<i>The Red Devils</i> Menatap Kejayaan di Rusia
Momen selebrasi para pemain Belgia usai Lukaku mencetak gol ke gawang Panama (Foto: AFP PHOTO / Odd ANDERSEN)
"ROME WAS NOT BUILT IN A DAY" Pameo ini terasa pas buat menggambarkan tim Belgia di Piala Dunia 2018 Rusia. Jadi, ketika The Red Devils menggilas Panama tiga gol tanpa balas, kita tak usah terkejut karena kualitas tim ini memang ciamik. Namun, coba kita liat ke belakang bagaimana Belgia membangun sebuah kekuatan sepak bola baru di Eropa bahkan di dunia?

Tak semudah membalik telapak tangan. “Melahirkan tim sepak bola berkelas bukan pekerjaan sehari”. Tidak ada yang instan dalam sepak bola.

Dua dekade silam, kehadiran negeri ini di kancah sepak bola nyaris tak dilirik orang. Mereka kalah tersohor dari tetangganya Belanda dan Jerman yang sudah mendunia. Bahkan, saat itu, peringkat FIFA Belgia jeblok di posisi 71. Belgia sempat bikin kejutan ketika mereka menerobos babak final Piala Eropa 1980 di Spanyol dan mampu mencapai peringkat empat Piala Dunia 1986 di Meksiko.


Namun, setelah itu, Belgia terseok-seok dan tak mampu mempertahankan momentum emas saat mereka masih diperkuat nama-nama beken seperti Enzo Scifo, Marc Wilmots, Eric Gerets, Jan Coleman dan kiper Michael Preud Homme. Belgia kembali menjadi tim medioker yang sulit menembus kedigdayaan Jerman, Belanda, Italia, Spanyol dan Prancis.
 

Baca: Sepak Bola Adalah Kita


Kebangkitan baru dimulai memasuki tahun 2000 ketika bersama Belanda, Belgia menggelar Piala Eropa. Tapi, bukan berarti saat itu Belgia sudah punya skuat super. Di turnamen tertinggi di Eropa ini, tuan rumah Belgia justru menanggung malu karena gagal lolos fase grup.

Wind of change pun segera dilakukan oleh Federasi sepak bola Belgia yang mencanangkan program pembinaan secara struktural dalam kurun waktu 10 tahun. Fokus diarahkan pada pembinaan tim usia muda.

Direktur teknik Federasi Sepak Bola Belgia Michael Sablon membuat formula pembinaan usia muda dan diterapkan di semua klub pro dan amatir di Belgia. Dengan pengawasan ketat dari federasi, klub-klub mulai memunculkan talenta-talenta muda Red Devils.

Apakah Belgia langsung menuai sukses dari revolusi di tubuh asosiasi sepak bola? Not yet.

Tahun 2008 mereka tak lolos kualifikasi Piala Eropa. Piala Dunia 2010 Belgia juga gagal berangkat ke Afrika Selatan. Deretan pemain muda belum siap tampil di pentas dunia. Mereka masih mengasah diri di klub masing masing.


(Skuat Timnas Belgia di final Piala Dunia 1980. Foto: soccerfootballwhatever)

Dan, baru ketika Belgia menjadi semifinalis Piala Eropa U 17, The Red Devils memulai kiprahnya dan menunjukkan sebagai dark horse atau kuda hitam di pentas Eropa dan dunia. Dua pelatih yang berjasa mempersatukan para pemain muda berbakat ini adalah George Leekens dan Marc Wilmots.

Sentuhan keduanya meletakkan dasar bermain sepak bola yang efektif dan muncul-lah pada saat itu bintang muda sekelas Christian Benteke, Eden Hazard dan Marouane Fellaini.

Dengar pengakuan Fellaini, gelandang bertahan klub Manchester United ketika ditanya apa resep Belgia bisa menjadi tim yang kuat? "A lot of the squad had played together from a youth level" Mereka telah bermain bersama sejak usia dini.

Pola pembinaan usia dini adalah resep, kenapa Belgia seperti born again di kancah sepak bola. Jawabannya cuma satu "pola pembinaan yang benar sejak usia muda".

Jadi tak usah heran lagi, jika pemain-pemain yang sudah jadi ini dilirik klub klub elite Eropa. Nama seperti Jan Vertonghen, Thomas Vermaelen, Eden Hazard, Moussa Dembele, Romelu Lukaku, Kevin De Byrune menjadi andalan klub-klub Liga Inggris. Beberapa juga bermain di Liga Italia, Spanyol, Jerman dan Prancis. Bahkan, ada juga yang bermain di Liga Tiongkok.

Kerja Keras Melahirkan Hasil Maksimal
Pelatih baru Belgia Roberto Martinez tak sulit buat meracik sebuah tim yang kokoh di semua lini karena bahan-bahannya sudah lengkap. Bahkan, Ia tidak segan mencoret bintang AS Roma, Radja Nainggolan, yang berdarah Indonesia dari 23 pemain yang dibawa ke Rusia.

Dengan skuat bertabur bintang, Roberto Martinez leluasa meramu tim ini. Memang, proyek pembinaan pemain muda dulu, federasi menyeragamkan pola 4-3-3 ke semua klub di Belgia. Tapi, pola itu tidak kaku karena Martinez menerapkan skema 3-4-3 yang lebih menyerang.

Keseimbangan antar lini sangat terjaga karena individu pemain punya skill dan visi sepak bola yang selevel.

Di lini depan, Striker Napoli Dries Mertens bersama “killer” Romelu Lukaku dan disokong Eden Hazard menjadi trisula menakutkan.


(Skuat Belgia saat menghadapi Panama di laga perdana Grup G Piala Dunia 2018. Foto: AFP/Adrian Dennis)

Di lini tengah, terjadi surplus pemain. Namun, pilihan utama jadi milik Yannick Ferreira Carascao, Kevin De Bryune, Axel Witsel dan Thomas Meunier.

Untuk tiga palang pintu di lini belakang, Martinez mempercayakan pada Jan Verthongen, Toby Alderweireld dan Dedryck Boyata karena Vincent Kompany masih dililit cedera. Untuk pejaga gawang pilihan utama tetap pada kiper Chelsea Thibaut Courtois.
 

Baca juga: Profil Tim Belgia


Hasilnya, tim besutan Martinez tampil prima serta solid untuk mengalahkan Panama 
3-0 di laga pertama Piala Dunia Rusia, sekaligus memberi secercah harapan pada publik sepak bola Belgia jika tim ini bisa membuat sejarah.

Bukan saja mengulang prestasi seniornya di era 80an tapi melebihi mereka, yaitu memboyong trofi Piala Dunia pertama ke Belgia. Jika itu terjadi –masih terlalu dini— tak pelak negeri ini bukan hanya punya coklat terlezat  dan terkenal di dunia, tapi juga punya tim sepak bola yang masuk daftar elite dunia sejajar dengan Jerman, Spanyol, Italia dan Prancis.

Petualangan Belgia di Piala Dunia ibarat cerita komik  legendaris "The Adventures of Tintin" yang dibuat oleh kartunis Belgia, Georges Remi. Kevin De Bryune dan kawan-kawan seperti sosok Tintin yang sedang melakukan petualangan sepak bola di Rusia demi meraih apa yang mereka impikan.

Kita tunggu petualangan mereka selanjutnya saat berjumpa Tunisia (23/6) lusa dan big match kontra The Three Lions Inggris (29/6) sambil menyeruput hangatnya susu coklat Belgia yang terkenal itu.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad




(ACF)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id