• Card 1 of 30
Internasional

Kantor Berita Qatar Diretas oleh Entitas Tidak Dikenal

Arpan Rahman    •    24 Mei 2017 19:12

Ilustrasi Metrotvnews.com Ilustrasi Metrotvnews.com

medcom.id, Doha: Peretasan dialami oleh kantor berita Qatar. Tidak diketahui siapa pelakunya.
 
"Situs Kantor Berita Qatar telah diretas oleh entitas yang tidak diketahui," sebut Kantor Komunikasi Pemerintah tersebut dalam sebuah pernyataan.
 
Pihak Qatar mengatakan, Rabu 24 Mei 2017, kantor berita resmi negara itu diretas dan kemudian menerbitkan "pernyataan keliru" mengenai topik regional sensitif yang dikaitkan dengan Emir negara tersebut, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani.
 
Di antara isu-isu menyimpang yang diduga menyinggung penguasa Qatar adalah konflik Palestina-Israel, hubungan strategis dengan Iran, dan komentar tentang Hamas.
 
Muncul juga dugaan komentar negatif soal hubungan Qatar dengan pemerintahan baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
 
Doha mengatakan pernyataan itu sama sekali tidak benar. "Sebuah pernyataan salah yang dikaitkan dengan Yang Mulia telah dipublikasikan," kata sumber di Kantor Komunikasi Pemerintah Qatar, seperti dikutip NDTV dari AFP, Rabu 24 Mei 2017.
 
Ditambahkan bahwa penyelidikan akan diluncurkan mengenai pelanggaran keamanan. Pada tahap ini tidak jelas siapa yang berada di balik peretasan.
 
Pernyataan palsu tersebut mengatakan bahwa Emir berbicara, pada Selasa 23 Mei, dua hari setelah pemimpin Qatar dan Trump bertemu di Arab Saudi sebagai bagian dari kunjungan Presiden AS baru-baru ini ke Timur Tengah.
 
Komentar yang diposting di QNA sebagai akibat dari retasan tersebut diambil dan dilaporkan oleh lembaga penyiaran di kawasan, termasuk beberapa dari Uni Emirat Arab.
 
Hal itu pun menimbulkan kegemparan media sosial di negara-negara Teluk, sebelum Doha tergopoh-gopoh pada dini hari Rabu membantahnya sebagai klaim palsu.
 
Kantor Komunikasi menambahkan bahwa "Pemerintah Qatar akan menahan semua orang" yang melakukan pelanggaran tersebut sebagai pertanggungjawaban.
 
Qatar menjadi kediaman bagi mantan pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, yang awal bulan ini menggunakan basis Doha-nya, di mana dia tinggal di pengasingan selama beberapa tahun, untuk meluncurkan sebuah dokumen kebijakan baru.
 
Akhir pekan lalu, pihak Doha menyatakan telah menjadi korban kampanye fitnah yang mengarah pada dugaan "mendukung" terorisme.