• Card 1 of 30
Nasional

PVMBG Harap Letusan Gunung Agung Tak Sedahsyat 1963

Raiza Andini    •    26 Desember 2017 13:28

Asap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung terlihat dari kawasan Kubu, Karangasem, Bali. Foto: Antara / Fikri Yusuf Asap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung terlihat dari kawasan Kubu, Karangasem, Bali. Foto: Antara / Fikri Yusuf

Karangasem: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM merekam pola kegempaan hampir mirip dengan gejala awal letusan besar Gunung Agung tahun 1963. Meski demikian, mereka berharap letusan besar nanti tak sedahsyat kejadian 54 tahun silam.

Kasubdit Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Kementerian ESDM Devy Kamil Syahbana memaparkan bahwa letusan tahun 1963 amat dahsyat. Indeks letusannya berskala lima tingkat lebih besar ketimbang letusan Gunung Merapi di Pulau Jawa.

Pada tahun 1963 Gunung Agung menghasilkan letusan dengan mengeluarkan abu vulkanik mencapai ketinggian 23 kilometer dan ratusan juta meter kubik material piroklastik yang keluar dari perut Gunung Agung membanjiri wilayah bagian utara gunung hingga menutup pemukiman warga.

“Saya berharap mudah-mudahan letusannya tidak sedahsyat 1963. Tapi karena Gunung Agung ini sangat dinamis kegempaannya, kita lihat nanti ke depan seperti apa,” ungkap Devy di Pos Pantau Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Selasa, 26 Desember 2017.

Data lima instrumen yakni GPS, alat tiltmeter atau deformasi, seismik, satelit dan juga drone sejak bulan Agustus hingga Desember 2017, belum tampak adanya gejala letusan besar yang sama pada tahun 1963. Kegempaan vulkanik dan juga tektonik pada Gunung Agung sejak bulan Agustus hingga Desember bersifat dinamis dan fluktuatif.

“Kalau menghasilkan erupsi seperti 1963 rasanya masih kurang untuk ke sana, tapi kita lihat ke depannya seperti apa, karena gunungnya ini kan sangat dinamis jadi potensi ke arah sana saat ini belum bisa menghasilkan erupsi VEI yang lima itu,” tambahnya.

Dengan sifat kegempaan gunung setinggi 3142 MDPL itu yang cukup fluktuatif, pihaknya enggan memprediksi letusan Gunung Agung tidak akan sama persis dengan tahun 1963 nantinya.

“Kalai misalnya ada perubahan-perubahan dalam data ada event-event tertentu yang mengindikasikan berubah, ya kita akan ubah. Tapi untuk saat ini radius delapan sampai sepuluh itu sudah aman,” tutupnya.