• Card 12 of 22
Nasional

Suap di Bengkulu Selatan Didukung Keluarga Bupati

Juven Martua Sitompul    •    17 Mei 2018 01:22

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan (kanan) didampingi Juru Bicara KPK Febri Diansyah (kiri) pada konferensi pers terkait OTT KPK di Bengkulu Selatan, Jakarta, Rabu (16/5). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto). Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan (kanan) didampingi Juru Bicara KPK Febri Diansyah (kiri) pada konferensi pers terkait OTT KPK di Bengkulu Selatan, Jakarta, Rabu (16/5). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto).

Jakarta: Istri Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud, Hendrati (HEN) dan keponakannya Nursilawati (NUR) selaku Kepala Seksi di Dinas Kesehatan Pemkab Bengkulu Selatan ikut ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek infrastruktur di lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan menyebut istri Dirwan dan keponakannya itu memiliki peran dalam kasus tersebut. Keduanya diduga sebagai penampung uang suap dari tersangka Juhari, seorang kontraktor di Bengkulu Selatan.

"Informasinya, bupati bilang uang jangan diserahkan ke saya, tapi serahkan ke HEN atau NUR," kata Basaria di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.

Baca juga: Bupati Bengkulu Selatan & Istri jadi Tersangka Suap

Basaria menjelaskan, Juhari telah menyerahkan uang sebanyak Rp23 juta kepada Nursilawati pada 12 Mei 2018. Uang tersebut kemudian diserahkan kepada Hendrati.

Selanjutnya, kata Basaria pada 15 Mei 2018, Juhari kembali menyerahkan uang sebanyak Rp75 juta kepada Nursilawati. Uang secara tunai itu diberikan langsung di kediaman Hendrati.

"Jadi KPK lihat peran anggota keluarga mendukung dalam kegiatan ini," pungkas Basaria.

Baca juga: Bupati Bengkulu Selatan Diduga Terima Fee Proyek

KPK sebelumnya menetapkan Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud dan istrinya, Hendrati sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek infrastruktur di lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan intensif.

Selain pasangan suami istri itu, KPK juga menetapkan dua orang tersangka lain, yakni Kepala Seksi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Nursilawati, yang merupakan keponakan Dirwan serta seorang kontraktor bernama Juhari.

Dalam kasus ini, Dirwan yang menjabat sebagai Ketua DPW Partai Perindo Bengkulu itu diduga telah menerima suap dari Juhari sebesar Rp98 juta. Suap itu berkaitan dengan lima proyek infrastruktur berupa jalan dan jembatan yang digarap oleh Juhari.

Nilai suap tersebut merupakan bagian dari komitmen fee sebesar Rp112 juta atau 15 persen dari total nilai lima proyek sebesar Rp750 juta. Juhari sendri merupakan kontraktor yang telah menjadi mitra dan mengerjakan beberapa proyek sejak 2017 di lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan.

Atas perbuatannya, Dirwan, Hendrati dan Nursilawati selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pada 12 huruf b atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Juhari selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001.