Pariwisata Olahraga dan Mimpi Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
Selain menonton Piala Dunia 2018, suporter dari berbagai dunia ramai mengunjungi berbagai tempat wisata di Rusia. Salah satunya seperti yang tersaji di luar istana Kremlin, di Moskow, Rusia (Foto: AFP/Maxim Zmeyev)
DALAM beberapa waktu akhir-akhir ini fenomena sports tourism atau yang diterjemahkan secara harafiah sebagai pariwisata olahraga tengah meningkat popularitasnya. Apalagi kemajuan teknologi telah bisa memfasilitasi pemesanan tiket secara daring serta mengkonfirmasikan acara dan penjadwalan tempat.

Pariwisata olahraga merupakan salah satu sektor industri yang paling cepat berkembang lantaran tidak sekadar untuk menarik minat wisatawan menonton atau berpartisipasi dalam acara olahraga, tetapi juga mempromosikan plesiran ke tujuan lain, jauh dari tempatnya biasa tinggal dan bekerja.

Nah, sejurus dengan itu ajang Piala Dunia tahun ini digunakan oleh Rusia untuk kepentingan tersebut. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai negara di seluruh dunia dengan kesamaan ketertarikan di balik keragaman masing-masing. Tentu saja ketertarikan pada sepak bola.


Tersebar 12 stadion di Rusia mulai dari Kaliningrad di teluk Baltik hingga ke Ekaterinburg di kaki pegunungan Ural yang siap menjadi tuan rumah dari 64 pertandingan Piala Dunia FIFA 2018. Salah satunya Stadion Luzhniki di Moskow, yang terbesar dan salah satu yang terbaru, digunakan sebagai tempat pembuka laga turnamen pada 14 Juni dan juga final, kemungkinan akan menjadi daya tarik utama bagi ribuan penggemar sepak bola yang menuju negara berjuluk Negeri Beruang Merah itu.
 

Baca: Profil Stadion Piala Dunia 2018


Rusia merupakan negara terbesar di dunia dengan meliputi wilayah lebih dari 17 juta kilometer persegi, 11 zona waktu, dan dengan populasi hampir 147 juta. Juga ada lebih dari 200 suku dan kelompok etnis serta tidak kurang dari 100 bahasa dan dialek, ditambah 28 situs Warisan Dunia UNESCO dan beberapa ribu museum. Pemerintah negara yang dipimpin Vladimir Putin ini pasti bekerja keras untuk mempromosikan potensi pariwisatanya.

Yang menariknya, pada laman situs web plesiran Rusia, ketika penggemar sepak bola mengajukan permohonan ID FAN mereka diarahkan tentang peluang pariwisata selama mereka tinggal di Rusia. Ada rujukan untuk menjajal “Miracles of Russia” di berbagai kota-kota sang tuan rumah Piala Dunia. Ini jelas merupakan kesempatan ideal untuk menghilangkan beberapa mitos seputar persepsi negatif dan stereotip miring mengenai Rusia sebagai destinasi wisata.

Berbagai studi menunjukkan bahwa peristiwa besar dapat menjadi kekuatan positif dalam menyatukan bangsa dan meningkatkan serta memperkuat identitas nasional. Apakah Rusia perlu memperkuat identitas nasionalnya, itu adalah persoalan lain yang bisa kita perdebatkan. Tapi yang jelas menjadi tempat penyelenggara turnamen besar semacam Piala Dunia miningkatkan kebanggaan nasional dan menjadi sarana bagi meluasnya pemahaman budaya.

Ini semua tidak mengherankan jika menilik persiapan yang dilakukan Rusia sejak sembilan tahun silam. Tepatnya, pada Januari 2009 ketika Rusia terpilih oleh forum FIFA untuk menjadi negara tuan rumah Piala Dunia 2018 di Eropa. Rusia mengalahkan lima negara lain seperti Inggris, duet Belanda-Belgia, serta kolaborasi Portugal dan Spanyol yang berminat sebagai penyelenggara Piala Dunia.

Dalam sejarahnya, sepanjang 10 kali penyelenggara Piala Dunia di benua Eropa, sebagian besar digelar di negara-negara dari Eropa Barat dan Selatan. Maka, terpilihnya Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 merupakan pertama kalinya sekaligus menjadi satu-satunya negara di Eropa Timur yang menyelenggarakan Piala Dunia.

Indonesia sendiri melalui Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada forum pertemuan Federasi Sepak Bola se-Asia (AFC) di Bali September 2017 lalu telah mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2034 mendatang.

