• Card 25 of 30
Pendidikan

Inovasi Tepat Guna Harus Jawab Persoalan Bangsa

Citra Larasati    •    23 Oktober 2018 21:40

Sejumlah menteri usai menyampaikan capaian Kinerja Empat Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Jumpa Pers Forum Merdeka Barat (FMB), Humas Kemenristekdikti/Ardian. Sejumlah menteri usai menyampaikan capaian Kinerja Empat Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Jumpa Pers Forum Merdeka Barat (FMB), Humas Kemenristekdikti/Ardian.

Jakarta:  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) fokus mendorong lahirnya teknologi tepat guna sepanjang empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.  Inovasi diarahkan agar efektif dan menjadi bagian dari solusi persoalan bangsa. 

Sebagai Negara Agraris, Kemenristekdikti mendorong dan mengawal perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi di bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu hasil yang menonjol adalah produk inovasi Padi IPB 3 S dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Benih unggulan dari IPB ini dapat meningkatkan produksi padi petani hingga rata-rata 7 ton," kata Nasir saat  saat menyampaikan capaian Kinerja Empat tahun Kemenristekdikti, di Jumpa Pers Forum Merdeka Barat (FMB) di Gedung Serbaguna Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018

Benih unggulan ini telah ditanam di 65 ribu Ha lahan pertanian di 16 provinsi.  Pada 2018 produksi benih juga ditanam di lahan komersial seluas 44 Ha di Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB, dan Maluku Utara. 

Sebagai Negara Kepulauan, Kemenristekdikti juga menaruh perhatian bagi kesejahteraan nelayan di Tanah Air. Berbagai produk inovasi telah dilahirkan untuk meningkatkan perekonomian para nelayan. 

Salah satunya adalah Konverter Kit Motor Perahu Nelayan.  Inovasi ini dapat menghemat bahan bakar nelayan ketika pergi melaut. Dari yang biasanya nelayan melaut per hari membutuhkan Rp.30.000 untuk kapal bermesin Dua Tak, dengan menggunakan konverter kit yang dikembangkan ini menjadi hanya Rp3.000, per hari melaut.

“Dari hasil uji terap diketahui, bahwa terjadi penghematan yang signifikan," sebut mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro ini.

Baca: Kuota Penerima Bidikmisi Meningkat Dalam Empat Tahun

Selain itu di bidang maritim juga ada inovasi Garam Pro Analisa dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Garam Pro Analisa adalah jenis garam yang memiliki tingkat kemurnian 99,0% -100,5%,  biasa digunakan untuk keperluan laboratorium dan industri.

"Sedangkan Garam Pro Analisa ini lebih murah 20 – 30 % dari produk impor dan dapat menjadi salah satu produk pengganti impor garam,“ jelas Nasir.

Menristekdikti dalam kesempatan ini juga menyampaikan, kementerian yang dipimpinnya telah melahirkan inovasi untuk mendukung pengrajin batik di Tanah Air. Produk Inovasi karya Institut Teknologi Bandung ini bernama Otomatisasi Mesin Batik Fotonik.

Mesin Batik Fotonik digunakan sebagai pengganti sinar matahari pada proses penjemuran batik, berfungsi untuk menghidupkan warna batik.  Sehingga produktivitas pengrajin batik Indonesia tidak lagi bergantung pada cuaca.

Dalam jumpa pers ini Menristekdikti didampingi Sekretaris Jenderal Ainun Na’im dan Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti, Nada Marsudi.