• Card 1 of 30
Pilkada

Persepsi Pilkada 'Mahal' Sengaja Diciptakan

Faisal Abdalla    •    21 Februari 2018 18:54

Diskusi 'APBD di Tahun Politik' di kawasan Cikini - Medcom.id/Faisal Abdalla. Diskusi 'APBD di Tahun Politik' di kawasan Cikini - Medcom.id/Faisal Abdalla.

Jakarta: Peniliti Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai persepsi publik yang menyebut ongkos pilkada mahal sengaja dipelihara. Hal tersebut untuk memberikan pembenaran bagi kepala daerah yang tertangkap karena kasus korupsi. 

"Saya rasa persepsi ini sengaja dipelihara untuk alasan korupsi. Jadi ketika seorang kepala daerah tertangkap karena kasus korupsi, dia enggak akan merasa bersalah karena dia merasa masuk dalam sistem yang mewajarkan korupsi, karena ongkos pilkadanya memang mahal," kata Ray dalam diskusi 'APBD di Tahun Politik' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu 21 Februari 2018. 

Persepsi 'pilkada mahal' juga kerap dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengeruk kekayaan negara melalui cara-cara yang legal. Seperti peningkatan dana untuk partai politik hingga pendanaan kampanye pilkada serentak melalui APBN. 

"Penambahan fasilitas-fasilitas itu kan dianggap wajar karena mereka mengatakan dilahirkan dari proses yang mahal," lanjut Ray. 

Sebaliknya, Ray menilai ongkos pilkada tak seharusnya selalu mahal, apalagi bagi petahana. Petahana dinilai memiliki banyak waktu untuk mencetak prestasi sehingga bisa dicintai rakyat. 

"Syarat pertama kepala daerah petahana itu ya harus berprestasi. Kalau memang dicintai publik ya enggak akan butuh uang mahar segala untuk maju pilkada,” tegas dia. 

(Baca juga: Zaman Digital Biaya Pemilu Semestinya Rendah)