Pada kesempatan tersebut, Thailand juga mengajukan dirinya untuk menjadi tuan rumah ajang tertinggi dunia sepak bola itu. Artinya, Indonesia bersaing dengan Thailand dalam perhelatan besar ini. Atau, bisa jadi Indonesia dan Thailand akan berduet menjadi tuan rumah bersama di Piala Dunia 2034 jika rencana tersebut bisa terealisasi. 

Namun, Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Kobkarn Wattanavrangkul, menolak ide untuk menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2034. Dia menilai, uang yang nantinya bakal keluar sangat banyak. "Kita butuh uang yang sangat banyak untuk menjadi tuan rumah. Kita perlu membangun beberapa stadion, dan sistem transportasi yang lebih baik," tutur Kobkarn, seperti dikutip dari Bangkok Post pada Oktober 2017.

Dari keharusan mengeluarkan uang banyak, Kobkarn tak melihat ada timbal balik yang menguntungkan bagi Thailand, terutama dari sisi ekonomi. Dia meminta agar Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) juga ikut memikirkan itu.

Alih-alih ngotot menjadi tuan rumah, Kobkarn malah mendesak FAT untuk meningkatkan kualitas tim nasional. Bermain di Piala Dunia melalui babak kualifikasi lebih baik dibanding karena menjadi tuan rumah.

Dari sini, ada kemungkinan Indonesia untuk sendirian menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Dengan kata lain, Indonesia punya kesempatan meraup pundi-pundi keuntungan dari penyelenggaraan Piala Dunia itu apabila melihatnya sebagai potensi pariwisata olahraga. Tetapi, dengan catatan pula bahwa Indonesia dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi tuan rumah ajang sebesar ini.


(Salah satu atraksi pementasan tari kerap tersaji di kawasan Gunung Bromo untuk menghibur turis mancanegara yang datang ke Indonesia. Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru) 

Mengapa memilih tahun 2034? Karena sesuai regulasi FIFA, harus ada jeda minimal tiga penyelenggaraan atau 12 tahun antara dua Piala Dunia di benua yang sama. Berhubung Qatar telah resmi terpilh menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, maka jatah untuk benua Asia selanjutnya ialah 12 tahun setelahnya yaitu tahun 2034. 

Pemerintah Indonesia pun sudah memberi restu kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk melakukan bidding ke FIFA. Presiden RI Joko Widodo merestui langkah PSSI untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Surat resmi dukungan dari pemerintah sudah dikirimkan ke AFF. Dalam waktu dekat, PSSI dan pemerintah akan memformulasikan rencana strategis untuk megaproyek ini.

Dengan jangka waktu selama itu, bukan tidak mungkin Indonesia telah mempersiapkan diri lahir maupun batin menjadi penyelenggara Piala Dunia 2034. Apa yang digagas PSSI dan pemerintah untuk menjadi bagian tuan rumah Piala Dunia 2034 tentunya harus kita apresiasi. Andai saja gagasan itu benar-benar terwujud, Indonesia akan mendapatkan keuntungan tersendiri. Salah satunya adalah peningkatan devisa dari wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia untuk menonton Piala Dunia.

Tak hanya itu, popularitas negara Indonesia juga pastinya akan semakin menanjak. Apalagi jika dibarengi dengan kampanye pemerintah untuk memajukan program-program untuk memajukan sektor pariwisata.

Bila serius dikembangkan, potensi pariwisata olahraga sangat besar dalam mengembangkan ekonomi lokal. Penyelenggaraan pun sangat ideal untuk mengajak wisatawan merasakan langsung pengalaman budaya dan tradisi lokal. Kombinasi strategis antara pariwisata dan olahraga ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi, baik bagi negara, daerah maupun masyarakat lokal di mana suatu acara pariwisata olahraga diselenggarakan.
 

Baca: Sihir Kuliner di Piala Dunia


Antara lain warga dapat menggalang kekuatan komunitas dan berdaya dalam peningkatan ekonomi. Seperti menyediakan penginapan semacam homestay dan sajian kuliner khas daerahnya. Tiket masuk kawasan, penyediaan akomodasi dan logistik makan-minum, transportasi lokal, serta penunjuk jalan. Semua ini bakal meningkatkan perputaran ekonomi lokal.

Menteri Pariwisata RI Arief Yahya pernah menyampaikan pandangan positif mengenai potensi pengembangan pariwisata olahraga ini di Indonesia.

“Sports tourism efektif karena media value atau media branding-nya tinggi. Dampaknya bisa dua kali lipat dari dampak langsung turis yang datang, karena dipromosikan oleh media nasional dan internasional,” ujarnya pada Maret 2018.

Sekarang pertanyaannya, apakah mimpi Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 bisa terwujud? Kita berdoa semoga saja itu bisa menjadi kenyataan.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad




(ACF)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id