NEWSTICKER
Ilustrasi by medcom.id
Ilustrasi by medcom.id

Keberatan Naturalisasi

Bola sepak bola liga dunia piala afc
Arpan Rahman • 25 Februari 2020 10:24
PERAN dia amat vital di lini tengah Malaysia sebagai gelandang bertahan. Umpan jitunya bergulir, kemudian dimanfaatkan rekannya jadi asis, yang melahirkan dua gol Mohamadou Sumareh ke gawang tim nasional Indonesia. Laga perdana Grup G Pra-Piala Dunia 2022 zona Asia berakhir 2-3 kita kalah.
 
Kemenangan 2-1 melawan Thailand ditandai cetakan gol internasional pertamanya dan dia juga membantu gol yang kedua. Asis matang pula disodorkannya untuk Sumareh menjebol gawang Uni Emirat Arab.
 
Setelah lima kali aksi fantastis itu, Brendan Gan tak suka dipanggil sebagai pemain naturalisasi. Sikap keberatan ditegaskannya: dia harus dianggap "pemain warisan" dari garis keturunannya. Soalnya ayahnya asal Malaysia, meskipun ibu Australia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Kisah Gan diceritakan oleh Farah Azharie di New Straits Times, 18 Februari 2020. Katanya, menjadi pemain naturalisasi berarti mengenakan kostum nasional bukan hanya tentang mendapatkan paspor.
 
"Beberapa orang bisa datang ke sini pada usia 32, 33 atau 34 tahun karena mereka menginginkan paspor dan tidak bermain untuk negara.
 
"Kamu harus mau bekerja, mempertaruhkan hati dan jiwamu di atas lapangan bagi negara dan bukan hanya untuk paspor," seru Gan, yang butuh tiga tahun untuk membela Negeri Jiran.
 
Lain dari Gan, beda lagi dengan Otavio Dutra. Hanya butuh 17 hari bagi Dutra setelah dinaturalisasi buat memperkuat timnas Indonesia. Secepat kilat seperti proses cuci-cetak pasfoto 3x4 di kaki lima pada zaman dulu. Hasilnya jelek, Pasukan Garuda menyerah 1-3 dari Vietnam di Bali. Lalu, apa gunanya pewarganegaraan pemain asing dengan segala kemudahan?
 
Segala kemudahan dari FIFA memungkinkan semua negara anggotanya menempuh jalan pintas tersebut demi kemenangan. Di benua Asia, yang tercatat paling banyak menaturalisasi ialah Palestina dengan sekitar 20 pemain. Disusul Australia 19, Hong Kong 18, dan Guam 13 sejauh ini.
 
Peraturan FIFA tentang kompetisi penyisihan Piala Dunia 2022 pun sangat longgar. Pada ketentuan umum tercantum syarat pemain yang tampil: "Semua pemain harus memiliki kewarganegaraan negaranya dan tunduk pada yurisdiksinya" (artikel 7.1.a).
 
Artinya, sebuah negara tinggal memberikan status sebagai warga negara kepada pemain, siapapun gerangan dia. Tidak ada persyaratan lain. Begitu saja, mudahnya.
 
Syarat FIFA tentang organisasi kompetisi penyisihan lebih lanjut diatur dalam artikel 19.1, yang menyebutkan: "Setiap asosiasi yang mengikuti kompetisi penyisihan harus menyediakan daftar provisional seluas mungkin dan realistis menyangkut calon pemain selambat-lambatnya 30 hari sebelum pertandingan kualifikasi pertamanya".
 
Diteruskan artikel 19.2, berbunyi: "Daftar ini tidak mengikat. Pemain lebih lanjut dapat ditambahkan, menunjukkan informasi yang sama, kapan saja tetapi tidak lebih lambat dari hari sebelum pertandingan kualifikasi tersebut."
 
Jadi tidak ada daftar pemain tetap yang mengikat secara kaku. Setiap negara boleh mengganti daftar itu dengan menukar siapapun pemainnya sepanjang ajang kualifikasi.
 
Maka, lumrahlah Malaysia yang sudah menaturalisasi empat: Matthew Davies, Corbin Ong, Gan, dan Sumareh -- sekarang menambah seorang lagi. Pemainnya, Liridon Krasniqi, berusia 28 tahun, kelahiran Kosovo.
 
Vietnam, yang kini memuncaki Grup G, mencemooh Malaysia habis-habisan karena proses secepat kilat ini. Skuat Tan Cheng Hoe jelas berambisi menyabet satu tiket ke putaran final kualifikasi AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).
 
Sementara Gulf News daring melaporkan dari Dubai bahwa Uni Emirat Arab juga sama. Striker kelahiran Argentina Sebastian Tagliabue dan pemain depan asli Brasil Caio Canedo Correa telah diberikan paspor berlambang negeri keemiratan. Dari Brasil satu lagi, striker Fabio Lima, juga segera menyusul mereka. Ketiga pemain itu berkiprah di klub lokal UEA.
 
Bagaimana dengan Vietnam? Mungkin orang komunis takut dengan wibawa emir yang bertakhta di gurun. Tidak terdengar cemoohnya, kali ini.
 
Video: Uji Coba Pengaspalan di Monas untuk Formula E
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif