Timnas Indonesia ketika berjumpa Timnas Vietnam. (Foto: Antara/Nyoman Budhiana)
Timnas Indonesia ketika berjumpa Timnas Vietnam. (Foto: Antara/Nyoman Budhiana)

Membanting Bintang Emas Vietnam

Bola timnas indonesia Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia
Arpan Rahman • 03 Agustus 2019 21:18

Indonesia akan bersua Vietnam di kualifikasi Piala Dunia 2022. Skuat Garuda berpeluang menyingkirkan Vietnam yang memiliki generasi emas.

BERGABUNG di grup G zona Asia Pra-Piala Dunia 2022, Vietnam akan bertemu Indonesia dua kali. Kita lebih dahulu menjadi tuan rumah pada 15 Oktober 2019. Terakhir, dijadwalkan bertandang ke Hanoi pada 4 Juni 2020.
 
Mengacu rekor pertemuan, Indonesia lebih unggul: Sembilan kali menang, sembilan seri, dan lima kali kalah. Pelbagai ajang yang mempertemukan kedua tim dari SEA Games, Pra-Piala Dunia'94, Piala AFF, Dunhill Cup, hingga empat laga persahabatan. Di kancah Pra-Piala Dunia, baru dua kali kita dan mereka saling mengalahkan.
 
Timnas Indonesia merekam catatan sejarah manis yang masih terukir hingga kini. Kita tak pernah kalah ketika bertanding lawan mereka di bulan Oktober ataupun Juni.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Tapi kali ini Vietnam sangat serius menatap Pra-Piala Dunia 2022. Seperti Thailand, mereka menunda kompetisi liga domestiknya sejak akhir Juli. Setelah pertemuan dengan Vietnam Professional Football, penyelenggara V-League, VFF (Federasi Sepak Bola Vietnam) memutuskan untuk menangguhkan 23 pertandingan yang semula dijadwalkan akan diadakan pada 30-31 Agustus dan 1 September hingga 15 September.
 
"Sasaran Vietnam adalah mencapai babak kualifikasi terakhir Piala Dunia. Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk memenuhi target," kata pelatih Park Hang-seo.
 
Kecuali baru-baru ini timnas Vietnam kehilangan. Pelatih kebugaran Willander Fonseca mengundurkan diri dari posisinya setelah konflik dengan VFF. Asisten bahasa Phan Duy Tuan keluar pula dari tim setelah kampanye AFC Asian Cup 2019 untuk mengajar di perguruan tinggi.
 
Fokus Akademi
 
Menurut John Duerden, koresponden Asia untuk ESPN, belum begitu lama sepak bola Vietnam merupakan sesuatu yang berantakan, rusak karena korupsi dan salah urus keuangan. Mereka kemudian fokus pada pengembangan usia dini dan menginstal struktur untuk tujuan lebih maju sebagai kunci strategi. Akhirnya lahirlah generasi emas yang menuai satu demi satu prestasi besar.
 
Tim yang dijuluki Si Bintang Emas kerap dipandang memiliki sentuhan lembut: Penghibur sepak bola cantik, tetapi sering tidak kuat pada akhir pertandingan yang ketat. Park Hang-seo telah berperan penting mengubah daya tahan skuat asuhannya. Pelatih asal Korea Selatan membangkitkan rasa percaya diri pemain dan selalu penuh motivasi.
 
Banyak hasil kerja keras timnas Vietnam dirangkai sejak dari balik layar akademi. Padahal sebelumnya tidak mudah membujuk klub-klub V-League (Liga Vietnam) untuk membina pesepak bola usia dini.
 
Satu langkah maju lagi, VFF menandatangani nota kesepahaman dengan klub Jerman VfL Wolfsburg pada 18 Juni 2019. Sekjen VFF Le Hoai Anh mengatakan pada upacara penandatanganan di Hanoi bahwa kedua pihak akan memprioritaskan program pengembangan yang komprehensif untuk sepak bola pria dan wanita, merangkul lebih banyak persahabatan, menyelenggarakan pelatihan di Vietnam dan Jerman, serta mengembangkan sepak bola muda profesional.
 
Laga Epik
 
Vietnam dinobatkan sebagai Raja Asia Tenggara sejak menjuarai Piala AFF tahun lalu. Mereka menempati peringkat 97 dunia dalam rangking Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) per Juli 2019. Menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN, diikuti Thailand (115) dan Filipina (126).
 
Di Asia, Vietnam duduk di posisi ke-15. Bukan hanya itu, mereka menyabet gelar runner-up kejuaraan Asia U-23 pada 2018 juga. Di kancah senior Piala Asia, awal tahun ini, kesebelasan itu bahkan berhasil lolos ke 8 Besar sebelum dikalahkan Jepang.
 
Pertandingan epik Vietnam menghadapi Yordania pada 16 Besar Piala Asia 2019 telah mengundang banyak pujian. Lihatlah, bagaimana Que Ngoc Hai memimpin rekan-rekannya mendikte lawan dengan ritme bola-bola mendatar cepat, kombinasi panjang-pendek, lewat satu-dua sentuhan. Mereka tampil membadai sesudah menyamakan skor 1-1 pada menit ke-50 sampai peluit berbunyi pada akhir babak kedua.
 
Pola bertahan 5-4-1 yang taktis dapat sekejap berubah amat tajam menyerang ketika mengintai peluang menggetarkan jala lawan. Gol penyama kedudukan dari Nguyen Cong Phuong menunjukkan betapa disiplin organisasi permainan.
 
Umpan-umpan silang yang disodorkan bukannya tinggi melambung -- sebab kalah postur -- namun rendah saja setinggi dada dan lajunya kencang. Sehingga untuk mengantisipasinya dibutuhkan reaksi (lebih cepat) ketimbang kekuatan fisik (lebih bertenaga).
 
Sebelas pemain berkostum merah-merah laksana kumpulan buruh terampil, seperti dibayangkan oleh Karl Max, yang menguasai alat produksi. Alat produksi mereka di lapangan hijau berupa sebuah bola. Mainnya begitu mekanis seakan tak ubahnya mesin otomatis tatkala mengendalikan tenaga kuda Yordania.
 
Statistik paruh kedua pada perdelapan final Piala Asia 2019 di Stadion Al Maktoum, Dubai, menghasilkan perbandingan angka seperti ini. Penguasaan bola Vietnam 58-42 Yordania; tembakan 18-8; tendangan ke gawang 7-3; sepak pojok 8-0; dan pelanggaran 10-12. Laga berlanjut ke perpanjangan waktu, lalu berakhir dalam adu penalti. Supremasi itu bertaut dengan keberuntungan dari Dewi Fortuna.

Baca: Evan Dimas dan Samsul Arif Berpeluang Tampil Lawan Persib

Pemain Kunci
 
Berikutnya mereka bersatu-berlawan menantang Samurai Biru pada perempat final. Vietnam hanya ketiban sial gara-gara penalti kontroversial yang layak diragukan.
 
Lawannya terkesan lebih banyak dibantu wasit (mungkin karena salah satu simbol sponsor piala itu bernama Toyota). Jepang terbukti kesulitan membongkar pertahanan Vietnam.
 
Kiper Dang Van Lam bersinar cemerlang mencuri perhatian. Banyak penyelamatan gemilang dia tunjukkan. Juga penampilan Nguyen Trong Hoang yang stabil menjaga sisi kanan.
 
Ciri khas sentuhan lembut Vietnam tetap dominan dalam setiap penampilan. Jajaran gelandang selalu amat rajin mundur teratur lebih ke belakang buat menjemput bola. Terpantau bahwa mereka malah jarang memanfaatkan bagian tengah lapangan untuk menggalang serangan.
 
Aliran bola lebih sering bergulir ke sisi-sisi lapangan. Kepiawaian berkelit di dalam ruang sempit, taktik melebarkan jarak diperkuat strategi umpan-umpan pendek. Mereka para pelari tangguh yang tak mau diam. Jarang ada yang egois membawa bola dalam banyak langkah.
 
Phan Van Duc lihai memberikan umpan terobosan dan pintar memancing kombinasi segi tiga. Sementara Do Hung Dung punya tendangan jarak jauh dari garis kedua yang terukur begitu jitu. Striker Cong Phuong, selain licik dan memiliki first-time akurat, juga eksekutor sepak pojok yang unik: Suka mengarahkan umpan kencang berdimensi rendah setinggi dada, mengincar tiang dekat.
 
Mental Jenuh
 
Betapa Vietnam berbekal daya tahan mental yang hebat, saksikanlah rekaman laganya melawan Thailand di turnamen King's Cup 2019 pada 5 Juni lalu. Bermain di hadapan pendukung fanatik tuan rumah, mereka mampu meladeni permainan keras dan memetik bahagia dari skema sepak pojok pada pengujung laga.
 
"Kami harus melupakan kemenangan baru-baru ini melawan Thailand. Thailand masih tim yang bagus dan saingan berat Vietnam. Namun, terlepas dari siapa pun lawan kami, Vietnam menetapkan target menjuarai grup G untuk memasuki kualifikasi ketiga wilayah Asia," kata gelandang Que Ngoc Hai.
 
Kalau soal mental, bukan sepak bola saja yang membuat Vietnam jadi bangsa tahan banting. Di medan perang pun mereka sukar ditaklukkan. Penjajah Prancis terpaksa menyerah di dusun pedalaman Dien Bien Phu pada 7 Mei 1954. Amerika tak pernah mampu menundukkan tentara Viet Cong, lantas menarik pasukan Yankee setelah bertempur nyaris 20 tahun.
 
Sejauh pengamatan penulis, Vietnam lemah dalam antisipasi bola-bola mati. Mereka biasa kebobolan dari sepak pojok atau tendangan bebas. Selain memiliki musuh berat di dalam diri mereka sendiri: Kejemawaan yang berlebihan.
 
Kejutan demi kejutan dalam rentang satu per satu prestasi yang diraih sejak tahun lalu, suatu ketika pasti berputar kembali menurun ke titik jenuh. Grafik merosotnya performa berpotensi kuat menghambat skuat berkostum merah-merah kebanggaan negeri Indochina. Garuda Merah-Putih memiliki peluang besar untuk membanting Si Bintang Emas di Pra-Piala Dunia 2022.
 
Video: Spekulasi Masa Depan Dybala
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif