• Card 26 of 30
Nasional

Pembuktian Metode 'Cuci Otak' Terawan Diserahkan kepada Kemenkes

Faisal Abdalla    •    09 April 2018 13:03

Jumpa pers PB IDI/Medcom.id/Faisal Abdalla Jumpa pers PB IDI/Medcom.id/Faisal Abdalla

Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengaku tak berwenang menguji metode 'cuci otak' temuan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Mayjen dr Terawan Agus Putranto SpRad (K). IDI menilai itu wewenang Kementerian Kesehatan.

Ketua PB IDI Ilham Oetama Marsis menjelaskan metode digital substraction angiogram (DSA) masih harus melalui pengujian klinis, meski sudah melalui tahapan penelitian akademis.

"Jadi ada tahapan selanjutnya yaitu Terawan harus bisa membuktikan bahwa temuannya bisa dipraktikkan pada masyarakat tanpa menimbulkan kerugian. Pembuktian itu bukan domain PB IDI, Itu domain Health Technology Assessment (HTA)," kata Ilham di kantor PB IDI, Jakarta, Senin, 9 April 2018.

Baca: Dokter Terawan Masih Anggota IDI

Ilham mengatakan HTA merupakan badan permanen di bawah Kementerian Kesehatan RI yang bertugas menilai perkembangan teknologi di bidang pengobatan.  Badan tersebut berwenang mengevaluasi apakah suatu temuan baru di bidang medis bisa diterapkan di masyarakat.

"Kalau Kemenkes belum menetapkan (temuan cuci otak) sebagai standar pelayanan, tentunya secara praktik tidak boleh dilakukan. Harus melalui uji klinis agar dapat diterpkaan dalam pelayanan masyarakat," beber Ilham.

Baca: Kemenristek Siap Biayai Uji Klinis Temuan Dr Terawan

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan PB IDI Errol U. Hutagalung mengimbau Terawan menghentikan sementara praktik terapi cuci otak. Penghentian dilakukan hingga HTA mengeluarkan hasil evaluasi temuannya tersebut.

"Tunggu dulu hasil dari HTA Kemenkes. Kalau HTA Kemenkes bilang oke, ya jalan (lanjut lagi). Tapi sementara, HTA ini belum merilis hasil evaluasinya, dia juga untuk tidak menggunakan metodenya, tapi sebagai yang lain (Kepala RSPAD) terserah," jelas Errol.