• Card 1 of 30
Nasional

Anas Urbaningrum: This Is Not My War

K. Yudha Wirakusuma    •    14 Februari 2018 14:13

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum--MI/Yudhi Mahatma Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum--MI/Yudhi Mahatma

Jakarta: Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum membantah adanya pertemuan konspiratif untuk memfitnah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pernyataan itu dia lontarkan di balik jeruji Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, melalui surat klarifikasi.

Surat tersebut menanggapi tudingan adanya persamuhan antara Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, dan Saan Mustopa untuk merancang skenario fitnah terhadap SBY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Pertemuan itu disebut berlangsung tak lama sebelum kesaksian Mirwan Amir di persidangan terdakwa Setya Novanto dalam kasus KTP elektronik (KTP-el).

Surat tersebut dititipkan kepada pendukungnya yang datang menjenguk. Dalam tulisan itu, Anas mengatakan semua pertemuan di Sukamiskin tercatat rapi oleh otoritas lapas. Ada juga buku tamu dan CCTV yang bisa dicek, jika benar ada pertemuan konspiratif.

"This is not my war," sindir Anas dalam sepenggal kalimat penutup tulisan itu.


Jubir Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Tridianto, membenarkan Anas menitip surat kepadanya. Tri mengatakan Anas tak ingin ada hoaks kembali menyerangnya.

"Jangan sampai terjadi lagi kasus mobil Harrier yang hoaks itu. Bikin status Mas Anas jadi tersangka," kata Tri, Rabu, 14 Februari 2018.

Baca: Mirwan Amir Bantah Tulis Surat ke Pemred Metro TV


Tri tak ingin ada upaya mengaburkan fakta persidangan dengan upaya membuat berita hoaks pertemuan konspiratif di Lapas Sukamiskin. Apalagi jika dikaitkan dengan Firman Wijaya yang notabene mantan pengacara Anas.

"Tidak ada yang namanya mantan pengacara, begitu proses peradilan selesai, ya, selesai tugas Firman membela Mas Anas. Jangan sampai ada pihak yang mengaburkan fakta persidangan dengan intimidasi proses penegakan hukum dari luar persidangan," tegas Tri.

Baca: SBY Duga Ada Skenario Dibalik Penyebutan Namanya di Sidang KTP-el

Berikut isi surat lengkap Anas Urbaningrum yang ditulis dari Lapas Sukamiskin:

Salam Keadilan,

Sungguh ini hal yang lucu, lebih lucu ketimbang dagelan. Tetapi karena sudah disebarkan dan menjadi berita luas, hoaks ini perlu dibantah karena bisa menjadi virus jahat yang merusak dan menyesatkan.

Hampir bersamaan dengan pernyataan pers Pak SBY dan pelaporan Sdr. Firman Wijaya ke Bareskrim, disebarkan Surat Hoaks yang seolah-olah ditulis oleh Sdr. Mirwan Amir. Inti dari Surat Hoaks yang disebarkan itu adalah bahwa ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustopa untuk merancang skenario fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas. Pertemuan dan skenario fitnah itulah yang dipercaya terkait dengan kesaksian Mirwan Amir di persidangan Terdakwa Setya Novanto.

Surat Hoaks itu disebarkan oleh sebagian orang di lingkungan Pak SBY tanpa klarifikasi terlebih dahulu dan kemudian malah digoreng sedemikian rupa. Bahkan ada tulisan artikel tentang hal tersebut yang dimuat pada website resmi Partai Demokrat.

Terkait dengan hal tersebut, perlu saya nyatakan bahwa yang disebut 'Pertemuan Sukamiskin' itu adalah tidak ada dan tidak pernah terjadi. Itu adalah fitnah keji yang lahir dari imajinasi hitam dan buruk sangka yang tak terkendali.

Sangat mudah untuk membuktikan benar-tidaknya pertemuan itu. Terlalu banyak cara yang bisa ditempuh, seperti mengecek buku tamu, CCTV yang ada di mana-mana, dan menanyakan langsung kepada warga di Sukamiskin. Tidak ada tempat kunjungan tamu yang tertutup, tidak ada warga yang bisa merahasiakan tamunya. Apalagi kalau itu sebuah pertemuan.

Sungguh menyedihkan, ternyata ada yang mempercayai dan menyebarkan hoaks itu. Apalagi kemudian mengembangkan teori konspirasi. Sangat picik dan mengkhianati semangat dan kampanye anti-fitnah dan hoaks.

Saya mengerti bahwa jihad mencari keadilan adalah tindakan mulia. Tetapi, mencari keadilan yang disertai dengan (pembiaran penyebaran) hoaks dan fitnah justru berarti membelakangi keadilan itu sendiri dan terkesan lebih mementingkan gincu.

Hasrat akan citra, kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan adalah hak setiap orang. Tetapi untuk mencapainya tidak memerlukan syarat harus menghina dan menista orang lain dengan (pembiaran penyebaran) hoaks dan tuduhan konspirasi fitnah.

Penting ditegaskan bahwa saya adalah korban kesaksian hoaks tentang mobil Harrier dan sebagainya, yang dirancang sedemikian rupa, sehingga kemerdekaan saya dan semuanya telah dirampas dengan cara yang batil dan zalim. 

Sakitnya masih harus saya dan keluarga jalani sampai hari ini. Korban fitnah tidak akan menyakiti orang lain dengan fitnah. Mengapa? Karena saya percaya takdir dan datangnya hari keadilan, tetapi tidak dengan hoaks dan fitnah. Saya tidak tega dan tidak suka memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu menjijikkan!

Jadi, sudahlah.
Apalagi yang kurang?

This is not my war. Ini hanya pernyataan kebenaran.

 
Salam Kebenaran,
Sukamiskin, 10 Pebruari 2018
Anas Urbaningrum