cepat. Tapi kenyataannya untuk menjadi seorang pemain dan pelatih merupakan dua hal yang berbeda. Jadi Anda harus mendapat pengalaman yang tepat terlebih dahulu sebelum mengejar target besar," papar Conte.

"Ketika saya mendapat pengalaman pertama sebagai pelatih Arezzo di Serie B, klub tersebut sempat memecat saya setelah melakoni sembilan pertandingan. Tapi setelah itu, mereka kembali memanggil saya untuk mengawal pertandingan yang tersisa. Pengalaman itu benar-benar sangat berharga bagi saya," tambahnya.

"Sebetulnya, tugas menjadi pelatih sangat berat. Tapi, kepuasan itu bakal datang apabila seluruh tim tampil sesuai dengan yang Anda inginkan," tutup mantan gelandang bertahan Juventus dan timnas Italia tersebut. (espn)