• Card 25 of 30
Oase

Suka-suka Mengelola Jakarta

30 Desember 2017 08:45

Suka-Suka Mengelola Jakarta Suka-Suka Mengelola Jakarta

Untuk bisa mengurai persoalan di DKI Jakarta yang memang sudah kusut masai, gubernur dan wakil gubernur mesti pintar dan kaya ide. Satu lagi modal yang rasanya perlu mereka punya ialah keberanian untuk bersikap suka-suka mumpung lagi berkuasa. Permasalahan yang menyandera Ibu Kota memang pelik luar biasa.

Sudah terlalu lama Jakarta angkuh dengan segala paradoksnya. Inilah kota terbesar di Indonesia, tetapi terbesar pula dalam hal persoalan sosial. Gubernur dan wakil gubernur silih berganti memimpin, tetapi tak satu pun yang berhasil membebaskan Jakarta dari jerat seabrek persoalan.

Kini, asa datang dari pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Soal kepintaran, jangan sekali-kali meragukan mereka. Saking cerdasnya, mereka surplus gagasan dan inovasi. Mungkin saking pintarnya pula, mereka tak risih membuat terobosan meski harus menabrak aturan.

Contoh teranyar dari gagasan cemerlang Anies-Sandi ialah bagaimana mengelola Tanah Abang. Sudah berpuluh-puluh tahun Tanah Abang menjadi model kesemrawutan tingkat tinggi. Di kawasan itu berdiri pusat grosir terbesar di Asia Tenggara sekaligus arena merajalelanya pedagang kaki lima.

Di kawasan itu kemacetan begitu akut, premanisme pun malang melintang tanpa penghalang. Sebagai orang pintar, Anies-Sandi membenahi Tanah Abang dengan cara yang lain daripada yang lain. Kalau gubernur-gubernur sebelumnya berupaya menertibkan Tanah Abang dengan menertibkan PKL, Anies-Sandi justru mengistimewakan mereka.

Bahkan, Anies-Sandi dengan sesuka hati menutup dua ruas Jalan Jatibaru di depan Stasiun Tanah Abang demi mengakomodasi mereka. Salahkah kebijakan itu? Kalau bicara aturan, menutup jalan untuk ditempati PKL berjualan jelas melanggar UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

Akan tetapi, buat Anies-Sandi, tak ada yang salah. Sebagai penguasa, mereka boleh bersikap suka-suka apalagi punya hak diskresi meski diskresi semestinya hanya dilakukan ketika terjadi kekosongan hukum. Sebagai warga yang baik, sudah semestinya kita mengikuti jalan pikiran penguasa.

Tak elok jika para pedagang resmi merasa, apalagi mengeluh, diperlakukan tak adil karena mereka membayar pajak dan beragam pungutan, sedangkan PKL secara cuma-cuma berdagang di Jalan Baru. Suka-suka Anies-Sandi membuat kebijakan, toh mereka yang punya kuasa.

Tak patut jika warga setempat ataupun pengguna jalan memprotes penutupan Jalan Baru mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB karena mobilitas mereka terganggu. Suka-suka Anies-Sandi membuat kebijakan, toh mereka yang punya kuasa. Tak semestinya pula polisi meminta Pemprov DKI Jakarta meninjau ulang kebijakan penutupan jalan lantaran berdampak buruk pada arus lalu lintas.

Petisi yang digalang lewat media sosial agar kebijakan itu dibatalkan rasanya juga tiada arti. Suka-suka Anies-Sandi membuat kebijakan, toh mereka yang punya kuasa. Bahkan, kalau perlu, ide gila penataan kawasan Tanah Abang itu diberlakukan pula di kawasan-kawasan lain. Tutup saja jalan yang kacau balau karena keberadaan PKL untuk mereka okupasi sepenuhnya dan jangan pedulikan hak warga lainnya.

Warga Jakarta sepertinya perlu menyadari bahwa gubernur dan wakil gubernur saat ini memang cerdas dan pintar. Kalau kita belum bisa memahami kenapa Anies-Sandi membuat kebijakan kontroversial seperti di Tanah Abang, misalnya, anggap saja karena kecerdasan dan kepintaran kita jauh tertinggal.

Biarkan Anies-Sandi suka-suka mengelola Jakarta. Anggap saja keduanya sedang menikmati menjadi penguasa meski sikap seperti itu akan membuat warga Ibu Kota kian sengsara.