Suporter Indonesia membentangkan spanduk berisi harapan kepada skuat Garuda saat menghadapi Thailand (Foto:  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Suporter Indonesia membentangkan spanduk berisi harapan kepada skuat Garuda saat menghadapi Thailand (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Stadion Utama (Senayan) GBK tak Lagi Angker

Bola timnas indonesia Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia
Rizki Yanuardi • 11 September 2019 13:52
TIM NASIONAL Indonesia senior kembali menuai hasil minor di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, pada babak kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Andritany Ardhiyasa dan kawan-kawan kali ini diinjak tamunya Thailand, yang berjuluk Gajah Perang tiga gol tanpa balas di laga kedua Grup G putaran kedua, Selasa malam 10 September 2019.
 
Alih-alih ingin melupakan kekalahan dari seteru abadi Malaysia di laga perdana, skuat asuhan Simon McMenemy bermain di bawah kendali pemain Thailand. Dimotori Messi-nya Thailand, Chanatip Sonkrasin, Evan Dimas cs tak bisa mengimbangi permainan rapi yang diperagakan skuat asuhan Akira Nishino.
 
Tentunya kekalahan Timnas untuk kali kedua di kualifikasi Piala Dunia zona Asia ini, seolah menunjukkan bahwa tak ada lagi yang mesti ditakutkan lawan seperti dulu lagi. Atau memang ada yang salah dalam mempersiapkan timnas. Atau bisa juga peralihan kursi kepelatihan dari Luis Milla ke Simon berdampak serius buat Timnas.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Dulu, lawan, terutama negara yang berada di satu kawasan (ASEAN), yang akan menghadapi Timnas Indonesia akan ciut nyalinya jika harus bermain di hadapan 80 ribu pasang mata penonton yang memadati Stadion Utama Senayan yang sekarang sudah berganti nama menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno itu.
 
Sepertinya sekarang eranya sudah berbeda. Tak ada lagi kekuatan menakutkan jika Timnas Indonesia bermain di stadion yang berdiri sejak 1962 itu. Apalagi tim sepak bola dari negara kawasan seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura, prestasinya lebih hebat dari Indonesia.
 
Penulis hanya ingin membahas kekalahan beruntun dua kali yang dialami Timnas di babak kualifikasi Piala Dunia 2022 tersebut. Kekalahan di rumah sendiri, di stadion kebanggan yang dulunya membuat ciut nyali pemain lawan setiap melawan Timnas.
 
Ya, SUGBK yang dulunya bernama Stadion Utama Senayan ini seperti kehilangan tuahnya buat Timnas Indonesia. Kini SUGBK seperti menjadi saksi sejarah kekalahan Timnas, oleh lawan yang dulu ketika mendengar nama stadionnya sudah menularkan aura ketakutan.
 
Ditambah, sekarang banyak pemain naturalisasi yang memang kebanyakan mencari makan sebagai pesepak bola di Indonesia mengisi skuat Timnas. Kebijakan federasi, dalam hal ini Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang mengizinkan proses naturalisasi pemain asing yang bermain di liga domestik, justru menurut penulis membuat rasa patriotisme pemain saat bermain di stadion bersejarah tersebut terkikis.
 
Padahal tokoh besar yang kini diabadikan namanya menjadi nama stadion itu sekarang, Bung Karno, dalam manifesto pidato politiknya tahun 1966 berjudul Jas Merah (Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah) sudah mengingatkan bangsa Indonesia. Intinya, semangat patriotik pesepak bola nasional Indonesia harus dikembalikan lagi. Intinya masyarakat rindu legenda seperti Ramang, Sutjipro, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Ronny Patinasarani, Ricky Yakobi dll, yang sudah menorehkan tinta emas.
 
Tanpa mengurangi respek terhadap jerih payah pemain Timnas saat ini yang memang asli orang Indonesia, kehadiran pemain naturalisasi memang sedikit memaksakan kemauan federasi yang ingin sekali meraih prestasi sepak bola secara instan. Nama-nama seperti Cristian Gonzales, pelopor pemain naturalisasi awalnya memang menjanjikan. Gairah suporter Indonesia kembali membuncah di masa masa paceklik prestasi.
 
Awalnya penulis dan sebagian orang mungkin juga mengira, pemain naturalisasi yang mulai mengisi skuat Timnas sejak tahun 2010 itu hanyalah awal untuk menstimulus pembinaan sepak bola lewat kompetisi berjenjang, sehingga akan terbentuk skuat Timnas yang kuat. Tapi siapa nyana, yang terjadi selanjutnya adalah naturalisasi seperti menjadi program keharusan. Dulu juga ada program Primavera dan Baretti di Italia. Kemudian ada juga SAD (Uruguay)
 
Dilalahnya, pelatih Timnas saat ini, Simon McMenemy adalah pelatih pelopor naturalisasi di kawasan ASEAN. Saat melatih Timnas Filipina, Simon memang sukses membuat tim sepak bola yang dulu menjadi bulan bulanan Indonesia sedikit lebih kuat. Bintangnya ada di Younghusband bersaudara, dua pemain naturalisasi Filipina yang pernah bermain di Liga Primer Inggris. Tapi hanya sebatas mengejutkan sesaat. Karena setelah itu prestasi Filipina hanya mencapai semifinal di Piala AFF 2010. Sepeninggal Simon, kini Filipina kembali menjadi tim sepak bola biasa saja.
 
Pertanyaannya adalah, kok bisa federasi (baca PSSI) masih memercayakan pemain naturalisasi untuk menjadi tulang punggung Timnas Indonesia. Bagaimana kalau kebijakan naturalisasi ini terus berlanjut? Kasihan nasib para pemain Timnas di level junior, seperti U16, U19 dan U23, jika pemain naturalisasi masih dijadikan tulang punggung di Timnas.
 
Diperparah lagi, kiprah pemain muda di klub liga domestik (Liga 1, 2 dan 3) juga jarang dimainkan karena terlalu percaya dengan legiun asing. Meski regulasi menyatakan klub harus memainkan pemain muda, hanya saja menit bermainnya juga masih menjadi persoalan.
 
Melihat realita yang terjadi saat ini, sulit rasanya bagi Timnas Indonesia kembali berprestasi, walau cuma jadi juara di kawasan (kecuali level Junior.) Apalagi masih ada kekosongan di tampuk tertinggi organisasi PSSI. Carut marutnya pengelolaan sepak bola di negeri ini, tentu berdampak besar terhadap bibit bibit pesepak bola yang dihasilkan dari roda kompetisi.
 
Masih ingin menggunakan pemain naturalisasi untuk sebuah prestasi? Atau nanti semuanya malah akan menjadi basi. Gimana PSSI? Masih ingin unjuk gigi?
 

(ACF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif