• Card 1 of 30
Nasional

Putra Chairuman Mengelak Pernah Terima Uang Titipan dari Irvanto

Damar Iradat    •    25 September 2018 14:53

Suasana sidang dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung - Medcom.id/Damar Iradat. Suasana sidang dengan terdakwa Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung - Medcom.id/Damar Iradat.

Jakarta: Putra Chairuman Harahap, Diatce Gunungtua Harahap membantah pernah menerima uang dari Irvanto Hendra Pambudi. Uang itu diduga dititipkan Irvanto untuk diserahkan kepada Chairuman. 

Diatce yang dihadirkan sebagai saksi dalam perkara korupsi KTP-el dengan terdakwa Irvanto dan Made Oka Masagung itu mengaku memang mengenal keponakan Setya Novanto itu. Jaksa lantas mengonfirmasi soal penerimaan uang tersebut.

"Pernah menerima titipan uang U$500 ribu dari Irvanto yang ditujukan ke Chairuman?" tanya jaksa kepada Diatce di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 25 September 2018.

Diatce yang merasa tidak pernah menerima uang itu lantas membantah. Ia mengaku sama sekali tidak pernah mendapat titipan uang dari Irvanto.

"Tidak pernah (menerima uang titipan dari Irvanto untuk Chairuman)," jawabnya. 

Irvanto sempat mengaku pernah menyerahkan uang US$1,5 juta kepada Chairuman. Pemberian uang itu dilakukan dalam dua tahap.

(Baca juga: Chairuman Dicecar soal Hubungan Putranya dan Irvanto)

Pertama, US$500 ribu diserahkan di Pondok Indah Mall 2 lewat putra Chairuman, Diatce Gunungtua Harahap. Sementara, pemberian kedua sebesar US$1 juta yang dilakukan di sebuah kafe di Hotel Mulia, Senayan.

Irvanto dan Made Oka didakwa menjadi perantara fee korupsi dalam proyek KTP-el untuk Novanto. Keduanya didakwa berperan merugikan keuangan negara Rp2,3 triliun.

Dalam dakwaan, disebutkan Irvanto bersama tim Fatmawati dengan anggota Andi Agustinus dan sejumlah pengusaha sepakat memenangkan salah satu konsorsium yakni PNRI, Astragraphia, dan Murakabi.

Selain itu, Irvanto juga melakukan pertemuan dengan Andi dalam membahas anggaran proyek KTP-el. Hal ini untuk memuluskan pemberian fee bagi Novanto dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) lainnya, sebesar lima persen dari nilai proyek tersebut.

Irvanto dan Oka didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.