• Card 1 of 30
Nasional

Trotoar Tanah Abang tak Ramah Difabel

Haifa Salsabila    •    05 Januari 2018 18:56

Lapak pedagang kaki lima di atas trotoar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: Medcom.id/Haifa Salsabila Lapak pedagang kaki lima di atas trotoar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Foto: Medcom.id/Haifa Salsabila

Jakarta: Penataan Jalan Jati Baru Raya di Tanah Abang untuk lapak pedangang kaki lima (PKL) bertujuan untuk memberikan akses bebas dan nyaman di trotoar bagi para pejalan kaki. Namun, penataan tersebut masih tak memberikan rasa aman bagi para pejalan kaki difabel, khususnya tuna netra. 

Pantauan Medcom.id, masih banyak para pedagang yang meletakkan barang dagangannya di atas trotoar Jalan Jati Baru Raya di seberang stasiun Tanah Abang. Barang dagangan tersebut bahkan menutupi garis kuning penunjuk jalan bagi tuna netra atau guiding block

Guiding block merupakan garis kuning yang sering ditemui di trotoar maupun tempat umum lainnya dengan pola-pola distingtif berbentuk titik atau garis. Guiding block ini digunakan oleh penyandang tuna netra sebagai alat bantu untuk memandu mereka agar tidak bertabrakan dengan pejalan kaki lainnya. 

"Pejalan kaki saja susah lewatnya, bayangkan jika difabel harus melalui trotoar itu, tapi guiding block-nya ketutup dagangan," ujar aktivis Koalisi Pejalan Kaki Nurul Komari kepada Medcom.id, Jumat, 5 Desember 2018. 

Ia menuturkan, pihaknya telah mengeluhkan kondisi tersebut kepada pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas di kawasan Tanah Abang. Namun, responsnya tak mendapatkan respons yang berarti. 

"Jumat kemarin (29 Desember 2017), pas aksi, kita tanya langsung ke petugas di sana, tapi enggak ada tanggapan dan lempar tanggung jawab," sambung Nurul. 

Baca: Tanah Abang Dinilai Bisa seperti Portobello Market di London

Sementara itu, salah satu petugas Satpol PP Ariev yang bertugas di kawasan Tanah Abang tak membenarkan hal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya kerap menyisir trotoar-trotoar di kawasan Tanah Abang untuk mengingatkan para pedangang agar tak melanggar aturan. 

"Kan enggak boleh jualan melawati jalur kuning itu, jadi kita jaga, selalu kita sisir. Kalau ada yang bandel, kita suruh mundur biar jangan melanggar aturan," ungkap Ariev kepada Medcom.id

Ia mengakui memang terkadang ada pedagang yang nakal menggelar barang dagangan hingga menutupi jalur guiding block, tapi pihaknya selalu mengimbau dan mengingatkan para pedagang tersebut. 



"Kita kasih tau selalu, kalau langgar kita suruh mundur tapi enggak sampai disita. Kan kasihan juga mereka, kadang enggak tahu fungsinya apa, karena bukan orang terpelajar," sambung Ariev. 

Beberapa pedagang di kawasan Jalan Jati Baru tersebut pun mengaku tak mengetahui fungsi garis kuning yang ada di trotoar-trotoar tersebut. Banyak dari mereka yang mengira garis kuning itu sebagai hiasan semata. 

"Saya enggak tahu, jadi saya pikir ketutup sedikit ya enggak masalah," ujar salah satu pedagang Rusdi saat ditanyai. 

Baca: Alasan PD Pasar Jaya Simpan PKL di Badan Jalan

Desember lalu, Pemprov DKI Jakarta meresmikan penataan kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penataan ini untuk menyinergikan pedagang kaki lima dan moda transportasi massal. 

Pola penataan kawasan Tanah Abang dilakukan dalam jangka panjang dan jangka pendek. Untuk penataan jangka pendek, Pemprov DKI menutup satu jalur di Jalan Jati Baru Raya menuju Blok G. Jalan itu untuk lokasi berjualan PKL.