• Card 1 of 30
Bali-Nusa

Doa Pengungsi Gunung Agung di Penghujung Tahun

Raiza Andini    •    31 Desember 2017 19:40

Para pengungsi beraktifitas di lokasi penampungan, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Kamis (7/12). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana. Para pengungsi beraktifitas di lokasi penampungan, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Kamis (7/12). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana.

Karangasem: Sejumlah warga yang terdampak erupsi Gunung Agung masih menetap sementara di sejumlah posko pengungsian. Tidak sedikit dari mereka sudah mengungsi sejak empat bulan lalu.

Beberapa jam lagi tahun 2017 akan berakhir, sejumlah orang di penjuru gegap gempita menyambut tahun yang baru. Namun berbeda dengan para pengungsi erupsi Gunung Agung, mereka lebih banyak memanjatkan doa dibanding hura-hura.

Hampir semua pengungsi mempunyai doa yang sama, yaitu ingin erupsi cepat selesai dan kembali ke kampung halaman.

Salah satu pengungsi asal Desa Kesimpar, Kecamatan Besakih, Nengah Tegeg memiliki doa agar bencana yang melanda kampungnya cepat berakhir.

"Biar cepat erupsi Gunung Agung, biar cepat pulang, enggak tahu dampaknya sampai kapan sampai satu tahun atau sampai kapan," kata Tegeg sambil memeluk anaknya di Pos Pengungsian UPT Rendang, Karangasem, Minggu 31 Desember 2017.

Baca: Bali Dapat Suntikan Dana Rp100 Miliar

Tegeg bersama lima anggota keluarganya sudah empat bulan mengungsi di posko. Tegeg mengaku pasrah dengan keadaan di pengungsian, meski bantuan pemerintah masih kurang, namun Tegeg tetap bersyukur masih mendapatkan tempat tinggal sementara yang cukup untuk menampung keluarganya.

"Ya pasrah saja, apa saja yang kita dapatkan bersyukur, kalau tidak bersyukur makin ruwet nanti pikiran. Jalani saja nanti Tuhan pasti akan berikan yang terbaik untuk kita," ungkap Tegeg.



Sedianya Tegeg bekerjsa sebagai petani di kampung halamannya, namun selama di pengungsian, Tegeg tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak punya penghasilan.

Doa yang sama juga terlontar dari mulut I Gusti Ngurah Agus Kurniawan. Pria asal Desa Besakih ini berdoa agar tahun 2018 menjadi lebih baik kepada para pengungsi.

"Harapannya semoga di tahun yang akan datang, hari-hari bisa dilewati oleh para pengungsi dengan baik, serta cepat mendapat keputusan dari sang pencipta, apakah itu dengan meletusnya cepat Gunung Agungnya, atau cepat keputusan pemerintah apakah pengungsinya bisa pulang atau tidak," ungkap Ngurah Agus.

Baca: Gubernur Jamin Logistik Pengungsi Gunung Agung Aman

Menurutnya, hidup di pengungsian sangat membuatnya kesulitan, lantaran tidak adanya pekerjaan tetap. Sebab, hampir sebagian besar pengungsi merupakan peternak dan petani, mereka kehilangan mata pencahariannya sehari-hari untuk menghidupi keluarga.

"Jadi di sini kegiatannya hanya menabuh gamelan, kalau para orangtua siang hari ke rumah, cari makan ternak. Kerjanya enggak ada, paling jual ternak saja untuk mencukupi kebutuhan," pungkas Ngurah Agus.