• Card 2 of 9
Nasional

Jokowi: Berantas Terorisme Perlu Pendekatan Keras-Lunak

Antara    •    18 Maret 2018 12:58

Presiden Joko Widodo di KTT Istimewa ASEAN-Australia 2018. Foto: Biro Pers Istana. Presiden Joko Widodo di KTT Istimewa ASEAN-Australia 2018. Foto: Biro Pers Istana.

Sydney: Presiden Joko Widodo menegaskan pemberantasan terorisme, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Australia, perlu menggunakan pendekatan keras dan pendekatan lunak. Bila hanya menggunakan satu pendekatan, pemberantasan tak maksimal. 

"Pendekatan keras saja tidak cukup untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme dan perlu diimbangi dengan pendekatan lunak, salah satu hal yang sangat penting adalah kapasitas preventif," kata Presiden Joko Widodo dalam sidang pleno ASEAN-Australia Special Summit di International Convention Centre (ICC), Sydney, Autralia, Minggu, 18 Maret 2018.

Presiden menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman "ASEAN-Australia MoU on Cooperation to Counter International Terrrorism" yang ditandatangani pada Sabtu, 17 Maret 2018. Hal ini dianggap dapat menguatkan upaya memerangi ancaman terorisme.

"Dari observasi saya, MoU ini menekankan keseimbangan antara pendekatan keras dan lunak," tambah Presiden.

Menurut Kepala Negara, kegagalan pencegahan tidak saja akan menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian besar lainnya. Reaksi eksesif yang tidak perlu terjadi juga bisa muncul. Kerja sama pengembangan kapasitas pencegahan terjadinya serangan pun perlu terus ditingkatkan.

Terkait pendekatan lunak, Presiden membagi pengalaman mengenai upaya deradikalisasi dan kontra radikalisasi di Indonesia yang out of the box. Dia mencontohkan pelibatan mantan narapidana terorisme yang sudah insaf untuk mencegah membesarnya ancaman radikalisme.

Para mantan narapidana terorisme itu difasilitasi bertemu dengan keluarga korban. Dengan bantuan para mantan narapidana itu, keluarga dan lingkungan mereka justru lebih mudah diubah menjadi lingkungan yang toleran dan damai.

"Para mantan narapidana teroris tersebut saat ini membantu pemerintah dalam menyebarluaskan nilai-nilai toleransi dan perdamaian," ungkap Presiden.

Baca: Indonesia Negara Paling Diminati Penerima New Colombo Plan

Presiden Jokowi mengatakan Indonesia memiliki dua organisasi besar Islam yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya juga bekerja sama dan membantu pemerintah dalam menyebarkan nilai toleransi dan perdamaian.

Sementara itu, khusus untuk kontra radikalisasi, Presiden menyoroti pentingnya pelibatan para anak muda millennial. Para anak muda ini akan menjadi duta perdamaian yang efektif karena mereka menggunakan bahasa yang dipahami generasinya. 

"Saya berharap kerja sama untuk pemberantasan radikalisme dan terorisme akan dapat terus ditingkatkan, baik melalui pendekatan keras maupun pendekatan lunak. Indonesia siap berkontribusi," ucap Presiden.

Presiden juga mengapresiasi keterlibatan aktif Australia dan ASEAN dalam memerangi ancaman terorisme. Salah satu kerja sama sub-regional pasca-Marawi yang digagas Indonesia bersama Australia juga dikerjakan Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan Selandia Baru sebagai contoh kerja sama cepat dan efektif.

"Kerja sama di bidang counter-terrorism menjadi perhatian semua negara. Hal ini sangat dapat dipahami mengingat sampai saat ini ancaman terorisme tidak berkurang, termasuk di kawasan kita," ungkap Presiden.