• Card 1 of 30
Nasional

Tanah Abang Dinilai Bisa seperti Portobello Market di London

Haifa Salsabila    •    04 Januari 2018 16:04

Sejumlah tenda PKL berdiri di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta. Foto: Antara/Galih Pradipta. Sejumlah tenda PKL berdiri di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta. Foto: Antara/Galih Pradipta.

Jakarta: Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Iskandar Abubakar menilai penutupan Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, yang sekarang diisi lapak pedagang kaki lima (PKL) hal yang wajar. Pasalnya, kota-kota besar di luar negeri pun telah banyak mengonversi jalan menjadi pasar dan terbukti sukses. 

"Saya kira tidak ada yang salah dengan langkah yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta (Anies Baswedan)," tutur Iskandar dalam acara Focus Group Discussion: Penataan Lalu Lintas dan Kawasan Tanah Abang di Hotel Milenium, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Desember 2017. 

Ia memberikan contoh bagaimana Portobello Market di Kota London, Inggris, dan Dongdaemon Market di Kota Seoul, Korea Selatan, telah berhasil mengubah jalan menjadi pasar yang kemudian dikenal sebagai street market. Pasar-pasar ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata yang dikunjungi banyak turis. 

Menurut dia, pasar ini kemudian dapat menjadi menciptakan inspirasi atau inkubator bagi para pedagang baru. Dia mencontohkan pendiri Gado-Gado Baplo Juliana Hartono yang dulunya seorang PKL di halaman rumahnya. 

"Ini contoh pedagang kaki lima yang berhasil, maka ini bisa menjadi inkubator untuk usaha yang lebih besar," sambung Iskandar.

Baca: Alasan PD Pasar Jaya Simpan PKL di Badan Jalan

Namun, dia mengingatkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penataan Jalan Jati Baru Raya. Salah satunya sirkulasi arus kendaraan dan mobilitas pejalan kaki sebelum dan sesudah jalan diubah menjadi pasar. 

"Jaringan pejalan kaki di dalam kawasan pasar serta simpul-simpul transportasi dan perlindungan cuaca bagi pengunjung dan pedagang juga perlu diperhatikan," kata  Iskandar.