NEWSTICKER
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

Timnas Indonesia

Resep Membasmi Virus

Bola Virus Korona pssi timnas indonesia
Arpan Rahman • 24 Maret 2020 08:56
SHIN Tae-yong punya strategi bertahan andalan. Semua tim besutan dia menerapkan taktik penandaan daerah bukan menjaga lawan.
 
Seperti upaya mencegah penularan virus korona atau Covid-19, di mana kita harus menjaga jarak aman. Istilahnya keren, social distancing, walaupun kurang sepadan.
 
Sudah lama populer istilah ini, banyak di sekitar. Bisa dilihat di bak belakang truk dan kendaraan besar.

Marka Zona

Sepak bola mengenalnya sebagai "zona marking". Istilah ini juga belum dipadankan ke bahasa Indonesia, tapi jangan pusing.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Saya menamakannya "marka zona". Semoga bisa masuk kamus edisi tahun 2022.
 
Inilah strategi defensif di mana pemain bertahan menutupi area gerakan daripada menjaga lawan tertentu. Jika lawan bergerak ke area yang ditempati bek, barulah bek tersebut menjaga lawannya itu. Prinsipnya hanya menunggu, bukannya laju maju.
 
Jika lawan meninggalkan area itu, maka menjaga lawan menjadi tanggung jawab bek lain. Keuntungan terbesar dari penjagaan zona adalah fleksibilitas terjalin.
 
Ketika tim mendapatkan kembali bola, pemain masih berdisiplin di posisi mereka masing-masing dan dapat memulai serangan lebih agresif. Komunikasi sangat penting ketika marka zona digunakan, untuk memastikan bahwa tidak ada celah yang tersisa dalam cakupan defensif.
 
Formasi yang diterapkan oleh sebuah kesebelasan sangat menentukan apakah akan menggunakan penjagaan zona atau tidak. Tim yang bermain 4-4-2 biasanya mengoperasikan sistem penjagaan zona mutlak, tetapi bila memasang sweeper tidak.
 
Penjagaan zona lebih sulit ketika menghadapi bola mati seperti tendangan bebas dan sepak pojok. Sebagian besar tim berubah menjadi pemain yang menjaga lawan dalam situasi mencolok.

Bola Mati

"Dalam mempertahankan zona, Anda tidak menjaga seorang lawan, Anda hanya menandai area," kata mantan bek Liverpool, Alan Hansen, pemenang tujuh kejuaraan liga.
 
Liverpool kala ditukangi oleh Rafael Benitez (2004 -- 2010) pun lebih memilih zona pertahanan daripada mengawal lawan satu per satu. Pilihan itu, selama enam musim, terbukti cukup jitu.
 
Rafa membimbing The Reds menuju kemenangan di Liga Champions UEFA pada 2005. Pada musim kedua berturut-turut, ia didaulat sebagai Manajer UEFA of the Year pula. Dia meraih pada 2006 Piala FA. Masuk final Liga Champions 2007, tetapi tidak mampu merebut Liga Premier 2008 -- 2009, finis di tempat kedua.
 
Mereka selalu menyiapkan pertahanan untuk sepak pojok dengan empat pemain merintangi kotak kecil 5,5 meter (di dalam kotak penalti) dan empat pemain lain melapis area di depan mereka. Di antara pemain, mereka diberi area untuk diawasi dan jika arah bola mencapai mereka, terserah kepada bek untuk membersihkan bahaya.
 
Hansen menambahkan: "Tiga area terpenting adalah kawan Anda di tiang dekat, kawan di tengah kotak kecil, dan seorang lagi di antara keduanya."
 
Dia berkata: "Marka zona itu semua tentang memenangkan bola pertama dan jika tidak, Anda harus membersihkan bola kedua."
 
"Hal lain tentu saja kami memiliki kiper (Bruce Grobbelaar) yang kami tahu akan datang untuk menyambut umpan silang. Terakhir dia yang menghadang," tutur Hansen terkenang.
 
Dengan penjagaan satu lawan satu, setiap penyerang dapat menyeret para pengawal ke seluruh area dengan membawa mereka menjauh dari daerah bahaya. Satu tipuan itu mematikan semuanya.
 
"Ini (marka zona) adalah tanggung jawab kolektif, sedangkan penjagaan orang didasarkan pada tanggung jawab pribadi," ujar Howard Wilkinson, mantan direktur teknis FA.
 
Masalah dengan marka zona sering terjadi karena gerakan oposisi. Kata Hansen, "Anda bisa kecolongan dari pemain lawan yang luput ditandai."
 
"Ketika mulai, Anda harus memutuskan siapa yang mengambil siapa dan siapa yang kemudian membiarkan lawan lain pergi," dia menimpali.
 
Terkadang, pemain bertahan mengikuti bola dan penyerang dapat menembus ruang.
 
Wilkinson menyentil: "Ini adalah kesalahan umum para pemain bertahan mengantisipasi bola-bola yang diantarkan dari lebar lapangan. Mereka tertarik mengejar bola tanpa bisa mereka ambil."
 
Hansen dan Wilkinson, keduanya berbicara kepada BBC. Topiknya serius, tidak sepele.
 
Menurut praktiknya, sistem pertahanan berupa marka zona terhitung sulit untuk menyerang aktif. Ini lebih kompleks daripada satu lawan satu tetapi lebih efektif. Tapi hanya lebih efektif jika dikuasai secara komprehensif.
 
Para pemain tidak hanya memahami peran mereka sendiri, tapi peran orang lain juga. Pasti agak susah karena timnas kita selama ini kurang rapi bekerja sama.
 
Coach Shin menghapal sistem itu selama 13 tahun kariernya. Dari jabatan sebagai asisten, pelatih sementara, sampai pelatih kepala. Sejak menangani klub Queensland Roar, hingga ke timnas senior Republik Korea.
 
Ia akan membawa PSSI tampil lebih stabil, berarti stamina pemain harus spartan. Itulah kelihatannya resep mujarab ala Korea untuk membasmi virus kekalahan.
 
Video: Paulo Dybala Terpapar virus korona
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif