Shin Tae-yong. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)
Shin Tae-yong. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Telur Busuk Meleleh di PSSI

Bola Virus Korona liga 1 indonesia Shin Tae-yong
Arpan Rahman • 18 April 2020 16:15
PELATIH tim nasional PSSI, Shin Tae-yong, selama menjalani masa darurat Covid-19 di Jakarta terakhir rupanya berubah menjadi seorang pengamat sosial dadakan. Ia bahkan menilai negatif penanganan kesehatan dari pemerintah Republik Indonesia.
 
Sewaktu masih berada di Ibu Kota, Shin tidak menemukan penanganan serius dari pemerintah. Warga yang menggunakan masker di jalan hanya 10 persen, katanya.

Tidak Serius

Ia sendiri sudah kembali ke Korea Selatan sejak awal bulan ini. Artinya kurang lebih satu bulan, Shin turut merasakan masa penyebaran Covid-19 di Indonesia.
 
Sejak awal wabah korona diumumkan Presiden Jokowi, Liga 1 2020 masih tergelar hingga 14 hari. Puluhan ribu penonton tanpa rasa khawatir berduyun-duyun memadati stadion.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Menteri Pemuda dan Olahraga pun ikut menyaksikan pertandingan. Ia sebagai tamu kehormatan, tidak terlupakan seperti mantan Ketua PSSI yang kini jadi anggota DPR RI.
 
"Indonesia belum sepenuhnya menyelidiki kasus Covid-19 jadi boleh dibilang lebih banyak orang terinfeksi," ujar Tae-yong kepada media Korea.
 
Dari mana Shin tahu penanganan dari pemerintah Indonesia tidak serius? Di daerah mana di Jakarta dia mengamati 10 persen warga tanpa masker di jalan? Sampai berapa lama pengamatannya? Lebih banyakkah orang yang terinfeksi atau lebih sedikit? Bagaimana caranya seorang asing, pelatih sepak bola lagi, mengukur kesehatan warga Ibu Kota?
 
Alangkah eloknya sosok yang sempat dipermalukan oleh publik Korea itu membatasi diri. Ia tidak usah berbicara soal di luar keahliannya dari lapangan sepak bola.
 
Apalagi, yaelah, kalau mau diingat, skuat Tae-yong mengalahkan juara bertahan Jerman hanya pada pertandingan yang tidak menentukan lagi. Tim Korsel tetap tersingkir dari Piala Dunia 2018 pada babak penyisihan. Sepulang ke negerinya saat turun di bandara, Shin cs dilempari telur busuk sebagai bentuk penghinaan dalam budaya Korea.

Busuk Meleleh

Di tangan manajer yang gagal total di Piala Dunia 2018, anehnya, pengurus federasi kita sangat berharap memperoleh prestasi. Federasi sepak bola Indonesia pada Minggu 19 April 2020 besok sudah menginjak usia 90 tahun. Di umur setua ini tentu akan malu besar PSSI jika pelatih dengan reputasi telur busuk itu bukan memberi aroma keharuman bagi timnas Garuda.
 
Bila seandainya Shin hanya melelehkan kebusukan, pasti pencinta sepak bola memberi pelajaran setimpal yang pahit sekali. Boleh jadi publik akan bertindak liar brutal bukan buatan. Lebih sadis dari melempar telur busuk, bisa saja menggalang aksi sepihak anti-PSSI. Semua akan merasa ditipu, hanya dibelai angin surga oleh pengurus yang tidak becus ternyata, selama ini.
 
Bagaimana perasaan Shin Tae-yong kalau pengurus PSSI nanti gantian mengomentari hal-hal buruk tentang pribadi atau negaranya? Misalnya bahwa 28,5 persen saja Presiden Korsel yang merupakan orang baik. Soalnya lima dari tujuh mantan presiden Negeri Ginseng telah dihukum gara-gara kasus korupsi.
 
Terakhir, Park Geun-hye (2013 -- 2017) didakwa menerima suap dan menyalahgunakan kekuasaan. Roh Moo-hyun (2003 -- 2008) terjun bunuh diri dari bukit di belakang rumahnya ketika kejaksaan menyelidiki dugaan dirinya menerima suap. Roh Tae-woo (1988 -- 1993) dituduh menerima suap dari 30 konglomerat. Terdahulu, Chun Doo-hwan (1980 -- 1988) bersalah menerima suap dan berbagai tindak pidana lain terkait kudeta militer yang ia pimpin, berujung dengan terangkatnya dia sebagai pemimpin Korsel.
 
Malah sebenarnya Shin tidak tepat disebut pelatih kelas dunia. Rekornya sebelum menangani timnas Indonesia nyaris nihil. Pengalaman telur busuknya bisa-bisa terserap makin meleleh ke dalam PSSI.
 
Dulu, Ivan Toplak memimpin Yugoslavia U21 di Kejuaraan UEFA Euro U21 1980 di mana ia membawa tim ke semifinal. Selain sukses membimbing Yugoslavia U23 meraih medali perunggu di Olimpiade 1984. Tapi Toplak malah terpuruk saat menukangi skuat Garuda.
 
Dengan standar kelas dunia, Wiel Coerver membesut PSSI bermodal reputasi hebat di benua Eropa. Pernah membawa Feyenoord Rotterdam menjuarai Eredivisie, liga utama Belanda, dan kampiun UEFA Cup 1974.
 
Wiel lebih tepat.
 
Video: Kenny Dalglish Positif Terjangkit Covid-19
 

(ASM)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif